Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part (90)


__ADS_3

Plakk!


Satu tamparan mendarat tepat di pipi kanan Zain. Daddy yang berdiri di dekat Mommy terlihat terkejut. Pria paruh baya itu tidak menyangka reaksi istrinya akan semenakutkan itu setelah Zain mengatakan alasan Yuna meninggalkan rumah.


Plakk!


Satu tamparan kembali mendarat di pipi kanan Zain, ia merasakan perih di bagian pipi kanannya namun Zain tidak berani berontak. Walau Mommy membunuhnya, Zain tetap tidak akan berani mengeluh karena ia tahu ia melakukan kesalahan fatal. Kesalahan yang tidak termaafkan karena berani meragukan istri berharganya.


Plakk!


Tamparan ketiga kembali mendarat di bagian pipi yang sama, pipi kanan Zain. Kulit putihnya berubah memerah, nampak jelas bekas tangan mommy di wajahnya.


"Enough, Mom. Enough." Daddy berusaha menahan tangan istrinya yang ingin mendaratkan kembali tamparannya. Bagi wanita paruh baya itu, tiga tamparan tidak ada apa-apanya, ia terlalu marah sampai sekujur tubuhnya bergetar.


"Biarkan Mommy melakukan apa pun yang ingin Mommy lakukan, Dad. Aku baik-baik saja. Aku mengaku salah." Ucap Zain dengan kepala tertunduk, pria pemilik iris biru itu tak bisa menghentikan air matanya. Ia terlalu sedih sampai tidak bisa mengendalikan perasaannya.

__ADS_1


"Hiks.Hiks." Tangis Mommy pecah, ia memukul dada Zain dengan amarah membuncah. Daddy yang berdiri di samping Mommy terlihat tak berdaya. Pria paruh baya itu juga tahu putranya bersalah karena itu ia tidak mau lagi menghentikan istrinya.


"Pukul Zain, Mom. Zain mengaku salah karena itu Yuna meninggalkan Zain." Aku Zain sambil menatap mata berair Mommy-nya.


"Iya, kamu salah Zain. Sangat salah." Mommy berteriak, teriakannya seakan menggetarkan seluruh dinding mansion yang ia tinggali.


Daddy hanya bisa menghela nafas kasar mendengar teriakan istri salihanya. Tiga puluh tahun pernikahan, untuk pertama kalinya ia melihat istrinya semarah itu.


"Apa yang ada dalam otak mu sampai berani menuduh menantu Mommy sekejam itu, hah?" Tanya Mommy dengan sura bergetar.


"Sayang, hentikan. Jangan marah lagi, semuanya sudah terjadi." Ucap Daddy mencoba mengingatkan.


"Ini belum cukup, Dad. Zain harus tahu, pria bodoh ini telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Berani sekali dia meragukan menantu Mommy."


Zain berusaha mengatur kondisi hatinya, membayangkan wajah tersenyum Yuna membuatnya bisa menahan kemarahan Mommy-nya.

__ADS_1


"Temukan menantu Mommy secepatnya. Jika kamu tidak bisa membawa Yuna kembali, jangan pernah injakkan kakimu di rumah Mommy lagi." Sentak Mommy sembari menunjuk Zain dengan kemarahan yang masih memenuhi seluruh pori-pori tubuhnya. Wanita paruh baya itu meninggalkan Zain dan suaminya setelah ia mengeluarkan seluruh amarahnya. Ia berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua, menaiki anak tangga secara perlahan dengan kekhawatiran penuh pada menantu tersayangnya, Yuna Dinata.


"Maafkan Mommy mu, nak. Daddy berdoa semoga kau bisa menemukan Yuna dengan segera." Ucap Daddy sembari menepuk pundak Zain, ia berusaha menguatkan putranya dengan ucapan singkatnya, berharap akan bisa mengurangi kesedihan yang di derita putra berharganya. Setelah mengucapkan isi hatinya, Daddy pun meninggalkan Zain, kemudian menyusul istrinya di kamar.


Zain kembali menghela nafas kasar, ia tidak bisa menebak kemana istri cantinya pergi karena yang ia tahu, Yuna tidak mengenal siap pun di Thailand. Satu-satunya cara, ia akan menyewa detektif terbaik untuk menemukan istri berharganya.


"Ben, hubungi detektif andalan kita. Minta mereka mencari istriku. Apa pun resikonya, aku harus menemukan istriku." Ucap Zain dengan penuh penekanan. Zain melangkahkan kakinya, namun otak cerdasnya memikirkan ucapan Yuna saat perdebatan mereka.


"Ada apa tuan? Apa tuan punya gambaran tentang keberadaan nyonya?" Ben bertanya karena melihat Zain menghentikan langkah kakinya.


"Tidak. Aku hanya memikirkan ucapan Yuna sebelumnya. Aku akan mengirimkan E-mail, minta detektif memeriksanya untuk ku. Segera laporkan padaku setelah kau mendapatkan jawabannya." Pinta Zain pada Ben yang berdiri di belakangnya.


Ben mengangguk, ia kembali berjalan dan mengikuti langkah tuannya. Dalam hati ia berdoa semoga istri tuannya segera di temukan, dengan seperti itu senyuman menawan tuannya akan kembali lagi.


...***...

__ADS_1


__ADS_2