
Flashback.
Tiga jam yang lalu Yuna berencana akan keluar dari kamar Zain sambil membawa air matanya.
Sedih!
Tentu saja Yuna masih merasakan itu. Bagaimana tidak sedih, potret mantan pacar Zain sebesar pintu terpampang dengan indah di sudut kanan dekat ranjang. Walau tidak ingin menatapnya, tetap saja netra Yuna selalu mengarah kesana, ia merasa seolah kalah dari mantan pacar suaminya yang telah tiada beberapa bulan yang lalu. Bukankah itu konyol? Iya, itu memang konyol. Sayangnya Yuna memang merasa seperti itu. Ia merasa buruk, ia juga merasa menyedihkan.
Baru saja Yuna akan melangkahkan kaki keluar dari pintu, netranya kembali menatap kearah nakas. Keningnya berkerut, ia penasaran, entah kenapa kakinya tidak bisa ia hentikan untuk tidak melangkah kearah nakas.
"Ada apa ini? Kenapa aku merasa deg-degan!" Celetuk Yuna sambil menghapus sudut mata dengan punggung tangannya.
"Apa Prof.Zain menyembunyikan sesuatu disana? Tapi apa? Kenapa aku merasa hidup ku akan berakhir jika aku sampai mengetahui hal tersembunyi di balik laci itu?" Cicit Yuna lagi, ia mengusap wajah cantiknya kasar. Berharap resahnya akan menghilang dan kekhawatiran yang ada di hatinya tidak akan menghentikan langkahnya untuk mencari tahu kebenaran.
"Maafkan aku Zain, aku tidak bermaksud menjadi mata-mata, dan aku pun tidak ingin melukai mu. Aku hanya ingin mencari tahu alasan di balik ucapan Ploy Nan." Perlahan Yuna membuka laci, terlihat ada beberapa surat penting di sana.
__ADS_1
Yang paling mencuri perhatian Yuna, di laci itu terdapat amplop putih yang Yuna tahu merupakan laporan dari rumah sakit terbaik di Thailand. Perlahan, Yuna meraih amplop itu dan membukanya sambil duduk di ranjang besar milik Zain.
"Ayo, buka mulut Mu!"
"Aaa...."
Lamunan Yuna tentang kejadian tiga jam yang lalu berubah menjadi kepingan-kepingan kecil saat Zain menyentuh pundaknya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya memegang sendok yang siap ia masukkan kedalam mulut Yuna.
"Sayang, kenapa melamun?"
"Enak."
"Rasanya lebih enak saat tangan orang yang kita cintai menyuapi." Cicit Yuna sembari tersenyum manja. Sekuat tenaga ia berusaha menyembunyikan kesedihan yang masih menyelimuti lubuk hati terdalamnya.
Sungguh, rahasia besar yang Zain berusaha sembunyikan membuat sekujur tubuh Yuna merasakan kelu. Kepada siapa ia akan kenceritakan beban ini? Ini lah alasannya kenapa seseorang tidak boleh terlalu ikut campur dalam urusan orang lain, selalu saja ada luka dan derita yang akan membayangi hububungan itu. Walau tahu kenyataannya seperti itu, Yuna sama sekali tidak menyesali perbuatannya, justru ia merasa semakin menghormati seorang Zain De Lucca karena selalu menjaganya.
__ADS_1
"Sayang...!"
"Mmm!" Balas Yuna singkat, ia menggenggam tangan Zain erat. Sangat erat sampai Zain sendiri tidak akan bisa melepaskan dirinya dari pesona seorang Yuna Dinata.
"Kapan Kakak ipar akan datang? Jujur, aku sangat merindukan jagoan kecil kita." Zain tersenyum sembari membayangkan wajah tampan keponakan kecilnya.
"Apa kau menyukai anak-anak?" Yuna memberanikan diri untuk bertanya, padahal ia tahu ia akan kecewa setelah mendengar jawaban suaminya.
"Sangat!" Jawab Zain sambil tersenyum bahagia.
"Jika kau sangat menyukainya, kita bisa merencanakan untuk memiliki anak. Bagaimana, apa kau setuju?" Pertanyaan jebakan, Yuna sengaja melakukan itu. Ia hanya ingin Zain jujur padanya sehingga mereka bisa kerumah sakit bersama.
Tanpa di duga, wajah tersenyum Zain berubah masam. Bahkan sendok berisi makanan yang akan ia suapi untuk Yuna terlepas dari genggamannya. Ucapan Yuna terdengar sederhana, namun tidak seperti itu bagi Zain. Semua ini bagai mimpi buruk dalam kehidupannya, dan ia tidak ingin Yuna menderita lagi. Apakah perpisahan jalan satu-satunya? Semua ini terasa menyesakkan dada. Dan Zain ingin mengakhiri segalanya.
...***...
__ADS_1