
Zain yang masih merasakan kesedihan mendalam duduk di atas ranjang sembari meremas amplop yang ada di tangan kirinya. Semua masalah bersumber dari amplop laknat itu, dan semua kebahagiaan yang ia impikan bersama Yuna sirna gara-gara laporan singkat itu.
"Aku membenci Mu Zain. Aku sangat membenci Mu." Maki Zain pada dirinya sendiri, air matanya masih menetes. Hatinya hancur. Ia benar-benar merasakan kesedihan mendalam sampai ia berpikir kematian akan jauh lebih baik dari pada hidup di penuhi bayangan hitam seperti yang ia alami saat ini.
Flashback on.
Di sebuah hotel mewah yang ada di Jakarta tempat Zain menginap bersama Yuna setelah resepsi pernikahan mereka.
Malam pertama, Zain lalui hanya dengan memberikan pelukan hangat dan kecupan singkat di puncak kepala istrinya, Yuna Dinata.
Zain tidak berani meminta lebih di malam pertama pernikahan mereka, karena Zain tahu Yuna terlalu kelelahan sama seperti dirinya yang merasakan kelelahan setelah melakukan segudang rutinitas yang harus mereka lakukan selama prosesi berlangsung.
__ADS_1
Dua jiwa yang sebelumnya bertentangan kini telah di persatukan oleh Tuhan dalam Mahligai nan suci yang di sebut, pernikahan. Apa lagi yang lebih baik dari ini? Saking bahagianya, Zain bahkan sampai tidak bisa berkata-kata. Semalaman Ia hanya bisa menatap wajah pulas istrinya yang kelelahan dan memilih berbaring di ranjang beralaskan tangan sebagai bantalan.
Zain terlalu mengagumi kecantikan istrinya sampai lupa pada semua hal yang ada di sekitarnya, rasanya ia tidak ingin momen indah ini berakhir dalam satu kedipan mata. Karena itulah Zain memutuskan untuk tetap terjaga.
"Kau tidak tahu, betapa aku sangat mencintai-Mu!"
"Hadir Mu di dalam hidup ku laksana mentari yang menghangatkan di musim dingin."
"Terima kasih telah memilih ku menjadi bagian dari hidup Mu! Akan ku pastikan untuk selalu membuat Mu bahagia seumur hidup ku." Celoteh Zain dengan hati berbunga-bunga. Ia tahu Yuna tidak akan bisa mendengar ungkapan hatinya karena itulah ia terus bicara. Sedetik kemudian, Zain kembali melayangkan kecupan singkatnya di kening mulus seorang Yuna Dinata dengan lelehan air mata.
"Kepala ini hanya boleh memikirkan satu nama, yakni Zain De Lucca." Ujar Zain setelah ia melepaskan bibirnya dari kening mulus istrinya. Mendapat perlakuan hangat dari suaminya, Yuna nampak sedikit bergerak. Perlahan, Zain kembali melayangkan kecupannya, kali ini di mata kanan istrinya, kemudian beralih menuju kemata kirinya.
__ADS_1
"Aku ingin mata indah ini hanya menatapku." Ucap Zain lagi setelah melepaskan kecupan singkatnya. Kini Seorang Zain De Lucca beralih meninggalkan jejak bibirnya di pipi kanan dan kiri istrinya, dengan bangga ia ingin memberikan tanda di sana agar semua orang tahu bahwa ia pria beruntung karena telah mendapatkan wanita tercantik dan terbaik di semesta, Yuna Dinata.
"Aku telah menandai seluruh wajah cantik ini dengan warna cinta Ku. Sehingga dunia tahu bahwa kau hanya milik seorang Zain De Lucca." Celoteh Zain dengan bangga karena ia telah mencium bagian terindah di wajah cantik istrinya. Dan dengan wajah memamerkan senyuman menawah, Zain kembali mendaratkan satu kecupan di bibir selembut kapas milik Yuna Dinata. Cukup lama ia berada dalam posisi mengecupi bibir istrinya, entah kenapa air matanya kembali menetes, ada perasaan sedih sekaligus bahagia mulai memenuhi rongga dadanya.
"Aku Juga memberi Mu tanda di bibir ini. Berharap bibir ini hanya akan menyebut nama ku seumur hidup Mu." Ucap Zain sambil mengusap bibir merah merona istrinya. Entah selelah apa Yuna malam ini sampai ia tidak menyadari Zain menyusuri setiap inchi wajah cantiknya dengan ciuman. Jika Yuna tahu, ia pasti akan merasa malu.
Fokus Zain teralihkan saat ia mendapati ada E-mail masuk di ponselnya. Ia meraih ponsel itu dan membaca pesan yang tertera di dalamnya. Bagai di sambar petir di siang bolong, seluruh impian manis yang Zain rancang jauh sebelum pernikahan hangus hanya karena laporan medis yang ia terima dari rumah sakit terbaik di Thailand. Berita duka. Ini benar-benar lebih buruk dari kematian untuk seorang Zain De Lucca.
HIV (Human Immunodeficiency Virus)? Zain di ponis menderita HIV dan itu telah menghancurkan jiwa dan raganya.
...***...
__ADS_1