Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part (103)


__ADS_3

Love is a choice you make from moment to moment.


Cinta merupakan pilihan yang kita buat, kemudian kita pun putuskan sendiri antara memilih bertahan atau menyerah pada satu hati. Ketika hati mulai terbuai pada pesona indah yang terpancar dari sosok yang di kagumi, maka dengan segala cara hati itu akan menemukan jalannya agar bisa bersama dengan sosok yang mengalihkan fokusnya. Dan itulah yang Zain lakukan selama sembilan bulan ini. Dunianya hanya ber fokus pada Yuna Dinata. Di pagi hari saat ia mulai membuka mata, yang di cari netranya hanya Yuna. Dan saat ia tertidur, di dalam mimpinya hanya ada Yuna saja, mungkin benar yang di katakan orang kalau hidup tanpa cinta bagai taman tak berbuga, atau tepatnya hidup terasa hambar tanpa ada pasangan di dekatnya.


Sembilan bulan berlalu sejak Mommy mengancam Zain, bahkan tanpa di ancam pun pria itu akan selalu berada di samping istri berharganya, apa lagi saat ini ia sedang menantikan kedatangan buah hati mereka, sembilan bulan itu terasa bagai tujuh kehidupan, Zain bahkan sudah merencanakan akan melakukan apa saja dengan anaknya nanti.


"Sayang, maaf." Zain berucap sembari memijit kaki Yuna yang sepakan ini tiba-tiba membengkak. Ia menatap netra teduh Yuna dengan mata berkaca-kaca. Ada bahagia ada juga sedihnya.


"Aku tidak tahu mengandung akan seberat ini. Setiap malam Yuna ku tidak bisa bergerak dengan leluasa. Bukan hanya kesulitan bergerak, kehamilan ini membuat Yuna ku berada dalam kepayahan." Zain merunduk, tangannya di kaki Yuna bergerak dengan lambat.


"Tak perlu minta maaf, aku bahagia dengan semua ini." Yuna memegang pundak Zain, bibir tipisnya mengukir senyuman menawan. Yuna tidak berbohong, ia sangat bahagia sejak mengetahui di dalam dirinya ada kehidupan lain.


"Aku memang tidak bisa berjalan secepat dulu, bahkan jika ada ular di bawah kakiku, aku akan menginjaknya karena aku tidak bisa melihatnya. Tapi kau tahu apa yang lebih membahagiakan bagi kami para wanita?" Yuna bertanya, ia menangkup wajah murung Zain.

__ADS_1


"Setiap yang kami lakukan adalah ibadah. Melayani suami, ibadah. Saat mengandung, ibadah. Saat melahirkan, menyusui, menyampih, dan merawat anak-anak kami, semua itu terhitung sebagai ibadah.


Dan kau tahu apa lagi keutamaan seorang wanita? Rasulullah bersabda agar bakti setiap anak lebih di dahulukan kepada ibunya di banding dengan ayahnya. Kau tahu kenapa? Karena wanita itu mulia, dia berharga, dan dengan ridonya seorang anak bisa mendapatkan surga.


Dan aku tahu segala kebaikan itu akan aku dapatkan selama aku ikhlas menjalani semuanya. Lalu bagaimana aku bisa mengeluh untuk semua kebaikan itu?" Yuna mengangkat dagu Zain, ia menatap netra biru itu dengan tatapan penuh cinta.


Tidak ada balasan dari Zain selain rasa bangga pada istrinya. Ia mengecup puncak kepala Yuna kemudian menyelipkan anak rambut Yuna di belakang telinga.


"Aku janji akan menjaga Umma dengan baik, tidak akan menyusahkannya hingga Baba pulang." Kali ini Yuna meniru suara anak lecil, ia menggenggam erat jemari Zain. Senyum manis dan pesona indah Yuna Dinata selalu berhasil menggetarkan dada seorang Zain De Lucca.


Tergoda! Perasaan seperti itu yang selalu Zain rasakan saat berhadapan dengan Yuna, tergoda dengan istri sendiri itu karunia luar biasa, berbeda jika tergoda pada pemilik hati lainnya, itu baru di namakan dengan musibah besar berlapis kebahagiaan sesaat tiada manfaat.


"Apa Umma yakin aku bisa pergi, sekarang?" Zain bertanya, namun hati dan pikirannya mencegahnya untuk pergi. Kakinya terasa berat untuk melangkah.

__ADS_1


"Mm!" Balas Yuna singkat.


Zain kembali melayangkan kecupan hangatnya di puncak kepala Yuna. Setelah itu ia benar-benar meninggalkan Yuna sendirian di kamar mereka yang berada di dekat tangga.


"Ben, informasi yang kau dapatkan tentang klien yang akan kita temui siang ini apa sudah valid? Aku tidak mau mengambil resiko, apa lagi sampai bekerja dengan mafia." Zain bertanya begitu ia tiba di pintu depan.


Aaaaa!


Baru saja Zain berada di depan pintu, langkah kakinya terhenti setelah mendengar teriakan keras yang bersumber dari area kamarnya. Dan Zain yakin itu suara Yuna.


Bagai di sambar petir di siang bolong, tubuh Zain membeku, ia ketakutan, dan dengan sekuat tenaga ia mulai berlari menuju kamarnya di ikuti oleh Ben di belakangnya. Jangan tanya lagi seberapa besar rasa takutnya, ketakutan terpancar dengan jelas di wajah tampan Zain yang terlihat mulai memucat.


...***...

__ADS_1


__ADS_2