Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part (59)


__ADS_3

"Aku tidak pernah bertemu dengan seseorang yang lebih buruk selain dirimu. Kau tidak hanya kasar, kau juga menakutkan." Cecar Yuna sambil menunjuk Ploy yang sedang tersenyum licik untuk menyembunyikan kekesalannya.


"Aku yakin, baik Aroon atau Zain tidak tahu kalau kau wanita yang sangat menakutkan."


"Jika mereka tahu, mereka tidak akan mau berteman dengan mu. Bukan, begitu Nona Ploy Nan?" Yuna yang terlanjur kesal terpaksa membawa-bawa nama Zain dan Aroon. Dan benar saja, mendengar dua nama itu membuat amarah Ploy semakin tersulut. Yuna yang malang, ia tidak tahu kalau dirinya sedang menambahkan minyak kedalam api.


"Aku sudah cukup mendengar omong kosong mu. Kau itu tidak ada apa-apanya jika di bandingkan denganku. Jadi, saran ku simpan ucapan tidak bergunamu dan mulailah bersiap, kehancuranmu di mulai dari hari ini."


Ancaman! Itulah yang sedang Ploy Nan lakukan. Wanita itu tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. Dua tahun yang lalu, ada seorang aktris pendatang baru yang mencoba menyaingi karirnya, tidak ada yang tahu kemana wanita itu menghilang, dua bulan setelah namanya di elu-elukan oleh semua rakyat Thailand, entah kenapa karirnya mulai meredup oleh gosip murahan yang belum terbukti kebenarannya dan tidak di ketahui sumbernya.

__ADS_1


Dan Hari ini, Ploy Nan dengan segala kebenciannya mencoba mengancam Yuna, hanya Tuhan yang tahu akan seperti apa kesulitan yang menunggu di depannya. Namun bukan Yuna namanya jika harus takut oleh ancaman, karena ia tahu, segala sesuatu yang ada di semesta ini tidak akan pernah bisa menyakitinya tanpa kehendak Tuhannya, Allah.


Yuna tersenyum.


Ia balas meledak Ploy Nan.


"Kau berurusan dengan orang yang salah. Jika kau mengancamku untuk membuktikan betapa besar kuasamu, maka akan ku katakan. Aku tidak pernah takut padamu. Apa kau paham?" Yuna tidak ingin bernafas di bawah atap yang sama bersama Ploy Nan. Karena itulah ia langsung keluar dari Toilet setelah mengatakan semua hal yang ingin ia katakan.


Lima menit kemudian Yuna sudah berdiri di depan Zain. Sebisanya ia menepis kekesalan yang memenuhi rongga dadanya. Bagaimana tidak kesal jika wanita sekelas Ploy akan selalu berkeliaran di samping suaminya. Membayangkan wanita itu tersenyum penuh kepalsuan membuatnya ingin muntah.

__ADS_1


"Tii-rak, apa kau sudah membayar semua barangnya?" Yuna bertanya sambil menyodorkan air mineral yang sudah ia buka tutup botolnya. Zain membalas Yuna dengan anggukan kepala pelan, tangannya mengambil air mineral dari tangan Yuna namun bibir indahnya menyunggingkan senyuman. Jujur, melihat senyuman menawan Zain membuat hati Yuna bertebar kencang.


Wanita secuek diriku saja bisa jatuh dalam pesona mengagumkan seorang Zain De Lucca. Lalu wanita sekelas Ploy Nan? Aahhh, aku tidak ingin menyebut nama itu. Aku tidak menyukainya. Yuna bergumam di dalam hatinya sembari mengagumi maha karya luar Biasa Tuhan yang ada di depannya, Zain De Lucca pria luar biasa dengan berjuta-juta pesona indah yang sanggup menggetarkan jiwa.


"Ayo, kita pulang sekarang. Aku merindukan keponakan tampanku." Ucap Yuna lagi sambil mengulurkan tangannya pada Zain.


Tentu saja Zain langsung menerima uluran tangan wanitanya, bisa sedekat ini dan menghabiskan waktu bersama membuat ikatan mereka semakin kuat. Cinta memang seperti itu, ia harus di siram dengan air kebersamaan dan kepercayaan sehingga cinta itu tidak akan mudah layu.


Ciih... Wanita itu mencoba mengancamku. Aku tidak perduli dengan dua pekan yang ia sebutkan. Aku juga tidak pernah takut padanya. Zain milikku, hanya milikku. Dan aku akan selalu menjaga hubungan ini sampai kapanpun. Batin Yuna sambil mempererat genggaman tangannya di jemari Zain. Ia meninggalkan Butiq dengan perasaan bahagia. Dan tanpa ia sadari, dari sudut tak terlihat sosok Ploy Nan sedang menatapnya dengan tatapan setajam belati seolah tatapan itu sanggup menguliti lawannya hidup-hidup.

__ADS_1


...***...


__ADS_2