
Apartemen yang di tinggali Zain dan Yuna terasa hening, untuk sekian menit mereka larut dalam perasaan masing-masing. Bahkan Zain yang biasanya bersikap dingin dan ketus tampak bahagia. Mereka saling berpelukan, mengekspresikan perasaan yang cukup lama terpendam.
Iya, cukup lama. Karena semenjak mereka tiba di Thailand, sekalipun, Zain tidak pernah membicarakan masalah cinta, terkadang mereka berdebat untuk urusan kecil kemudian akan berkhir dengan tak saling bicara.
"Selama ini, kau terlalu banyak bicara. Terkadang kau melarangkan untuk setiap hal kecil. Aku tidak suka itu. Dan sekarang giliranku untuk bersikap manja. Apa aku tidak punya hak untuk itu?" Yuna berbisik di telinga Zain. Matanya tertutup, merasakan setiap kelembutan yang membelai seluruh pori-pori tubuhnya.
"Aku berhak atasmu, dan kau pun berhak atas diriku. Biarkan seperti ini, sebentar saja. Jangan katakan apa pun yang akan membuatku terluka karena kau akan menyesalinya." Sambung Yuna lagi, Ia mengeratkan pelukannya di tubuh kekar Zain. Bagai di hipnotis, Zain terdiam, Ia mengikuti ucapan Yuna dan tak banyak pergerakan yang dia lakukan agar Yuna merasakan kenyamanan.
__ADS_1
"Cintaku tulus padamu, dan jika kau pernah mencintaiku walau sejenak saja, jangan katakan apa pun untuk hari ini, biarkan hati dan tubuh kita yang bicara." Yuna kembali berbisik di telinga Zain. Perlahan, Ia bergerak kemudian mendaratkan kecupan singkatnya di pipi kanan Zain. Baru saja Zain ingin membuka suara namun dengan cepat Yuna menahan bibir indah itu dengan jari telunjuknya. Zain yang terlanjur menikmati momen indah yang di suguhkan Yuna hanya bisa menerima tanpa ada bantahan. Kapan lagi dia bisa melihat ekspresi genit istrinya saat merayu dirinya, siapa pun yang berada dalam posisi Zain De Lucca tidak akan melewati moment ini, karena ini terlalu indah untuk di lewati oleh orang normal.
"Aku tidak pernah berpikir akan menikah secepat ini. Namun denganmu aku sanggup mengulang moment itu seumur hidupku. Entah aku yang jatuh cinta padamu, atau kau yang jatuh cinta lebih dulu, bagi kita itu sama saja. Karena kau dan aku adalah kita.
Kita yang memiliki pandangan yang sama, dan kita yang akan selalu berbahagia dengan semua yang kita punya. Hari ini ku tegaskan, bahagiaku ada bersamamu. Terima kasih karena kau menjadikanku bagian dalam hidupmu!" Kali ini, Yuna mendaratkan ciumannya di pipi kiri Zain. Tanpa Yuna sadari, Zain mulai lunak dalam ucapan sederhana yang berhasil menghangatkan hati seorang Zain De Lucca.
Zain Dan Yuna saling menatap dalam diam, namun tatapan mereka menjelaskan betapa besar cinta yang terlibat di dalamnya. Dan detik ini Yuna semakin berani, Ia ingin mengunci bibir Zain dengan bibir tipisnya. Sayangnya, Ia harus kecewa, Zain buru-buru menahan gerakan Yuna dan memundurkan kepalanya.
__ADS_1
"Kenapa? Apa cintamu mulai memudar?"
"Untuk berapa lama kau akan melakukannya?"
"Kau tidak akan berhasil menghindariku Prof.Zain, karena mata, hati dan pikiranmu hanya tertuju kepadaku! Apa aku salah? Katakan jika aku salah?" Yuna bertanya dengan suara lemah lembut, Ia kembali memeluk Zain, dari belakang.
Zain yang di perlakukan dengan manis rasanya ingin menangis, Ia juga ingin membalas perlakuan yang sama terhadap Yuna. Sayangnya, nuraninya tidak membiarkannya melakukan itu. Dengan paksa dan dengan terpaksa Zain melepas kedua lengan Yuna yang masih melingkar di tubuh kekarnya.
__ADS_1
Bagaimana aku bisa mengatakan alasanku melakukan semua ini. Kau akan terluka, dan akupun akan hancur karena kehilangan dirimu. Zain bergumam di dalam hatinya sambil menghapus sudut mata dengan punggung tangannya. Dan dengan terpaksa pula, Zain meninggalkan Yuna untuk masuk kedalam kamarnya, Ia meninggalkan gadis sempurnanya dengan meninggalkan tanda tanya, tanda tanya karena tidak menjelaskan akar masalahnya.
...***...