Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part (102)


__ADS_3

Mommy memaafkan mu karena Yuna yang memintanya. Ingat Zain, jika kau berani melakukan hal yang sama lagi, kau harus siap-siap menanggung akibatnya, Mommy tidak perduli kau putra Mommy atau orang asing. Zain berdiri dalam gelapnya malam sembari mengingat ancaman Mommy-nya siang tadi. Saat wanita paruh baya itu bertekad, maka tidak ada yang bisa mencegahnya.


"Hm!" Zain menghela nafas, ia merasa sesak. Walau Yuna sudah memaafkannya namun tetap saja ucapan buruk yang sudah ia lontarkan masih terasa menyakitkan untuk dirinya yang tidak berguna.


"Tuhan, kenapa aku melakukannya? Dan kenapa kau tidak mencegahku? Aku merasa muak pada diriku sendiri. Walau aku tidak mengatakannya di depan siapa pun, kau tahu perasaanku. Hidupku segelap langit malam ini." Ucap Zain lirih, ia tidak tahu sosok yang sangat ia cintai berada tepat di belakang punggungnya dan mendengar setiap ucapannya.


"Tidak perlu di pikirkan. Semuanya sudah berlalu dan aku sudah melupakan peristiwa itu." Ucap Yuna sembari menyampirkan selimut tebal di tubuh jangkung Zain De Lucca, ia memeluk prianya dari belakang, sangat erat.


"Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku, dan aku melupakan kesalahanmu dengan kekuatan cinta itu. Apa kau tahu?" Yuna menutup matanya, ia mengecup punggung Zain, mencium aroma tubuh prianya selalu saja membawa ketenangan bagi hati dan pikirannya.


"Aku jatuh cinta padamu sesaat setelah kau menyematkan cincin di jari manis ku. Dan mulai saat itu aku berjanji akan selalu menyertaimu dalam setiap langkahmu.

__ADS_1


Aku bahkan bertekad akan selalu mengikutimu laksana bayangan yang tidak pernah jauh darimu. Aku hanya berdo'a semoga kau tidak muak padaku lalu meninggalkanku, karena aku tidak akan sanggup menanggung sakitnya di tinggalkan.


Aku hanya ingin menikah sekali seumur hidupku. Aku ingin bahagia seperti Mama dan Papa, aku juga merindukan rumah tangga yang sempurna seperti kak Shawn dan kakak ipar Raina. Apa aku berharap terlalu banyak?" Yuna semakin mengeratkan pelukannya, kedua lengannya melingkar dengan sempurna di pinggang Zain De Lucca.


"Aku yang terlalu beruntung, entah kebaikan apa yang telah ku lakukan sampai Tuhan sangat baik padaku. Bisa bersama Bidadari sempurna seperti Yuna Dinata adalah karunia terbesar di dalam hidupku." Ujar Zain sambil melepaskan tangan Yuna yang melingkar di pinggangnya, ia menarik Yuna untuk berdiri di depannya. Kini giliran Zain yang memeluk Yuna dari balakang, Zain menutupi tubuh mereka dengan selimut yang di bawa Yuna. Kini mereka merasakan kehangatan, saling memeluk di bawah langit yang gelap gulita tanpa cahaya bintang atau pun rembulan, dan di temani oleh angin yang menyejukkan.


"Bukan Yuna ku yang akan mengikutiku seperti bayangan, tapi aku yang akan menempel padanya seperti permen karet." Ucap Zain sambil berbisik, ia mencium pundak Yuna.


"Apa tidak masalah jika aku selalu menempel padamu?" Zain bertanya, ia menyelipkan anak rambut Yuna di telinga. Angin malam ini membuat rambut Yuna tak bisa diam. Zain merasa geli karena rambut Yuna terus saja mengenai wajah tampannya.


"Thanks honey." Zain berucap setelah melepas tautan bibirnya, ia menempelkan hidungnya di hidung bangir milik Yuna Dinata.

__ADS_1


"Untuk?" Yuna bertanya karena ia tidak paham ucapan Zain yang terus berterima kasih sejak pagi.


"Everything." Balas Zain singkat. Ia berlutut, ia memeluk Yuna sambil duduk. Mensejajarkan kepalanya di perut Yuna yang mulai terlihat berisi.


"Honey, what are you doing?" Yuna berusaha membantu Zain berdiri namun pria itu kekeh pada pendiriannya.


"Nak, katakan pada Umma kalau Baba juga merindukanmu. Baba juga ingin mendengar detak jantung mu." Zain mulai bicara di depan perut Yuna, sesekali ia mengusap perut berisi istri cantiknya. Yuna yang mendengar hanya bisa tersenyum tipis.


"Cepat keluar, nak. Baba ingin memeluk mu, Baba ingin bermain bersama mu. Baba janji Baba akan menjadi ayah terbaik dan suami yang baik untuk Umma mu." Ucap Zain pelan, ia mencium perut Yuna dengan lelehan air mata. Ia bahagia, sangat bahagia sampai tidak bisa menahan derai air matanya. Lihatlah, betapa anehnya air mata, ia keluar di saat sedih, ia juga keluar di saat kita bahagia.


Yuna berlutut, ia memeluk Zain, ia juga menghapus air mata Zain dengan jemari hangatnya.

__ADS_1


The greatest gift you can give someone is your time, your attention, your love, your concern.


...***...


__ADS_2