Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part (93)


__ADS_3

"Akhirnya kita bertemu." Zain menyunggingkan senyuman sepahit empedu, siapa pun yang menatap wajahnya akan menyadari kalau pria pemilik iris biru itu sedang berenang dalam lautan api. Api yang setiap saat bisa saja membakar semua lawannya.


"Aku bukan pria yang bisa kau tipu dua kali." Zain berucap dengan suara berat, giginya bergemeletuk menahan amarah.


Wanita itu!


Wanita yang di bawa detektif terlihat menahan tangis. Matanya mulai memerah, tubuh rampingnya bergetar. Gaun ungu yang ia pakai terlihat kusut, Zain yakin orang suruhannya berhasil membawa wanita itu dengan paksa.


"Bagaimana kabarmu?"


"Aku yakin kau baik-baik saja. Melihat pakaian yang kau gunakan, aku yakin kau sedang berpesta saat anak buah ku menyeret mu ke hadapan ku. Apa aku salah?" Walau amarahnya hampir meledak, bagusnya Zain masih bisa mengendalikan dirinya.


Wanita itu laksana kaca, kau bisa tahu kami bahagia atau tidak karena hal itu tergambar dengan jelas di wajah kami. Wanita itu laksana kaca, jika kau tidak berhati-hati maka kau tidak akan bisa memperbaiki retakannya. Wanita itu berharga maka muliakanlah mereka tak perduli seberapa buruk kondisinya. Wanita itu indah maka buat ia selalu bahagia agar kau bisa melihat betapa indah dan menenangkan senyumannya. Wanita itu berharga, lebih berharga dari perhiasan dunia. Hormatilah wanita siapa pun dia. Jangan pernah gunakan tanganmu untuk menyakiti kulit mulusnya, dan jangan gunakan lidah mu untuk mengiris hati wanita dengan kata-kata kasar atau umpatan.


Sekali kau meragukan wanita, atau menyakiti wanita, mereka pasti akan mengingat luka itu selamanya. Aku juga akan meninggalkanmu jika kau sampai menyakiti atau meragukanku. Jika kau bertanya kenapa aku meninggalkanmu? Maka jawabannya, karena aku adalah wanita yang hatinya serapuh gelas kaca. Ucapan Yuna masih terngiang di telinga Zain, karena itu lah ia masih bisa bersabar walau amarahmya telah memenuhi ubun-ubunnya.


"Apa kau tahu?" Zain kembali membuka suara di antara senyapnya udara. Sorot matanya setajam belati yang siap mengiris jantung lawannya.

__ADS_1


"Di saat kau bahagia dengan hidup mu, aku malah menderita karena ulah mu. Rasanya, saat ini, aku ingin meledakkan kepalamu. Apa pendapatmu tentang itu?" Zain berucap sambil mengepalkan tinjunya. Seandainya ia tidak berhadapan dengan wanita, sudah pasti ia akan mematahkan tulang lawannya. Amarah itu masih meletup seperti gunung berapi, namun ucapan menenangkan Yuna tentang keindahan wanita masih bisa menahan amarahnya.


Saat ini, Zain baru menyadari, ternyata wanita shaleha itu lebih indah dari perhiasan dunia adalah benar adanya, dan Zain mengakui wanitanya, Yuna Dinata lebih berharga dari apa pun yang ada di semesta.


"Sekarang, katakan. Apa alasan mu melakukan kesalahan sebesar itu? Jika alasanmu bisa di terima oleh akal sehat ku, maka aku akan mengampuni nyawa mu." Ujar Zain tanpa melepaskan tatapan tajam dari mangsanya.


"Tu-tuan, ak-aku..."


Wanita itu bersujud di bawah kaki Zain, ia menangis memohon pengampunan namun Zain tidak menghiraukannya.


"Aku minta maaf." Ucap wanita itu lagi, ia menangkupkan kedua tangan di depan dada dengan tubuh bergetar sempurna. Bukan hanya wanita itu yang gemetar, Ploy yang berdiri di dekat Ben pun tak luput dari rasa takut.


"Aku akan mengakhiri kisahmu saat ini juga!" Zain berteriak, ia berjalan ke arah meja kerjanya. Ben, Ploy, keempat detektif kepercayaannya, dan satu lagi, wanita itu. Mereka terlihat ketakutan melihat Zain mengambil senjata api yang ia keluarkan dari meja kerjanya.


Tak perlu menunggu lama, senjata itu kini sudah mengarah di kepala wanita yang bahkan tidak Zain ketahui namanya.


"Apa motif mu melakukan kejahatan sebesar itu? Katakan!" Zain berteriak, matanya semakin memerah. Ia bagaikan singa terluka yang butuh pelampiasan.

__ADS_1


"Aku bersumpah atas nama istri ku, jika kau tidak mengatakan kebenarannya, maka aku benar-benar akan membunuh mu!" Zain bersiap menarik pelatuk. Wanita yang ia todongkan senjata terlihat pucat, ketakutan.


"Hiks.Hiks. Tuan, tollong maafkan aku. Aku mengaku salah. Aku khilaf. Aku bersumpah, aku tidak punya dendam terhadap mu." Aku wanita itu dengan suara nyaris tak terdengar, isakannya terdengar menyayat hati. Ben yang masih berdiri di dekat pintu tak bisa melakukan apa pun, kondisi ini benar-benar buruk. Dan ia sangat memahami kemarahan tuannya. Siapa pun yang ada di posisinya akan melakukan hal yang sama.


Ada apa dengan nona Ploy? Kenapa dia terlihat ketakutan? Apa dia juga terlibat dalam masalah ini? Oh my God. Aku harap tidak. Batin Ben sembari menatap Ploy yang duduk di lantai. Sejak Zain bertemu dengan wanita itu, Ploy terlihat sangat ketakutan dan hal itu memancing keingin tahuan Ben.


"Katakan, sekarang!"


Dorr!


Zain kembali berteriak di barengi dengan letusan dari senjata api yang ada di tangan kanannya. Sorot mata itu memancarkan kebencian mendalam. Secepat pelurunya melesat, maka secepat itu pula tangan Zain mencengkram keras dagu wanita itu.


"Aku bukan pemain baru, setelah aku melenyapkanmu. Bahkan semut pun tidak akan menemukan jasad mu." Zain berkata seperti itu hanya untuk mengancam, ia memang pengusaha yang kejam tapi tidak dengan menghilangkan nyawa orang, itu bukanlah prinsip hidupnya. Baginya semua nyawa itu berharga tak terkecuali.


"Tu-tuan, aku hanya pion. Aku melakukannya karena uang. Sungguh, awalnya aku tertarik pada tuan, namun setelahnya aku mengambil uang da-dari wa-ni-ta itu."


Akhirnya hal yang di takutkan Ben terjadi juga. Wanita itu menunjuk Ploy yang masih bersimpuh di lantai. Bagai di sambar petir di siang bolong, netra Ploy melotot, wajah cantiknya tampak memucat. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia yang seorang bintang besar berada dalam nuansa mencekam, dan ini lebih buruk dari ke matian.

__ADS_1


Sorot mata Zain mengikuti arah tangan wanita itu, kemarahan kembali memenuhi seluruh pori-pori tubuhnya. Orang yang selama ini ia sayangi sebagai sahabat baiknya tak lebih dari serigala berbulu domba, dan hal itu semakin melukai perasaain Zain De Lucca.


...***...


__ADS_2