
Yuna yang baru saja selesai menelpon Mama-nya yang ada di Indonesia tampak bahagia. Ia mengabari tentang kehamilannya.
Setelah mengetahui dirinya hamil, Yuna bergegas pulang untuk mengabarkan berita bahaginya pada Zain, namun rencananya tidak berjalan mulus, perdebatan terjadi dan Yuna pun terpaksa meninggalkan rumah, karena sekarang ia dan Zain sudah berbaikan, dengan senang hati Yuna mengabarkan kabar bahagianya pada keluarga yang tak bisa di jangkau jemarinya.
"Bagaimana, sayang? Apa yang di katakan Mama?" Zain yang baru saja keluar dari kamar mulai bertanya, ia mempercepat langkah kakinya untuk menghampiri Yuna.
"Mama bahagia, sangat bahagia sampai-sampai beliau meneskan air mata." Yuna mengalungkan kedua lengannya di leher Zain, mata indahnya berkaca-kaca, ingin menangis.
"Kau merindukan Mama? Maafkan aku." Ucap Zain sambil merunduk. Bukannya menanggapi ucapan Zain, Yuna malah memeluk prianya, sangat erat sampai tidak ada celah untuk orang ketiga memasuki hubungan mereka yang di penuhi cinta.
"Tidak perlu minta maaf. Tak perduli sejauh apa aku dari keluargaku, selama kau bersamaku, aku akan bahagia." Yuna berbisik, dan Zain tahu Yunanya tidak berbohong.
"Kita tidak bisa bepergian jauh, dan Yuna ku tahu alasannya. Untuk sementara, bersabarlah. Jika nanti kau dan calon anak kita lahir dengan sehat dan selamat, kita akan pergi bertiga ke rumah Mama." Zain tersenyum, ia mencium pundak Yuna.
"Iya, itu lebih baik." Balas Yuna singkat.
Pagi ini Zain akan pulang ke rumahnya. Tapi sebelum itu, ia harus mampir di rumah kedua orang tuanya. Sejak Zain mengabarkan Yuna sudah di temukan, Mommy-nya terus saja mengoceh, wanita paruh baya itu bilang beliau sangat merindukan menantu kesayangannya.
__ADS_1
"Apa kau sudah siap?"
"Mm!" Jawab Yuna sembari mengangguk pelan. Ia menerima uluran tangan Zain, mereka berjalan pelan menuju pintu depan untuk meninggalkan Villa.
"Apa Tuan dan Nyonya akan pulang sekarang?" Pria paruh baya yang Zain tahu sebagai penjaga Villa muncul dari pintu depan.
"Iya, kami akan pulang pagi ini. Terima kasih sudah merawat istriku dengan baik." Zain menyodorkan amplop pada pria paruh baya yang ada di depannya. Namun pria itu menolaknya dengan wajah tersenyum.
"Terima saja, itu sebagai ungkapan terima kasihku." Zain memaksa, namun pria paruh baya itu tetap kekeh pada pendiriannya, tidak mau memerima imbalan apa pun karena Aroon selalu mengirimkan gajinya tepat waktu, gaji untuk merawat Villa ini.
Setelah pria paruh baya itu menerima imbalannya, Zain dan Yuna berpamitan untuk pulang dengan tenang.
Lima jam perjalanan Zain tempuh dengan sabar, ia berkendara sangat hati-hati, bahkan Yuna yang duduk di sampingnya tak menyadari kalau sekarang mereka sudah tiba di depan rumah Mommy. Yuna terlelap sesaat setelah ia masuk ke dalam mobil, wanita itu mengeluh kalau dirinya kelelahan dan mulai merasakan kantuk.
Sementar Zain? Pria itu benar-benar di butakan oleh cintanya, sedetik pun ia tidak melepaskan genggamannya dari tangan Yunanya, lima jam ia berkendara, dan selama lima jam itu pula ia menggenggam tangan Yuna. Dan saat ini ia menatap wajah seindah purnama milik wanitanya, ia takjub. Ia juga tak akan bosan menggambarkna betapa cantik dan betapa beruntungnya seorang Zain De Lucca bisa mendapatkan Yuna Dinata.
"Sayang, apa kau mendengar Baba? Iya, aku Baba mu, nama ku Zain De Lucca." Zain merunduk, ia mencoba bicara dengan calon buah hatinya. Entah kenapa Zain mulai meneteskan air mata, ia terlalu bahagia sampai-sampai ia tidak bisa mengendalikan air matanya.
__ADS_1
"Umma mu wanita yang baik, sangat baik sampai Baba merasa tidak pantas untuknya. Baba mohon, kau pun harus tumbuh menjadi anak yang baik, jangan menyusahkan Umma ya nak?" Zain tersenyum, ia mulai meletakkan tangan kanannya di perut Yuna, mengusap perut berisi itu dengan lembut.
"Cepat keluar, nak. Kita akan berjuang bersama. Baba janji, Baba akan menjadi suami dan ayah terbaik di dunia."
"Iya, Baba. Aku juga janji akan jadi anak yang baik untuk Umma dan Baba." Timpal Yuna dengan nada suara di buat semanja mungkin. Yuna tersenyum, ia mengusap kepala Zain dengan lembut.
"Sejak kapan Yuna ku bangun?"
"Sejak kau mulai menatapku dalam diam." Jawab Yuna sambil mencubit hidung bangir Zain De Lucca.
"What?" Zain terkejut, ia tidak percaya Yuna pura-pura tidur.
"Iya, itu benar. Aku mendengar setiap huruf yang kau rangkai menjadi kata-kata. Dan anak kita anak penurut, dia bilang dia tidak akan menyusahkan Umma-nya." Yuna menatap wajah tampan suaminya tanpa berkedip.
Sejatinya, kecantikan dan ketampanan akan memudar seiring bertambahnya usia. Saat cinta dan kesetiaan terpupuk indah di dalam dada, maka seburuk apa pun rupa dan kekurangan yang nampak di usia senja, cinta akan tetap hadir sebagai pemenangnya. Pupuklah cinta dan penuhi raga dengan kasih dan sayang, maka cinta itu akan menjaga mu dari pahitnya penghianatan.
...***...
__ADS_1