Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part 46


__ADS_3

"Kau kembali?"


"Syukurlah! Tadinya aku akan masuk untuk mencari Mu!"


"Apa kau baik-baik saja?" Zain bertanya sembari memperhatikan Yuna dari atas hingga ke bawah. Kemudian ia memeluk Yuna-nya dengan perasaan lega. Tanpa berucap sepatah kata, Yuna langsung masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah terbuka lebar. Zain sendiri tidak terlalu memperhatikan perubahan sikap Yuna yang begitu tiba-tiba.


Dua jam berlalu akhirnya Zain dan Yuna tiba di Mansion Lucca. Hanya mereka berdua yang tinggal di sana, jika tidak ada kendala besok sore lima Art akan datang ke Mansion Lucca atas permintaan Mommy Zain sebelumnya.


"Aku sudah...." Ucapan Zain tertahan di tenggorokannya saat ia melihat Yuna tidak menghiraukannya, gadis anggun itu langsung masuk kedalam kamarnya. Ia masih kesal pada Zain dan semua ini berawal dari ucapan Ploy yang terlalu memprovokasinya.


"Ada apa dengannya?"


"Kenapa dia tiba-tiba berubah?"


"Sebenarnya, apa yang mengganggu pikirannya?"


"Haruskah aku bertanya padanya?"

__ADS_1


"Bagaimana kalau dia marah?"


"Arrgggg!" Zain menarik rambutnya kasar. Tak ingin memusingkan segalanya, ia merebahkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur sembari membayangkan wajah cantik Yuna yang sedang tersenyum padanya.


Sementara itu di kamarnya, Yuna sedang memikirkan ucapan Ploy dengan sangat matang. Sekuat apa pun ia memikirkannya, ia tidak akan bisa mendapatkan jawabannya. Menanti Zain mengatakan yang sebenar-benarnya pun tidak lah mudah. Iya, akhirnya, Yuna membuat keputusan besar. Dan ia akan melakukannya besok saat Zain berangkat kekantor.


Pagi yang di nanti-nantikan akhirnya tiba juga. Setelah melaksanakan Shalat Subuh, Yuna langsung bersiap untuk menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Zain.


Yuna berpikir Pria tampan itu masih terlelap, namun prediksinya meleset. Baru saja tangannya memegang piring kotor yang akan ia cuci, tiba-tiba saja ia di kejutkan oleh lengan kekar yang melingkar di perut ratanya.


"Masya Allah." Yuna berucap pelan namun piring yang ada di tangannya terlepas sempurna.


"Apa aku mengagetkan Mu?"


"Yaya, sepertinya itu lah yang terjadi." Ucap Zain menjawab dirinya sendiri. Ia melayangkan kecupannya di pundak Yuna kemudian melepas pelukannya. Menarik tubuh ramping itu hingga mereka saling menatap tanpa jarak.


"Hari ini aku akan terlambat pulang, ada rapat penting di kantor."

__ADS_1


"Maafkan aku karena membuat Mu kesepian. Aku janji akan segera pulang jika pekerjaan ku telah selesai." Ucap Zain menjelaskan keadaannya.


"Iya, tidak apa-apa." Balas Yuna sambil tersenyum tipis.


"Ooo iya, aku lupa bertanya. Apa yang di katakan Kakak Ipar semalam?"


Karena kesal Yuna bahkan sampai lupa memberitahukan pembicaraannya semalam dengan Shawn dan Raina.


"Maaf. Aku lupa mengatakannya."


"Semalam, Kak Shawn dan Kak Raina bilang mereka akan berkunjung bulan depan. Aku sangat bahagia sampai lupa mengatakannya." Jelas Yuna sambil menatap netra biru Zain De Lucca, nerta biru itu berkilau hingga menenangkan jiwa.


"Benarkah?"


"Ini berita bahagia!"


"Aku akan menyambut kedatangan mereka dengan sambutan meriah." Ujar Zain penuh semangat, ia tidak berbohong, Ia sangat bahagia sampai sulit di ungkapkan dengan sekedar kata-kata. Yuna yang mendengarnya hanya tersenyum tipis penuh makna.

__ADS_1


"Terima kasih karena kau merasa bahagia menyambut kedatangan Kakak dan Kakak Ipar. Aku sangat terharu mendengarnya." Yuna memeluk Zain sangat erat, bibirnya mengatakan lain namun hatinya meminta maaf untuk apa yang akan ia lakukan dalam dua jam kedepan.


...***...


__ADS_2