Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Di Kantor Aroon


__ADS_3

Satu jam berlalu sejak Zain meninggalkan kantornya. Saat ini ia berada di area parkir Maurer group, ia masih duduk di dalam mobil sembari menyandarkan kepala di sandaran kursi. Sejak pagi ia ingin menemui Yuna, namun saat ia berada di bawah atap yang sama kakinya seolah terasa kaku.


"Apa ini Zain?"


"Di kerajaan mu, kau bertingkah seperti singa tanpa rasa takut. Dan di sini?" Zain menatap pancaran wajah putus asanya di kaca spion.


Ia menghela nafas kasar, dadanya berdebar seolah jantungnya akan loncat keluar. Dengan mengucap Bismillah, Zain membuka pintu mobil kemudian berjalan pelan, melewati lobi, kemudian naik lift hingga mebawanya menuju kantor Aroon.


Tok.Tok.tok.


"Apa aku mengganggumu?" Zain bertanya begitu kepalanya menyembul dari balik daun pintu. Orang yang ia ajak bicara tampak serius menatap ke layar laptopnya.


Seutas senyum mengembang dari bibir Aroon, ia berdiri sambil menjulurkan tangan. Memberikan isyarat untuk masuk.


"Ini kejutan!"


"Aku tidak menyangka akan kedatangan bos besar dari perusahaan hiburan terbesar di Thailand. Aku curiga dengan niat kedatangan mu, apa kau sungguh ingin menemuiku?"

__ADS_1


"Atau ... Kau datang hanya untuk menemui istrimu? Ini benar-benar menyedihkan."


"Maksudku, aku sedih karena kau datang ketempat ini hanya untuk melepas rindu pada istri mu, bukan lantaran ingin menemuiku. Sahabat baikmu!" Dalih Aroon sambil menatap tajam pada sosok yang baru saja menghempaskan bokongnya di sofa.


Sebelum menghampiri sahabatnya, Aroon berusaha menghubungi sekertarisnya dari sambungan telpon, memintanya membawa dua gelas kopi secepatnya.


"Apa kau ingin aku memanggil nona Yuna?" Aroon bertanya, namun hatinya merasakan berbeda.


"Biarkan saja, aku yakin dia sedang mengerjakan tugas yang kau berikan padanya. Apa aku salah?" Tebak Zain sambil menghunuskan tatapan setajam silet.


"Haha! Kau benar." Balas Aroon singkat, ia terkekeh sambil memainkan jari telunjuknya.


Zain berusaha menahan kerinduaannya, sementara Aroon berusaha keras menyimpan cinta sepihaknya. Dua pria tampan merasakan cinta disaat bersamaan. Hal ini memang terasa menyedihkan, namun mau bagaimana lagi, sudah menjadi kodrat manusia untuk merasakan cinta. Yang buruk itu ketika seseorang jatuh cinta kemudian ia tidak bisa mengendalikan perasaannya hingga ia lepas kendali untuk melakukan perbuatan maksiat, zina.


Untuk sesaat, netra Zain dan Aroon menatap dan mengunci pada satu titik. Menatap sosok sempurna yang saat ini masuk sambil menenteng nampan berisi dua cangkir terisi kopi panas.


A-apa ini? Aku hanya mengatakannya di dalam hati. Dan lihatlah keajaiban Tuhan! Aku bahagia. Lirih Zain sambil menoleh kearah lain, ia berusaha menyembunyikan wajahnya yang di penuhi senyuman agar tidak terlihat seperti pecundang.

__ADS_1


"Sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat, maaf jika aku mengganggu pembicaraan kalian." Ucap Yuna menyesal. Ia meletakkan nampan yang ada di tangannya tepat di depan Zain sambil menyunggingkan senyuman semanis madu. Pagi ini mereka tidak saling bicara, bisa saling menatap sedekat ini rasanya sangat menyenangkan.


"Kenapa nona Yuna yang membawa kopinya? Di mana Kiara?" Aroon bertanya dengan dahi berkerut. Antara marah dan juga merasa lega.


"Nona Kiara ada di lobi, tadi kami sempat bicara di pantry." Yuna menjelaskan sambil berdiri.


"Setelah menerima paket penting, nona Kiara langsung kembali ke kantornya, aku menawarkan diri untuk membantunya membawa kopi ini, aku berharap ini tidak akan jadi masalah." Sambung Yuna lagi.


"Itu akan jadi masalah jika nona Yuna tidak mengatakannya. Lihatlah tuan ini?" Aroon berucap seraya menunjuk Zain yang duduk di sofa dekat Yuna berdiri.


"Dia akan marah padaku karena melihat istrinya membawa kopi. Aku tidak ingin Zain berpikir aku memperlakukan istrinya seperti pelayan." Celoteh Aroon sok tahu.


"Marah? Tidak mungkin Zain marah untuk hal sepele seperti ini." Ucap Yuna menampik.


"Hay nona, aku tumbuh bersama suami mu. Aku sudah hafal kapan ia mulai tertarik pada wanita, atau kapan ia mulai bosan. Kau lihat wajahnya, itu artinya dia sedang marah." Cicit Aroon dengan tawa kecilnya.


"Apa kau sudah selesai? Aku ada disini, beraninya kau menjelek-jelekkan ku di depan istri ku." Kesal Zain sambil menatap Aroon dengan tatapan setajam silet.

__ADS_1


Yuna yang tadinya tersenyum terlihat tampak serius. Ia tidak ingin Zain atau Aroon membaca wajahnya, orang bilang mata bisa menjelaskan isi hati dan Yuna tidak ingin siapa pun mengetahui resahnya.


...***...


__ADS_2