Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part 22


__ADS_3

"Aku meminta Alex untuk menghubungi Mu, aku ingin mengundang mu makan malam sebagai tanda terima kasih atas keberhasilan pemotretan kemarin." Aroon mulai membuka suara di antara senyapnya udara, ia menatap Ploy dengan tatapan heran.


Aroon dan Ploy tumbuh di lingkungan yang sama, mereka juga belajar di Universitas yang sama. Namun hal itu tidak memberi Ploy hak untuk datang ke kantor Aroon kapan pun yang dia inginkan. Karena itu lah Aroon menatapnya dengan tatapan heran. Biasanya, setiap kali gadis itu datang, ia akan datang membawa cerita baru. Cerita tentang kekesalannya pada hal-hal yang menurut Aroon tidak masuk akal.


Entah apa masalahnya kali ini? Aroon bergumam di dalam hatinya sembari duduk di sofa depan Ploy.


"Pemotretan selanjutnya akan kita adakan pada tanggal..."


"Aku datang bukan untuk membahas masalah pekerjaan." Potong Ploy cepat, ia menatap Aroon dengan mata membulat.


"Masalah pekerjaan bisa kita bicarakan di lain waktu. Lagi pula, Asisten tidak bergunamu selalu saja mengganggu Ku tanpa melihat waktu." Sambung Ploy lagi.


Ehem.

__ADS_1


Alex yang mengetahui dirinya sedang di bicarakan terlihat kesal pada wanita muda yang duduk di sofa menghadap Tuannya. Jika ia bisa, rasanya ia ingin menumpahkan kopi panas itu di paha mulus milik Ploy Nan. Sayang sekali, ia tidak bisa melakukan itu. Itu artinya, sama saja dengan bunuh diri.


"Kopinya, Tuan."


"Terima kasih." Balas Aroon tanpa menatap wajah kesal Alex.


"Untuk apa berterima kasih padanya, itu sudah tugasnya. Berterima kasih pada pelayan sama saja dengan memberikan mereka kebebasan." Ploy angkat bicara dengan raut wajah yang mulai masam.


"Ooh ayo lah, Ploy. Dia Alex. Dia orang kepercayaan ku. Aku percaya kau bisa menghianati Ku. Tapi dengannya..." Aroon memotong ucapannya sembari menunjuk kearah Alex yang saat ini berdiri di dekat Ploy.


Setelah meletakkan kopi di atas meja. Tanpa diminta, Alex langsung keluar dari kantor Tuannya. Dia tidak ingin terlibat dengan si gadis penuh drama Ploy Nan. Mendengar ucapan gadis itu selalu saja membuat darahnya mendidih, beruntung dia seorang wanita, karena pantang bagi Alex menyakiti wanita.


"Jika kau tidak tertarik membicarakan kontrak kerja dengan prusahaan ku, lalu untuk apa kau datang kemari?" Aroon kembali bertanya sambil melipat kedua lengan di depan dada.

__ADS_1


"Aku akan mengeluh pada Mu!"


"Mengeluh padaku? Apa salah Ku?" Aroon mencoba mengingat kesalahan apa yang pernah ia buat di depan sahabatnya ini. Sayangnya, sekuat apa pun ia mencoba, ia benar-benar tidak menemukan kesalahan sekecil apa pun.


"Seingat ku, aku tidak pernah melakukan kesalahan. Karena itu lah aku di juluki Mr.Perfect." Celoteh Aroon penuh percaya diri. Iya, dia memang benar. Semua gadis yang mengenalnya akan memanggilnya pria sempurna tanpa celah.


"Bagi orang lain kau sempurna, tapi bagi ku... Kau jauh dari kata sempurna. Karena yang sempurna itu hanya satu. Zain ku." Tanpa melepas senyuman dari wajah cantiknya, Ploy berusaha menghadirkan wajah sempurna Zain De Lucca, pria pemilik iris biru yang selalu membuat jantungnya berdetak sangat kencang.


"Ohh, ayo lah Ploy. Hentikan candaan mu, karena itu sudah tidak lucu lagi." Aroon berusaha mengingatkan Ploy, karena ia tahu Zain sudah menikah walau sebenarnya ia belum pernah bertemu dengan istri sahabatnya itu.


"Kenapa kau mengungkitnya!"


"Maksudku, kau tidak perlu mengatakan Zain sudah menikah. Kau membuat mood ku rusak dengan mengatakan itu." Ploy benar-benar kesal. Mengingat bagaimana wanita yang ia benci itu mengatainya saat di pesta malam itu membuat jiwanya merasakan kesal luar biasa. Dan kekesalan ini akan menghilang jika ia bisa menjambak dan mencakar wanita yang telah berani mengambil pria yang paling ia cintai di semesta ini.

__ADS_1


...***...


__ADS_2