Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part 28


__ADS_3

"Untuk apa kau meminta koki sehebat istriku jika kau tidak ingin menikah? Karena solusi dari keinginnmu hanya satu, menikahi wanita Indonesia!" Cicit Zain masih dalam keadaan menahan tawa. Ia terlalu menikmati perannya sebagai pemenang sehingga ia tidak memberikan ruang untuk Aroon balas menggodanya.


"Iya, baiklah. Aku mengaku kalah, karena sampai kapan pun aku tidak akan bisa melakukan saran yang kau berikan kecuali aku bertemu dengan wanita itu lagi." Ujar Aroon sembari menatap Zain dengan tatapan meyakinkan.


"Bertemu wanita itu lagi? Apa maksud mu?"


"Apa kau bertemu wanita baru?"


"Maksudku, wanita yang ingin kau dapatkan kemudian kau tinggalkan setelah puas bermain dengannya?"


"Jangan lakukan itu!"


"Jika kau mendapatkan karma Mu, kau akan menangis sendirian tanpa bisa melakukan apa pun."

__ADS_1


"Sudah banyak wanita yang kau lukai perasaannya, jika kali ini kau berani melakukannya, bahkan Tuhan pun tidak akan diam." Celoteh Zain sambil menunjuk wajah tampan Aroon.


Aroon yang di ajak bicara hanya bisa diam sekaligus menghela nafas kasar, ia mendengarkan namun ia juga mengabaikan. Ia sadar, apa yang di ucapkan Zain memang ada benarnya, namun ia juga tidak bisa mengendalikan dirinya saat wanita-wanita itu menggodanya. Bukankah hubungan suka sama suka itu sangat menyenangkan? Jika Aroon bisa menikmati wanita mana pun yang di inginkan hatinya tanpa terikat tali pernikahan, lalu untuk apa dia menikah? Itu lah yang Aroon pikirkan tanpa takut akan dosa.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan, jadi cukup sampai disini."


"Maksudku, jika kau hanya memikirkan hubungan antara pria dan wanita hanya sebatas urusan ranjang, maka kau salah. Salah besar." Zain berucap dengan nada suara pelan, berharap Aroon bisa menerima ucapannya dengan lapang dada. Karena Zain sangat mengenal sahabatnya itu, melihat dari ekspresi yang di tunjukkan Aroon, sepertinya ia memikirkan ucapan Zain dengan penuh kehati-hatian.


"Sudah lah, Zain. Lagi pula wanita-wanita itu yang menggodaku. Perlu kau catat, mereka yang menggodaku, dan bukan aku yang menggodanya." Ucap Aroon membela diri.


Zain terlihat kelelahan, ia menyandarkan tubuh letihnya di sandaran sofa sambil menghela nafas kasar. Netra Zain terbuka saat ia menyadari pangkuannya terasa berat.


"Yuna ku ada di sini?" Zain memperbaiki posisi duduknya. Ia memeluk tubuh Yuna sambil tersenyum penuh arti. Seketika rasa lelahnya menguap ke angkasa. Terdengar konyol, tapi itu lah kebenarannya. Menatap wajah Yuna seperti ini membuatnya merasa bahagia.

__ADS_1


"Iya, aku ada di sini. Kemana lagi aku bisa pergi? Aku akan selalu menempel padamu, seperti ini dan sedekat ini." Yuna yang duduk di atas pangkuan Zain semakin mengeratkan pelukannya.


" Lelah?"


"Mmm!" Zain menjawab Yuna sesingkat yang ia bisa.


"Apa kau ingin aku menghilangkan rasa lelah Mu?" Yuna kembali bertanya, namun kali ini ia melepaskan pelukannya, ia menangkup wajah tampan suaminya sambil menatap netra teduh milik seorang Zain De Lucca.


"Bagaimana kau akan melakukannya?"


Tanpa berucap sepatah kata pun, perlahan Yuna mulai membuka kancing kemeja yang Zain gunakan, dari bawah sampai keatas. Sungguh, Zain tidak bisa berpikir tindakan apa yang akan Yuna lakukan setelah kemeja yang ia gunakan terbuka hingga memperlihatkan tubuh bagian depannya.


"A-apa yang kau lakukan?" Tanya Zain gugup. Nafasnya naik turun tak beraturan, melihat raut wajah terkejut suaminya membuat Yuna tersenyum manja.

__ADS_1


...***...


__ADS_2