Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part 29


__ADS_3

"A-apa yang akan kau lakukan?" Tanya Zain tanpa bisa mengendalikan dirinya agar tidak merasakan gugup. Yuna yang di tanya hanya bisa tersenyum menggoda.


Yuna berjalan tiga langkah dan berdiri tepat di belakang Zain yang saat ini sedang duduk di sofa dalam keadaan membelakanginya.


"Memangnya apa yang kau pikirkan?" Yuna balas bertanya tanpa menghiraukan wajah heran Zain yang menatapnya dengan cara menengadah.


"Aku hanya ingin memijit suamiku. Aku ingin menghilangkan rasa lelahnya." Ujar Yuna sambil menggerakkan jemarinya secara perlahan di bahu kekar Zain De Lucca. Tidak ada balasan dari Zain selain senyuman menawannya.


"Kak Raina biasa melakukan ini pada Kak Shawn. Sebagai wanita, Kak Raina adalah sosok idola terbaik untukku. Aku selalu berdoa semoga aku bisa menyenangkanmu, dan juga membahagiakan Mu. Sama seperti Kak Raina yang selalu membahagiakan Kak Shawn." Celoteh Yuna sembari membayangkan Kakak dan Kakak Iparnya yang ada di Indonesia.


Zain selalu bersikap baik pada Yuna, dan hidupnya di penuhi warna. Sayang sekali, kebahagiaan itu kurang lengkap karena keluarga besarnya sangat jauh. Hidup di Thailand terasa berat dan semakin berat jika saja Zain tidak mendukungnya.


"Kemari." Zain menggenggam jemari Yuna kemudian perlahan membawanya untuk duduk di pangkuannya lagi.

__ADS_1


"Terima kasih!" Sambung Zain lagi.


"Untuk?" Yuna bertanya dengan dahi berkerut sempurna. Wajah cantiknya terlihat memamerkan keheranan tingkat tinggi.


"Untuk segalanya." Jawab Zain singkat, kemudian melayangkan kecupan di dahi mulus seorang Yuna Dinata.


"Maafkan aku!" Ucap Zain penuh penekanan.


Lima menit kemudian.


"Kenapa kau diam? Aku bertanya, kenapa kau berterima kasih dan meminta maaf di saat bersamaan? Aku tidak menerima keduanya. Karena dalam hubungan kita hanya ada cinta. Dan cintaku tidak membutuhkan kata maaf dan terima kasih." Yuna memejamkan mata, ia menyandarkan kepalanya di dada telan-jang Zain De Lucca.


"Aku sangat bersyukur karena Tuhan mengutusmu untuk memasuki kehidupan ku. Hidupku terasa berarti dengan kehadiran mu di sisi ku. Kau tidak tahu, tapi, sungguh, aku sangat bahagia." Ucap Zain sembari menempelkan dahinya di dahi mulus milik Yuna.

__ADS_1


"Aku minta maaf karena aku belum bisa menjadi suami sempurna. Dan aku juga minta maaf karena hingga saat ini belum bisa menjelaskan alasannya." Ujar Zain penuh penyesalan.


"Aku sudah bilang, tidak perlu meminta maaf. Aku mencintai Mu dengan sepenuh hati ku. Aku akan menunggu." Ucap Yuna sambil berbisik. Ia melayangkan kecupan hangatnya di puncak kepala Zain, air matanya menetes deras, ia tidak sedih kenapa Zain belum bisa memberinya nafkah batin, yang ia sedihkan kenapa Zain masih belum bisa jujur alasan di balik sikap anehnya. Padahal saat di Indonesia semuanya terasa baik-baik saja.


"Aku minta maaf!" Ucap Zain lagi. Ia kembali mengeratkan pelukannya di tubuh ramping Yuna yang saat ini masih berada di atas pangkuannya.


"Aku lapar. Ayo kita makan."


"Ahh, iya, satu lagi. Ada yang ingin ku katakan setelah kita selesai makan malam." Yuna memegang jemari Zain kemudian menuntunnya berjalan menuju meja makan.


Mansion yang Zain dan Yuna tempati benar-benar sepi, itu karena hanya mereka berdua yang tinggal di dalamnya. Saat Zain berangkat ke kantor, tinggal Yuna yang tersisa, menghabiskan waktunya sendirian tanpa ada siapa pun. Rasanya sangat menyedihkan, karena itu lah Yuna berencana untuk bekerja. Akan seperti apa tanggapan Zain selanjutnya, Yuna benar-benar penasaran.


...***...

__ADS_1


__ADS_2