
Lantai dansa terlihat begitu menakjubkan dalam pandangam seorang Yuna Dinata, walau ia tidak pernah berdansa, rasanya ia ingin mencobanya, tentunya hanya bersama Zain saja. Pria terbaik di dunia dalam pandangannya walau sebenarnya banyak kerikil tajam dalam hubungan mereka.
"Nona, apa anda ingin berdansa?" Bim, asisten Yuna bertanya sambil menunjuk kearah lantai dansa.
"Nona mu tidak akan bisa menikmati lantai dansa. Kau tahu kenapa?"
Hmm!
Yuna terlihat menghela nafas kasar. Ia menatap sosok menyebalkan yang berdiri tak jauh darinya itu dengan tatapan tidak senang. Entah kenapa takdir selalu saja membawanya bertemu dengan sosok menyebalkan yang sangat tidak di sukainya itu, apakah dunia sungguh hanya selebar daun kelor? Entahlah, Yuna tidak bisa menjawabnya. Yang jelas, ia tidak ingin bernafas di bawah langit yang sama dengan seorang Ploy Nan yang menurutnya sangat menyebalkan.
"Tidak ada yang ingin bicara dengan mu." Cicit Yuna sembari menatap Ploy dengan tatapan setajam silet.
"Bim, ayo kita pergi. Tugas kita sudah selesai, berlama-lama di tempat ini membuat nafas ku terasa sesak." Sambung Yuna lagi, sedetik kemudian ia mulai berjalan di depan Bim.
__ADS_1
"Aku belum selesai bicara." Ploy berteriak sambil menatap punggung Yuna yang berusaha meninggalkannya.
"Dasar wanita murahan. Aku sedang bicara dengan mu, berhenti di sana." Ucap Ploy dengan nada suara tinggi. Ia bahkan melempar sepatunya hingga mengenai tiang di samping kanan Yuna.
Deg!
Dada Yuna rasanya seperti terbakar. Wanita murahan? Itu ucapan yang cukup mengejutkan. Bim yang berdiri di belakang Yuna nampak terkejut melihat tingkah idolanya.
"Kita tidak sedekat itu sampai harus saling bicara, lalu apa masalahmu? Kau memintaku untuk tinggal di tempat ini hanya untuk mendengar ocehan tidak bergunamu, tidak masuk akal. Kau bilang apa tadi? Wanita murahan, aku rasa kata-kata itu lebih cocok untuk mu!" Sarkas Yuna, ia menunjuk Ploy masih dalam keadaan amarah membuncah. Untuk pertama kali dalam hidupnya ada yang berani mengatainya wanita murahan, dan hal itu berhasil membangkitkan kemarahan seorang Yuna Dinata yang biasanya bersikap santun pada setiap orang.
"Lain kali, jangan pernah bicara dengan ku. Apa lagi sampai mengatakan aku wanita murah, karena jika kau berani melakukannya, jangan salahkan aku jika saat itu tiba aku akan melukaimu." Cicit Yuna dengan kekesalan yang masih memenuhi seluruh pori-pori tubuhnya.
"Haha!" Bukannya takut mendengar ancaman Yuna, Ploy malah terkekeh seolah sedang mendengar lawakan. Melihat ekspresi Ploy membuat Yuna mengerutkan keningnya, dan saat ini Yuna menyadari kalau dirinya sedang berhadapan dengan wanita tidak normal, psikopat yang hanya mementingkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Apa menurutmu, ini lucu? Aku tidak menyangka akan bertemu wanita gila." Celoteh Yuna sembari melipat kedua lengan di depan dada, ia tampak santai seakan-akan tidak terganggu, itu ia lakukan agar Ploy tidak perlu lagi mengganggunya.
Di luar gedung, Matahari sedang galak-galaknya. Hawa panas membuat sebagian orang menghapus keringatnya. Sementara itu di dalam gedung, Ploy sedang panas-panasnya ingin menampar dan menjambak Yuna, sebutan wanita gila yang Yuna lontarkan membuat tawanya seolah lenyap di telan udara. Tidak ada lagi bahagia, yang ada hanya kemarahan yang terlanjur menyesakkan dada.
"Kenapa?"
"Apa kau marah karena aku mengataimu wanita gila? Seharusnya aku yang lebih marah karena kau berani mengataiku wanita murahan." Yuna menunjuk ploy, sedetik kemudian ia mendorong Ploy hingga tubuh ramping wanita itu membentur dinding yang ada di belakangnya.
"Aku tahu kau mencintai suamiku dan ingin menariknya dengan pesonamu. Walau kau bertelanjang bulat di depannya, dia tidak akan pernah tergoda. Jadi, sebagai wanita aku hanya ingin memperingatkanmu, hentikan rencana yang sudah kau susun di otakmu ini, karena aku tahu kau tidak akan pernah berhasil." Yuna mengetuk kepala Ploy dengan jari telunjuknya. Siapa pun tahu saat ini dirinya sedang di kuasa oleh amarahnya, namun sekuat tenaga ia akan menahan amarah itu agar dirinya tidak termasuk dalam golongan orang yang merugi.
Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. (QS.Al-'Asr 1-3)
...***...
__ADS_1