
"Yuna adalah anak yang baik, dia iuga adik yang baik. Aku yakin dia akan berusaha menjadi istri yng baik untukmu. Satu saranku, jaga kepercayaanmu padanya, karena jika kau sampai meragukannya, status mu sebagai suami tidak akan bertahan lama." Shawn kembali mengingatkan adik iparnya. Walau awalnya ia tidak menyetujui hubungan Zain dan Yuna, namun kini ia tulus berharap agar Zain dan Yuna yang merupakan pasangan baru selalu bahagia.
"Bagaimana dengan usahamu? Apa semuanya berjalan lancat?"
"Iya, kak. Semuanya baik." Balas Zain singkat.
"Apa kau merasa bosan? Kau bisa kembali kekamarmu, aku yakin kau merindukan istrimu. Aku akan masuk setelah bicara dengan Robin." Ujar Shawn sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya.
Tidak ada bantahan dari Zain, ia meninggalkan kakak iparnya kemudian berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Sesaat setelah tiba di depan kamar, Zain berdiri di dekat pintu dan melihat Yuna yang sedang sibuk memasukkan barang-barang yang baru ia beli kedalam koper.
__ADS_1
Semakin hari, wajah itu terlihat semakin cantik saja. Matamu bersinar terang, menatap mata itu selalu saja membuatku hilang akal. Aku seolah terhipnotis dalam pesona indah tiada akhir. Tanyakan padaku, apa yang membuatku jatuh cinta padamu sedalam ini? Jawabannya, aku sendiri tidak tahu. Batin Zain sambil menatap Yuna yang saat ini masih sibuk memasukkan barang-barang kedalam koper, barang yang akan dihadiahi sebagai oleh-oleh untuk keluarga yang ada di Indonesia. Sedikitpun Zain tak bergerak dari posisinya.
"Sayang, sampai kapan kau akan berdiri disana?" Yuna berucap setelah menyadari kehadiran Zain yang berdiri di balik daun pintu yang terbuka setengahnya.
"Masuk saja."
"Untuk apa berdiri disana. Jika kakak tahu, mereka akan berpikir aku mengusirmu dari kamar." Seloroh Yuna sambil tersenyum tipis. Zain yang mendengarkan langsung buru-buru masuk kedalam kamar yang luasnya bisa di gunakan untuk sepedaan.
Tanpa diminta Yuna meletakkan kepalanya di bahu kekar suaminya. Untuk sesaat, Zain terdiam sembari menikmati momen indah ini. Sejak kedatangan kakak iparnya, momen indah selalu saja terulang, saat mereka tidur sambil berpegangan tangan, saat Zain terbangun ia melihat wajah sempurna istrinya yang masih terlelap. Sungguh, ini momen yang langka.
__ADS_1
"Biarkan seperti ini, sebentar saja." Yuna mengeratkan pelukannya di pinggang Zain De Lucca. Rasanya seolah tersengat oleh sengatan listrik bertegangan tinggi, Zain duduk mematung sambil tersenyum, ia terlalu bahagia mendapatkan perlakuan manis dari Yuna.
"Untuk sejenak aku berpikir, aku ingin pulang bersama kak Shawn, tinggal bersama Mama dan Papa. Namun, di detik selanjutnya aku ingin menangis, membayangkan diriku tanpamu membuat kakiku tertahan. Aku tidak ingin berada di satu titik tanpa kehadiran dirimu. Percaya atau tidak, kau adalah nafas kehidupanku. Aku akan selalu berada disisimu bagaimanapun keadaannya." Yuna berucap sembari memejamkan mata, menikmati momen ini dengan jiwa dan raga.
"Aku yakin, semua pria pasti iri padaku. Aku mendapatkan istri yang sempurna, dia cantik, dia baik hati, dia juga sangat mencintaiku. Aku bahagia dan tidak ada yang kurang dalam kehidupanku. Bahkan jika aku tiada...." Ucapan Zain tertahan di tenggorokannya, Yuna menyumpal bibirnya dengan cara yang manis.
Iya, Yuna menyumpal bibir Zain dengan bibirnya. Awalnya tidak ada pergerakan, kedua bibir itu hanya menempel biasa. Namun di detik selanjutnya, Zain mulai hilang akal. Ia hilang kendali seolah tidak mengingat apa yang ia bawa di dalam tubuhnya.
Kecupan liar dari bibir Zain menyusuri setiap inchi wajah cantik Yuna, bahkan gamis yang Yuna kenakan telah terbuka di bagian atasnya, Zain meninggalkan banyak tanda di leher jenjang istrinya dan di area dada. Sungguh, Zain telah diliputi oleh nafsunya, bahkan Yuna yang ada dalam kungkungannya hanya menerima perlakuan manis Zain tanpa ada perlawanan. Tanpa menunggu lama, kini tubuh mereka sama-sama polos tanpa sehelai benangpun.
__ADS_1
...***...