Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part (101)


__ADS_3

Zain dan Yuna memasuki mansion sambil berpegangan tangan. Mommy menunggu kedatangan mereka tepat di depan pintu. Kebahagiaan jelas terpancar di wajah wanita paruh baya itu. Ia berdiri sembari membawa sebuah kalung bunga. Dari tatapan matanya, jelas terlihat kalau wanita paruh baya itu jarang tidur. Dan tanpa berucap sepatah kata, Yuna langsung berhambur ke dalam pelukan ibu mertuanya.


"Mommy, aku minta maaf." Yuna menangis, ia terisak. Jauh sebelum ia memasuki mansion keluarga Lucca, dada Yuna berdebar, ia takut orang tua Zain akan memakinya lantaran keputusan bodoh yang ia buat secara sengaja.


Keputusan bodoh?


Aah! Rasanya itu terdengar sangat jahat. Walau bagaimana pun keadaannya, perasaan kecewa Yuna pada Zain membuatnya melakukan perbuatan nekad. Dan sekarang, semuanya hanya masa lalu, biarkan yang lalu tetap di belakang dan jangan sampai mengusik kebahagiaan yang akan datang. Bukankah itu konsep kehidupan? Iya, itu memang konsep kehidupan yang benar yakni tidak membiarkan masa lalu mengikis kebahagiaan, di butuhkan usaha untuk terus bergerak menuju perubahan baru untuk tidak menetap di perasaan yang salah.


"Yuna minta maaf, Mom. Yuna janji tidak akan melakukannya lagi." Ucap Yuna dengan suara nyaris tak terdengar. Zain yang berdiri di belakangnya terlihat merunduk, ia merasa bersalah karena semua yang terjadi jelas-jelas merupakan ulahnya, bahkan jika Yuna tidak mau menerimanya maka itu hukuman yang pantas untuk pria pemilik iris biru itu, namun lagi-lagi Yuna tunduk di hadapan cinta, ia menerima Zain dengan sepenuh hantinya, berharap apa yang akan menantinya di masa depan akan jauh lebih baik dari pada masa lalu yang menyakitkan.


"Tidak apa-apa sayang. Tidak apa-apa. Sungguh, Mommy merasa bersyukur kau kembali pada pelukan kami." Balas Mommy dengan senyuman menawan. Ia melepas pelukannya dari tubuh Yuna, wanita paruh baya itu juga menghapus air mata menantu kesayangannya.


"Sayang, kau adalah putri kesayangan Mommy."

__ADS_1


"Mommy berjanji pada Mama mu kalau Mommy akan selalu menjagamu." Ucap Mommy dengan suara bergetar, ia menangkup wajah Yuna.


"Kau tidak boleh pergi kemana pun jika putra tidak berguna Mommy kembali menyakitimu. Kau harus kembali kerumah mu, dan di sini lah rumahmu." Sambung Mommy lagi, ia menatap Zain dengan tatapan tajam.


Zain yang tahu dirinya salah hanya bisa diam. Sementara Daddy yang berdiri di samping Zain hanya bisa merangkul putranya. Pria paruh baya itu sangat mengenal istrinya, jika marah, wanita yang sudah ia nikahi setengah dari hidupnya itu akan sulit untuk di bujuk.


"Iya, Yuna janji Yuna tidak akan pergi kemana pun." Balas Yuna sambil tersenyum tipis.


"Terima kasih sudah kembali. Mommy dan Daddy merasa bahagia." Mommy memakaikan kalung bunga di leher Yuna sebagai ucapan selamat datang. Ia mengajak Yuna masuk kedalam, suasana sedih berganti menjadi moment membahagiakan tak terlupakan.


"Apa?" Jawab Mommy singkat, tutur katanya terdengar kesal. Iya, Mommy masih kesal.


"Aku putra Mommy apa Mommy tidak akan menyambut ku?" Tanya Zain polos, sebenarnya ia sedang menggoda Mommy-nya. Namun kekesalah wanita paruh baya itu masih belum mereda. Bahkan dinding-dinding Mansion Lucca menjelaskan kalau Zain belum bisa meluluhkan hati Mommy-nya.

__ADS_1


"Sambut saja dirimu sendiri, atau jika kau lupa jalan masuk ke rumah ini, minta pelayan untuk menuntun mu." Ucap Mommy dengan mata menyala. Tak ada senyuman yang tersisa untuk Zain, Mommy terlalu marah mendengar penuturannya beberapa waktu lalu, penuturannya yang meragukan Yuna.


Bagi Mommy, hanya pria kurang ajar yang akan meragukan istrinya walau ia tahu istrinya tidak mungkin berhianat. Karena sejujurnya, egolah yang bermain dalam masalah ini. Yuna yang mendengar Mommy mengucapkan kata-kata tajam pada Zain tak bisa ber kata-kata. Zain bersalah dan Yuna merasa sangat terluka saat mendengar ibu mertuanya memarahi suaminya.


"Mom, Yuna tahu Zain melakukan ke salahan besar. Yuna mohon, jangan marah lagi padanya. Dia sudah mengaku salah dan berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama.


Jika Mommy tidak percaya padanya, maka aku siap jadi jaminannya. Dengan artian, jika Zain melakukannya lagi, aku sendiri yang akan menghukumnya dengan hukuman yang tidak akan pernah dia bayangkan. Mommy percaya padaku, kan?" Yuna berucap sambil menggenggam erat tangan ibu mertuanya. Mommy kembali menatap Zain dengan tatapan tajam. Wanita paruh baya itu masih terlihat kesal, namun demi Yuna ia rela mengalah.


"Mommy percaya padaku, kan?" Yuna mengulang ucapanya yang kemudian di balas dengan anggukan kepala pelan dari Mommy.


"Terima kasih." Yuna memeluk Mommy sambil meneteskan air mata, ia bahagia. Mendapatkan mertua yang baik seperti kedua orang tua Zain adalah hal yang paling membahagiakan dalam hidupnya.


Mommy yang sejak tadi mengabaikan Zain terlihat merentangkan tangan, Mommy rindu ingin memeluk putranya. Ruang tengah yang tadinya terasa dingin kini di penuhi oleh kehangatan. Melihat Zain memeluk Mommy-nya timbul kerinduan Yuna pada kedua orang tuanya yang jauh di mata, entah kapan mereka bisa bertemu lagi. Hanya doa yang bisa menekan kerinduannya, dan dengan doa pula hatinya akan merasakan ketenangan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2