Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part 39


__ADS_3

"Tidak perlu marah-marah seperti tadi. Itu sangat menakutkan. Aku lebih suka saat melihat Zain ku tersenyum." Celetuk Yuna sembari mencubit hidung bangir suaminya.


Untuk sesaat kantor Zain kembali senyap, dua anak manusia yang saling mengagumi tersenyum tanpa berucap sepatah kata. Mereka saling merangkul dalam ketenangan tanpa batas, dan ini untuk kesekian kalinya Zain menunjukkan betapa besar cinta yang ia miliki untuk gadis lembut dan baik hati miliknya, Yuna Dinata.


Di sudut tak terlihat, berdiri seorang wanita dengan amarah membuncah. Atau tepatnya, wanita itu berdiri di depan pintu yang hanya terbuka sedikit saja. Dalam hati, ia memaki, ia menggerutu, ia menyumpahi, dan entah apa lagi namanya. Yang jelas semua kata-kata buruk siap keluar dari lisannya hanya untuk melampiaskan amarah yang terpendam. Dan tanpa berucap sepatah kata, ia langsung pergi, membawa kekesalan yang menuhi lubuk hati terdalamnya. Namun, dalam hati dan pikirannya, ia mulai menyusun rencana matang untuk mengambil semua yang harusnya menjadi miliknya.


"Aku akan marah bila ada yang berani mengganggu Yuna ku. Siapa pun!"


"Siapa pun?" Yuna mengulangi ucapan Zain dengan kening berkerut.


"Iya, siapa pun yang berani mengganggu Yuna ku, akan ku patahkan tangan dan kakinya. Tak perduli dia sahabat atau pun orang jauh." Cicit Zain dengan raut wajah menahan kesal. Kesal karena mengingat kejadian di lobi sepuluh menit yang lalu.


"Baiklah, kita lupakan kejadian tadi. Aku datang untuk memberi tahukan kabar baik, aku dapat pekerjaan." Yuna berucap dengan semangat empat lima. Wajah cantiknya mengukir senyuman semanis madu.


Berbeda dengan Zain, wajah tampannya jelas-jelas menunjukkan kekecewaan tingkat tinggi. Padahal ia yakin Yuna tidak akan mendapat pekerjaan dengan mudah. Dan bodohnya, dia sudah menyiapkan tempat di Lucca Entertinment untuk wanitanya itu. Sayang sekali, keinginannya harus pupus lantaran berita yang di bawa Yuna.


"Aku akan selalu berada di sisi mu seperti bayangan. Jadi, tidak perlu kecewa. Ini yang terbaik untuk kita ber dua." Yuna kembali menangkup wajah Zain, kali ini hanya dengan satu tangan.

__ADS_1


"Aku adalah seorang desainer, apa yang bisa ku lakukan jika aku bekerja disini? Mengatur jadwal para bintang? Itu bukan keahlin ku. Jadi maaf!" Yuna memeluk Zain, berharap pria-nya tidak akan kecewa lagi padanya.


"Iya, baiklah. Aku tidak akan kecewa lagi." Zain berusaha memaksakan diri untuk tersenyum.


"Sekarang katakan, dimana kau bekerja?"


"Maurer Group." Jawab Yuna singkat.


"Apa?" Tanpa sengaja Zain langsung berdiri hingga membuat Yuna yang duduk di pangkuannya terjatuh, kepalanya membentur meja.


"Auu... Punggung ku!" Cicit Yuna pelan.


"Aku terlalu terkejut sampai tidak menyadari apa pun." Zain membantu Yuna berdiri. Bukannya marah, Yuna malah terkekeh menatap wajah takut Zain. Saat pria rupawan itu ketakutan, ia terlihat seperti kucing manis yang kehilangan induknya.


"Tidak apa-apa."


"Sungguh, aku baik-baik saja."

__ADS_1


"Lihat." Yuna berputar, mencoba menyakinkan Zain kalau dia baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan walau tadi dirinya sempat jatuh membentur meja.


"Aku hanya ingin bilang, aku tidak setuju kau bekerja di perusahaan Maurer Group. Pemimpin perusahaan itu play boy. Aku tidak ingin dia men..."


Ucapan Zain tertahan di tenggorokannya saat Yuna secepat kilat melayangkan kecupannya di bibir selembut kapas itu. Zain terbuai, dadanya berdebar sangat kencang, seolah jantungnya akan loncat keluar.


Sebelum Zain protes, Yuna yang nakal mulai menghentikan permainannya di bibir itu.


"Aku tidak akan tergoda."


"Aku bisa pastikan itu!"


"Jadi, Pak Zain De Lucca. Secara sadar istrimu ini bilang kau pria tertampan di dunia."


"Itu artinya, aku tidak akan tergoda pada pria manapun. Tidak akan." Cicit Yuna sambil mengalungkan kedua lengannya di pundak Zain. Mereka saling balas tersenyum, itu memang keahlian Yuna Dinata untuk menenangkan hati seorang Zain De Lucca.


Tidak ada lagi ke khawatiran yang menyelimuti hatinya untuk melepas Bidadarinya berkerja di perusahaan milik Aroon, sahabat yang ia tahu selalu menggilai wanita cantik yang berkeliran di sisinya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2