
Tidak berguna? Dia mengatakan hal itu tanpa menatap wajah ku? Aku tidak ingin berada di tempat ini walau untuk satu detik. Batin Yuna sambil menyebikkan bibir tipisnya.
Seandainya aku tidak membutuhkan pekerjaan, aku jamin aku akan lari saat ini juga. Batin Yuna lagi. Ia mengambil air dari atas meja dekat sofa kemudian menyodorkannya pada Aroon sambil menampakkan senyum semanis madu. Tentu saja itu hanya senyuman yang coba Yuna paksakan.
"Air-nya!" Ucap Yuna dengan nada suara selembut sutra. Dalam hati, Yuna ingin memaki.
Mendengar suara asing, Netra Aroon membulat. Ia mendongak, menatap sosok indah yang saat ini berdiri di depan meja kerjanya. Fokusnya teralihkan, ia tersedak oleh salivanya sendiri dengan tubuh menegang.
"Ka-kau di sini? Sejak kapan?" Aroon bertanya dengan wajah gugup. Ia bangun dari kursi kebesarannya kemudian meraih segelas air yang di sodorkan Yuna padanya.
"Terima kasih." Ucap Aroon dengan wajah berbinar. Ia tersenyum penuh kemenangan. Menatap wanita anggun yang ada di depannya selalu saja menenangkan jiwanya.
__ADS_1
"Maaf."
"Maaf? Untuk apa?" Yuna bertanya dengan kening berkerut, wajah cantiknya mengukir kebingungan.
"Maaf untuk ucapan ku tadi. Aku pikir, yang datang itu adalah asisten ku. Ternyata aku salah, semonga Nona...."
"Yuna." Sambung Yuna cepat.
"Iya, Yuna. Semoga Nona Yuna tidak kesal dengan ucapan ku tadi. Aku tidak bermaksud buruk, aku hanya terlalu fokus dengan pekerjaan sampai-sampai tidak menyadari kehadiran anda di kantor ku."
"Sekarang katakan, apa yang harus saya lakukan agar Tuan menerima saya bekerja di tempat ini."
__ADS_1
"Haha! Tidak perlu terburu-buru. Sebaiknya kita minum teh dulu." Aroon tertawa seperti orang bodoh, niat hatinya ingin selalu berlama-lama berbincang dengan wanita seindah purnama di depannya. Sayang sekali, Yuna tidak berpikir seperti itu. Ia hanya ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat kemudian memberi tahukan kabar baiknya pada Zain, kabar baik kalau dirinya mendapat pekerjaan.
Lima menit berlalu sejak Aroon dan Yuna berada di dalam ruang yang sama, tidak ada pembicaraan yang terlalu berarti antara keduanya. Namun, tetap saja Aroon berusaha mengulur waktu.
"Bos, ini teh yang bos minta." Alex masuk ke kantor Aroon dengan membawa nampan berisi teh hangat dan kopi panas sesuai pesanan Aroon melalui sambungam telpon beberapa menit yang lalu. Alex meletakkan kopi di atas meja kemudian kembali berdiri di sisi kiri sofa, tepat di dekat Tuannya, Aroon Maurer.
"Jadi, Nona Yuna ini berasal dari Indonesia?" Aroon kembali membuka suara di antara senyapnya udara. Ia meraih cangkir kopinya dengan perasaan campur aduk. Bahagia dan gugup, itu lah yang ia rasakan saat ini.
Yuna yang di tanya hanya bisa menganggukkan kepala pelan, karena ini memang ketiga kalinya Aroon bertanya dengan pertanyaan yang sama. Entah pemuda itu lupa atau sengaja menanyakan hal yang sama, Yuna juga tidak bisa menebaknya. Yang ia tahu, ia harus bersikap sebaik mungkin di pertemuan pertama mereka. Ini memang konyol, dan buruknya ia tidak punya pilihan lain selain merasa senang di hadapan pria rupawan yang sebentar lagi akan menjelma menjadi Bos barunya.
"Kalau boleh tahu, di tempat ini Nona Yuna tinggal bersama siapa?" Aroon mencoba menggali informasi agar ia tahu kemana ia harus mengantar gadis pujaannya jika nanti ia memiliki kesempatan langka untuk mengantarnya pulang. Padahal ia tidak perlu bertanya karena semua informasi yang ia butuhkan telah tertulis dengan rapi di surat lamaran seorang Yuna Dinata.
__ADS_1
Memang dasar Aroon buaya, semua wanita ingin ia dekati. Akan kah Yuna terkena perangkapnya? Entahlah, semuanya tergantung Yuna. Jika ia berbeda dari kebanyakan wanita yang ada, maka bisa di pastikan ia tidak akan tergoda pada pesona yang di tawarkan seorang Aroon Maurer, pria rupawan dengan karisma mematikan.
...***...