
"Sayang, Baba mu sudah berangkat ke kantor. Sekarang, hanya ada kita berdua." Cicit Yuna sembari mengelus perut buncitnya. Kehamilan ini benar-benar mengubah kondisi kejiwaannya. Sekarang ia menjadi pribadi yang lebih dewasa. Dan lebih baiknya lagi, Yuna punya penasihat yang bisa ia andalkan. Penasihat yang selalu memberinya dukungan, selalu menyemangatinya dalam setiap keadaan, penasihat yang selalu menangis dan tersenyum bersamanya. Jika ada yang bertanya siapa dia? Dan iya, tebakan kalian tepat. Dia lah kakak ipar Yuna, Raina Salsadila. Wanita itu masuk dalam keluarga Dinata dan membawa perubahan luar biasa, tante Alya bisa bertemu dengan putranya, Andre, semua karena kak Raina. Kak Shawn menjadi sosok yang lembut juga berkat kak Raina. Dan satu lagi, Yuna hampir menyerah saat tahu Zain menderita HIV, namun berkat saran menakjubkan dari kak Raina, Yuna bisa bertahan hingga saat ini. Terkadang, orang yang berada di belakang layar, tak terlihat dan jauh dari pandangan, namun berkat dirinya semuanya menjadi indah.
"Nak, Umma berhutang banyak pada Ummi mu, Ummi Raina. Jadi nanti, saat kau besar jadilah wanita hebat seperti Ummi Raina." Yuna berucap masih dalam keadaan mengelus perutnya, bibir tipisnya tak bisa berhenti tersenyum. Ia bahagia, sangat bahagia sampai tak bisa di ukur dengan kata-kata.
"Kau tahu, nak? Ummi Raina itu wanita yang sangat baik. Dulu, Umma pernah berdebat dengan Baba mu dan mengatakan, Umma menyesal Mengikat Janji dengannya. Tapi sekarang, karena Terlanjur Mengikat Janji itu lah Umma merasa bahagia.
Terima kasih telah hadir di antara kami, kau merupakan anugrah terbesar dalam hidup Umma dan Baba." Ucap Yuna dengan lelehan air mata, ia berusaha bangun dengan sekuat tenaga. Perut buncitnya memperlambat gerakannya.
__ADS_1
"Sayang, sekarang waktunya shalat duha. Ayo kita lakukan." Ucap Yuna lagi setelah ia bisa berdiri dengan tegak.
"Konon katanya, mendidik anak itu di mulai dari kandungan. Dan saat ini Umma sedang mendidik mu untuk taat pada sang pencipta. Allah, Tuhan kita." Ujar Yuna sambil berjalan pelan.
Kaki bengkak Yuna berjalan langkah demi langkah, dan saat ini tangannya bergerak pelan membuka pintu kamar mandi. Musibah memang tak bisa di hindari, terkadang ia datang untuk menguatkan hati, sebagai wadah bagi jiwa agar semakin bertakwa. Dan entah kenapa kaki Yuna tiba-tiba lemas, Yuna tersandung oleh kakinya sendiri, ia terjatuh. Tubuh berisinya tak bisa di gerakkan, dan ia tidak bisa bangun.
Sss!
__ADS_1
Yuna berteriak, ia meringis, ia sangat kesakitan. Sangat sakit sampai tidak bisa menggerakkan sekujur tubuhnya yang saat ini tertidur di lantai kamar mandi. Tiga menit Yuna berusaha menahan sakit, ****** ******** basah, ia merasa seperti akan tiada. Apakah Malaikat maut akan datang dan menjemputnya? Tidak ada yang tahu itu.
"Honey where are you? Are you okay?" Zain yang baru masuk mulai bertanya, karena tidak menemukan Yuna ia langsung berlari ke arah kamar mandi yang pintunya terbuka setengahnya. Betapa terkejutnya Zain saat mendapati Yuna-nya sedang tergeletak tak berdaya. Wanitanya menahan sakit membuat Zain meneteskan air mata. Dan dengan sekuat tenaga Zain mengangkat tubuh lemah wanitanya, ia berlari menuju mobil dengan kepanikan luar biasa.
"Ayo cepat, kita ke rumah sakit." Sentak Zain pada Ben yang sedang membuka pintu mobil.
"Sabar sayang, sabar." Ucap Zain masih dalam keadaan panik. Apa setiap pria akan mengalami hal yang sama saat mendapati istrinya terjatuh seperti Zain De Lucca? Mungkin saja iya atau mungkin saja tidak, namun saat ini Zain seperti mati rasa. Ia tidak bisa berkata-kata, yang bisa ia lakukan hanya meneteskan air mata sembari memohon pada yang Kuasa agar Yuna-nya baik-baik saja. Sementara Tangannya? Tangan Zain tak bisa diam, ia mengusap lembut kepala Yuna yang terlihat tak berdaya karena menahan sakit luar biasa.
__ADS_1
...***...