
"Maaf kan aku karena membuat mu merasa menjadi seorang tamu. Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Karena dia, Yuna ku adalah hidupku. Dan Yuna ku lebih berharga dari nyawa ku." Ucap Zain sambil berbisik, tidak ada jarak di antara mereka, dan Yuna pun sudah pasrah untuk memberikan segalanya pada dia, pria tampan yang sudah mengikat janji dengannya. Mengikat janji di hadapan Tuhan dan juga keluarganya, di saksikan oleh jutaan orang yang mendoakan mereka untuk selalu bahagia.
"Aku berterima kasih pada Tuhan karena mengirimkan pria sebaik dirimu. Dalam hubungan ini memang masih banyak kekurangan. Tapi, aku janji akan menjadi sebaik-baik pendukungmu, dan tentunya dalam suka dan duka." Balas Yuna sambil menempelkan kening mulusnya di kening Zain. Ia bahkan tidak sadar kakinya menjinjit hanya untuk mensejajarkan tingginya dengan Zain.
"Ada rahasia besar yang ku sembunyikan darimu. Aku terpaksa memisahkan diriku hanya untuk menjagamu. Tolong, tunggu aku. Saat aku siap, aku akan mengatakan segalanya, hingga saat itu tiba, aku hanya ingin menghabiskan seluruh waktuku tanpa beban, bersama Mu wanita terbaik yang Tuhan pilihkan, Yuna Dinata." Ucap Zain tanpa bisa menatap wanitanya, otak cerdasnya tidak bisa bekerja, membayangkan Yuna pergi darinya membuat jiwanya merasakan sakit luar biasa.
Masalahnya memang tidak sesederhana yang dia pikirkan. Jika Yuna sampai mengetahui segalanya, maka jalan akhir di depan yang akan menunggu seorang Zain De Lucca hanya satu, yakni perpisahan yang menyakitkan.
"Aku ingin berada di ruangan yang sama bersama dengan Yuna ku. Sayangnya, aku masih khawatir akan diriku, khawatir tidak bisa mengendalikan diriku untuk tidak menyentuh-Mu." Zain mulai meneskan air mata memuntahkan kesedihannya. Iya, dia memang sangat sedih dan juga menyedihkan. Ada batu besar yang mengganjal di hatinya namun ia tidak bisa mengungkapkan segalanya.
"Kenapa meneteskan air mata?" Yuna bertanya dengan lirih.
"Jangan seperti ini. Kau tahu kan, melihat mu sedih, aku juga merasakan kesedihan yang sama?" Yuna menangkup wajah tampan Zain dengan jemarinya. Iris biru itu terlihat menyimpan kesedihan mendalam.
"Aku tidak akan meninggalkan mu bagaimana pun keadaan-Mu. Jika aku bertanya, apa kau akan menjawabnya?" Yuna kembali bertanya, padahal ia takut Zain akan mengabaikannya.
Zain menganggukkan kepala, ia kembali menempelkan dahinya di dahi mulus milik Yuna. Suasana pagi ini terasa hangat, dua anak manusia yang terlibat pernikahan namun belum berbagi apa pun sedang meluapkan perasaan yang menuhi rongga dadanya.
"Apa kau mencintaiku?" Yuna mulai bertanya tanpa keraguan. Begitu pun dengan Zain, ia menjawab tanpa keraguan. Tak sepatah kata pun keluar dari lisannya, namun kepalanya mengangguk pelan. Seolah cintanya cukup untuk mereka berdua.
"Apakah kau tidak ingin satu kamar dengan ku karena kau ingin menjagaku?" Yuna kembali bertanya hanya untuk meyakinkan dirinya. Lagi-lagi Zain hanya bisa menganggukkan kepala.
"Baiklah, aku terima segalanya. Jika orang lain tahu mereka pasti berpikir kita pasangan gila. Tapi, aku?" Yuna kenunjuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Aku percaya padamu, dan aku tidak akan bertanya alasannya lagi." Celoteh Yuna menyakinkan prianya.
Setiap istri pasti akan bertanya-tanya kenapa prianya tidak ingin satu kamar dengannya. Sejujurnya, Yuna pun demikian, ia penasaran dengan rahasia besar yang Zain simpan. Namun mulai hari ini, ia akan menunggu hari, hari di mana Zain terbuka padanya. Yuna yakin hari itu akan segera tiba.
...***...
Sementara itu, di Mourer group. Duduk seorang pria tampan dengan kaca mata yang hampir menyentuh hidung. Ia terlalu fokus dengan pekerjaannya hingga ia melupakan kopinya yang mulai dingin.
Di tangan kanan dan kirinya terdapat dua lembar poto yang menampilkan wajah cantik seorang wanita dengan memakai gaun yang bernilai ratusan juta. Ada senyuman seindah purnama yang terbit di wajah tampan itu, ia merasa puas karena impiannya menjadikan Mourer group mendunia sudah tercapai dalam dunia nyata.
"Apakah Tuan puas dengan hasil pemotretan kemarin? Jika Tuan tidak suka, saya bisa mengatur jadwal ulang agar Tuan bisa bertemu dengan Tuan Zain. Kemudian mengganti modelnya dengan model lain."
"Tidak perlu." Ucap Aroon sambil menatap asistennya.
"Hubungi Ploy, katakan aku mengundangnya untuk makan malam sebagai ucapan terima kasih karena pemotretan kemarin berjalan dengan lancar." Aroon menyerahkan hasil pemotretan kemarin pada asistennya kemudian beranjak bangun dari kursi kebesarannya.
"Tidak ada Tuan!"
"Apa kau yakin?"
"Iya, Tuan. Saya yakin."
"Apa Tuan menunggu panggilan dari seseorang?"
__ADS_1
Aroon yang di tanya oleh asistennya terlihat terkejut. Tidak mungkin ia berterus-terang kalau dirinya sedang menunggu panggilan dari seorang wanita yang tidak ia kenal. Itu akan menurunkan martabatnya sebagai seorang atasan.
"Tidak, aku hanya bertanya saja. Kau boleh pergi." Perintah Aroon sembari menyodorkan gelas kopinya untuk di ganti dengan yang baru.
Aku harus melupakan wanita itu, bisa-bisanya aku memikirkannya di saat seperti ini. Batin Aroon sambil menghadirkan wajah cantik yang selama sepekan ini membuatnya tidak bisa tenang.
Jatuh cinta pada pandangan pertama. Itu lah yang Aroon rasakan sehingga membuatnya tak tenang. Walau ia ingin mencari wanita itu, ia benar-benar akan kehilangan jejaknya, tidak ada alamat ataupun nama. Rasanya seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.
"Kenapa kau kembali? Bukankah aku memintamu mengambil kopi yang baru untukku?" Aroon menatap tajam kearah asistennya yang masih berdiri di depan pintu.
"Maaf, Tuan. Saya hanya ingin mengatakan, Nona Ploy ada disini!"
"Apa? Secepat ini?"
"Bukankah aku memintamu menghubunginya untuk nanti malam?"
"Untuk apa asistenmu menghubungi ku jika aku sendiri bisa menemuimu kapan pun yang ku inginkan." Celetuk Ploy begitu kepalanya menyembul dari balik daun pintu. Ia berjalan mendekati Aroon kemudian memeluknya dengan erat, seolah mereka tidak bisa di pisahkan.
"Hentikan! Alex menatap kita." Ujar Aroon sembari melepas pelukan Ploy.
"Kenapa? Apa asistenmu keberatan?"
"Ti-tidak, Nona!" Ucap Alex cepat kemudian ia berlalu dari hadapan dua makhluk indah yang berdiri di depannya.
__ADS_1
Sampai kapan pun, aku tidak suka terlibat dengan Nona Ploy, jika bukan karena Tuan yang memerintahkannya, aku tidak ingin bertemu dengannya. Dia terlalu menakutkan sebagai seorang wanita. Aku benar-benar heran, kenapa Tuan Zain dan Tuan Aroon mau berteman dengannya? Mereka berdua tampan dan cerdas. Sayangnya, mereka terlalu bodoh sampai menemukan teman seperti Nona Ploy Nan. Batin Alex sambil berjalan menuju pantry.
...***...