Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part 37


__ADS_3

"Waw. Amazing!" Untuk kesekian kalinya Aroon memuji hasil tangan Yuna.


Iya, setelah Alex meninggalkan Yuna dan Aroon. Tak henti-hentinya Yuna merasakan gugup. Ia tidak suka berada di satu ruangan bersama pria asing. Namun mau tidak mau, ia harus memaksakan diri dan melawan perasaan tidak sukanya.


Tak ingin berlama-lama, Yuna mulai menunjukkan bakatnya. Dengan keahlian yang ia punya, pakaian yang tadinya biasa saja kini tampak luar biasa. Sungguh, Yuna sendiri merasa takjub dengan hasil kerjanya. Lalu, bagaimana mungkin Aroon tidak akan merasa takjub. Tangannya bagai sihir, sekali ia gerakkan, semuanya berubah hanya dalam hitungan detik.


"Nona Yuna, selamat."


"Walau saya tidak mengatakan apa pun, Nona Yuna pasti tahu kalau Nona Yuna di terima di perusahaan ini dengan penuh rasa hormat."


"Mulai besok, Nona Yuna sudah bisa bekerja seperti karyawan pada umumnya, saya menyambut anda dengan rasa hormat yang tak terkira." Celoteh Aroon penuh semangat. Tak henti-hentinya ia tersenyum, ia merasa mendapatkan hadiah luar biasa. Aroon yakin dengan bergabungnya Yuna di Maurer Group, itu akan menambah nilai plus untuk perusahaannya. Akan seperti apa selanjutnya, Aroon pun sedang menantikan kejutan itu.


"Nona, Maaf."

__ADS_1


Ucapan Resepsionis itu berhasil membuyarkan ingatan Yuna tentang percakapannya dengan Aroon, percakaan yang menegaskan kalau dirinya di terima berkerja dengan rasa bangga. Dan saat ini, Yuna datang untuk mengabarkan beritanya, mengabarkan pada Zain kalau dirinya telah bekerja.


"Anda tidak bisa bertemu dengan Tuan Zain."


"Tuan sedang rapat, beliau berpesan tidak ada yang boleh masuk ke dalam kantor-nya jika beliau tidak ada di sana."


"Jadi, Nona tidak punya pilihan lain selain menunggu di ruang tunggu seperti tamu pada umumnya." Cicit Resepsionis itu lagi.


Seorang Resepsionis dengan rambut pirang sebahu, bicara pada Yuna dengan nada suara merendahkan. Sejak tadi, wanita itu terus saja menatap Yuna dengan tatapan meremehkan karena Yuna terlihat berbeda. Di antara semua karyawan wanita yang ada di Lucca Entertainment, hanya Yuna seorang yang menggunakan gamis lengkap dengan kain penutup kepala yang memiliki warna senada, Maroon.


"Tentu saja. Kau pikir aku ini berbohong?" Wanita berambut pirang itu bicara dengan nada suara tinggi. Ia bahkan menunjuk Yuna dengan tangan kirinya.


Yuna yang di perlakukan buruk di kantor suaminya hanya bisa mendengus kesal. Ia menatap ke kanan dan kiri. Ternyata, banyak karyawan berkumpul disana, semua mata menatapnya dengan tatapan tajam. Seolah Yuna lah yang bersalah.

__ADS_1


"Nona, bukankah kau terlalu kasar?"


"Aku hanya bilang, aku ingin bertemu dengan Tuan Zain. Kau tidak hanya menolakku, kau juga mengabaikan ku dengan ucapan dan perbuatanmu. Jika Zain tahu sikap kasar mu ini, apa kau pikir dia akan melepasmu?" Yuna balas bicara dengan nada ketus. Ia tidak pernah menyangka, siang hari yang ia bayangkan akan ia habiskan dengan saling membalas senyuman dengan Zain berakhir dengan perdebatannya dengan wanita muda dan arogan. Ternyata, kecantikan tidak selamanya melahirkan sikap sopan santun. Dan buktinya telah terlukis di depannya sendiri.


"Kenapa? Apa kau pikir semua orang akan membela mu? Kamu hanya wanita asing. Dan jangan pernah berharap Tuan Zain akan membela wanita seperti dirimu."


Huh!


Yuna membuang nafas kasar. Baru saja ia akan angkat bicara namun ia urungkan keinginan itu saat ia menyadari suara lantang berteriak dari belakang punggungnya.


Bagai di sambar petir di siang bolong, Yuna mematung. Ia hanya bisa menatap Zain yang saat ini berdiri di belakangnya. Netra biru pria itu tampak memerah. Wajahnya terlihat menahan amarah yang hampir saja meledak.


Oh my god. Prof.Zain. Dia sangat marah. Batin Yuna tanpa melepas tatapannya dari sosok rupawan itu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2