
Aku ingin kau tahu, diam-diam, aku selalu menitipkan harapan yang sama ke dalam beribu-ribu rintik hujan, aku ingin hari depan ku selalu bersama Mu. Biarlah aku jatuh cinta, dan biarlah waktu mengujinya. Dan semua derita ini ku namakan ujian sehingga cinta ku pada Mu akan di kenang sebagai cinta luar biasa, cinta yang semakin hari semakin membesar sebagai bukti nyata kalau kau berharga, sangat berharga melebihi nyawa ku. Zain bergumam di dalam hatinya tanpa bisa melepas tatapannya dari wajah cantik istrinya.
Lima menit telah berlalu, namun seorang Zain De Lucca masih tetap dalam diam. Entah apa yang dia pikirkan sampai-sampai ia tidak bisa berkata-kata. Apakah sungguh sesulit itu mengungkapkan segala resahnya?
"Mm!" Yuna berdeham, berusaha mencairkan suasana yang mulai terasa kaku di antara dirinya dan Zain.
Sungguh, Yuna sangat suka dengan suasana yang romantis. Saling berpengangan tangan kemudian saling mengungkapkan cinta. Tapi lihatlah Zain De Lucca! Dia sangat kaku, entah sejak kapan dia berubah menjadi pendiam.
"Sekarang katakan, ada apa?"
"Kenapa kau terlihat sedih?"
"Apa kau melakukan kesalahan?"
__ADS_1
"Jika kau tetap diam, bahkan semesta tidak akan membantu Mu!" Celoteh Yuna tanpa menghiraukan wajah sedih Zain.
"Aku minta maaf." Zain berucap dengan kepala tertunduk. Tangannya menggenggam erat jemari lentik Yuna Dinata, seolah pemilik jari itu akan meninggalkannya dan dia tidak ingin hal itu terjadi.
"Aku minta maaf." Ucap Zain lagi. Sontak hal itu membuat Yuna mengerutkan keningnya. Ungkapan maaf di sela-sela kebersamaan mereka, itu benar-benar terdengar aneh di telinga Yuna, tanpa berucap sepatah kata pun Yuna langsung mencubit hidung bangir suaminya. Sontak, hal itu membuat Zain melebarkan netra birunya.
"Apa sekarang kau sudah sadar?"
"Haha! Aku sudah bilang, jangan ada ucapan maaf atau terima kasih dalam hubungan kita. Jika aku sampai mendengarnya lagi, aku pasti akan menjewer telinga ini." Guyon Yuna sambil memegang telinga kanan Zain.
"Apa kau berselingkuh dari ku? Apa karena itu kau meminta maaf pada ku?" Tebak Yuna asal. Ia hanya bercanda namun tampaknya Zain menanggapinya dengan sangat serius.
"Ti-tidak. Aku tidak akan pernah berfikir untuk melakukan hal bodoh itu." Jawab Zain cepat. Ia terlalu takut untuk kehilangan Yuna. Lalu, bagaimana mungkin ia melakukan hal itu? Itu sama saja dengan bunuh diri dengan cara yang bodoh.
__ADS_1
"Apa aku bisa memegang ucapan Zain ku? Maksudku, apa aku bisa percaya ucapan itu seumur hidupku? Jika kau mengatakan iya, maka aku tidak akan pernah mempercayai siapa pun yang berusaha menghasudku!" Yuna bertanya dengan mata yang mulai menyipit. Zain menjawab Yuna hanya dengan anggukkan kepala pelan, karena itu memang kebenarannya.
"Yuna ku percaya atau tidak, Tuhan tahu kalau aku sangat mencintainya. Dan Tuhan Juga tahu, seumur hidupku, aku hanya ingin berada di sisinya." Zain menegaskan sambil memeluk erat tubuh ramping Yuna. Ia berucap dengan cara berbisik di telinga Yuna-nya, siapa pun yang melihat Zain saat ini pasti akan tahu betapa besar cinta pria itu untuk istrinya, dan sampai kapanpun, cinta itu tidak akan pernah terkikis oleh jarak dan waktu.
"Iya, baiklah. Aku percaya, dan aku tahu kau sangat mencintaiku. Dan kau sudah sering mengungkapkannya. Tapi, sepertinya, aku akan tiada..." Ucap Yuna dengan nafas terengah.
"Tidak akan ku biarkan." Balas Zain sembari memperkuat dekapannya.
"Sungguh, aku tidak bisa bernafas. Jika kau terus memelukku seperti ini, itu sama saja dengan membunuh ku." Celoteh Yuna sambil batuk-batuk.
Dengan cepat, Zain melepas pelukannya. Sedetik kemudian, mereka saling menatap dalam diam, kemudian tanpa di rencanakan kedua anak manusia itu saling tersenyum, mengekspresikan semua rasa yang ada dengan cara saling membalas senyuman.
Aku merasa lega kau membalas cinta ku dengan cara yang indah. Aku tidak pernah menyangka hidup liar seorang Zain De Lucca akan terasa bermakna setelah mendapatkan sosok sempurna seperti Yuna Dinata. Aku berjanji padamu dengan nyawaku sebagai jaminannya, aku akan selalu setia padamu, mencintaimu, dan juga menjagamu sampai di ujung usiaku. Gumam Zain di dalam hatinya, ia menatap bibir ranum istrinya, berharap ia bisa melahap bibir selembut kapas itu, lagi-lagi ia harus menahan hasratnya karena ia tidak ingin Yuna tertimpa musibah yang sama oleh pernyakit sialan yang saat ini menggerogoti sistem kekebalan tubuhnya.
__ADS_1
...***...