Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part 7


__ADS_3

Huh!


Yuna membuang nafas kasar dari bibir, Ia terkejut, dan di saat bersamaan Ia benar-benar ingin menangis. Tak ada bahu tempat bersandar membuatnya merasa menyedihkan.


Prof.Zain, aku membencimu. Gumam Yuna di dalam hatinya, Ia berusaha keras untuk bangun, rasa sakit di kakinya menahan gerakannya.


"Nona, apa kau baik-baik saja?"


"Maafkan aku!"


"Sopirku tidak menyadari kedatanganmu. Aku tahu dia ceroboh, kau bisa menghukumnya sesuai dengan keinginanmu."


Yuna terdiam melihat sosok sempurna yang saat ini bicara sambil membantunya berdiri. Rambut pria itu hitam, hidung bangir, mata sipit, kulitnya selembut sutra dan Ia memiliki kulit putih bersih, giginya tertata rapi laksana semut yang sedang berjalan beriringan, gadis manapun yang melihat pesona indahnya akan mudah jatuh cinta. Dan senyumnya? Senyumannya semanis madu.

__ADS_1


Benar-benar keajaiban apabila memiliki pendamping sesempurna pria yang ada di hadapan Yuna saat ini. Namun, tidak semua wanita mendambakan pria dengan paras sempurna, apa artinya ketampanan itu jika tidak bisa mendatangkan ketenangan bagi hati pasangannya? Sekarang, Yuna malah kasihan pada dirinya sendiri, Ia memiliki suami yang sangat tampan, namun pria itu lebih memilih untuk mengabaikannya dari pada menggenggam erat tangannya.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja."


"Anda bisa pergi jika anda mau."


"Ini murni kesalahanku, aku terlalu ceroboh dan tidak menyadari kedatangan mobil anda. Aku terlalu fokus dengan pikiranku sendiri." Ujar Yuna menegaskan, Ia berharap orang yang berdiri di depannya itu tidak menganggapnya melempar diri demi mendapatkan uang ganti rugi.


"Tidak.Tidak. Aku tidak akan pergi. Aku akan mengantar anda kerumah sakit, baru setelah itu aku bisa tenang."


Dua puluh lima menit kemudian, Yuna sudah berada di rumah sakit, Ia di periksa dengan teliti. Kakinya terkilir, Ia di anjurkan untuk beristirahat selama sepekan.


"Sekali lagi aku minta maaf. Karena keteledoran sopirku, kau mengalami musibah ini. Biasanya dia tidak ceroboh. Jika kau mau aku bisa memecatnya." Ucap Pria itu menyesal.

__ADS_1


"Itu tidak perlu. Aku baik-baik saja."


"Kalau boleh tahu, kau sedang apa disana?"


"Aku tinggal disana bersama..." Ucapan Yuna tertahan di tenggorokannya, Ia tidak bisa memberitahukan dengan siapa Ia tinggal, akan sangat mengecewakan jika Zain menolaknya saat Ia memperkenalkan pria itu sebagai suaminya. Yuna cukup tahu diri.


"Anda sendiri sedang apa disana? Aku tidak pernah melihat anda sebelumnya!" Yuna bertanya sambil menundukkan pandangannya.


"Aku akan menemui teman ku. Dia tinggal disana bersama istrinya. Aku berkunjung kerumahnya dan Mamanya bilang dia pindah ketempat itu." Ujar pria itu sambil tersenyum. Siapapun yang menatapnya akan mudah jatuh cinta. Eits, tunggu dulu, Yuna tidak masuk dalam kategori itu karena Ia tahu batasannya, batas antara hubungan pria dan wanita.


"Apa aku boleh bertanya?" Pria itu kembali membuka suara. Bukankah dia terlalu banyak bicara untuk seukuran orang yang baru bertemu? Mereka bahkan belum memperkenalkan diri.


"Kau jangan salah paham! Aku bukan pria seperti yang ada dalam pikiranmu!" Sambung pria itu lagi. Sontak, Yuna langsung tersenyum. Untuk pertama kalinya Ia tersenyum lantaran orang asing.

__ADS_1


"Memangnya apa yang ku pikirkan?" Yuna bertanya dengan suara pelan, keningnya berkerut. Ia menatap pria itu dengan tatapan heran. Mereka bertemu untuk pertama kalinya, namun rasanya seperti bertemu teman yang sudah lama terpisah.


...***...


__ADS_2