Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part 45


__ADS_3

Pulang!


Waktu menunjukan pukul 21.15 ketika Zain memutuskan untuk pulang. Langkah kakinya masih tertahan, ia sedang menunggu Yuna yang hingga sepuluh menit berlalu belum juga keluar dari toilet. Entah apa yang di lakukan wanita anggun itu sampai ia merasa betah berada di dalam sana, Zain sendiri merasa bosan karena Aroon telah meninggalkannya sejak tiga menit yang lalu.


Sementara itu di tempat berbeda, Yuna sedang berhadapan dengan Ploy yang sejak tadi menahan langkah kakinya. Wanita itu tidak membiarkan Yuna pergi walau Yuna sudah memintanya dengan baik-baik. Jika dengan cara yang baik tidak mempan, maka dengan segenap hatinya Yuna terpaksa harus bertindak kasar.


"Aku bukan wanita yang lemah."


"Aku tahu sejak pertemuan pertama kita, kau tidak menyukai ku."


"Tapi maaf, aku bukan tipe wanita yang akan bertindak baik pada wanita yang jelas-jelas ingin merebut suamiku." Ucap Yuna ketus. Ia bahkan tidak segan-segan memelintir tangan Ploy hingga wanita anggun itu meringis kesakitan.


"Lain kali jaga sikap Mu. Tidak selamanya aku akan memelintir tangan Mu. Karena bisa saja di lain waktu rambut mu yang akan ku tarik hingga beberapa helai akan tercabut." Ancam Yuna dengan mata setajam belati, ia bahkan sampai mengibaskan rambut Ploy hingga menutupi wajah cantik wanita itu.

__ADS_1


Baru saja Yuna berjalan, akan meninggalkan Ploy. Tiba-tiba saja wanita itu kembali memancing amarah Yuna dengan ucapan tajamnya. mengisyaratkan kalau Yuna hanya boneka tak berguna dan tak ada yang perlu di banggakan darinya.


"Apa maksud Mu?" Setelah berbalik, Yuna kembali menatap Ploy dengan amarah membuncah.


"Katakan apa maksud Mu?" Yuna menarik Ploy dan mendorong wanita itu hingga membentur dinding. Untungnya hanya ada mereka berdua di dalam toilet.


"Cih! Kau ingin menakuti ku?"


"Tidak akan bisa!"


"Kau begitu membanggakan suami Mu. Tapi nyatanya kau hanya boneka yang berkeliaran di dekatnya."


"Karena kau sudah tahu, maka akan ku ulangi sekali lagi. Aku sangat mencintai Zain. Tidak ada yang bisa memisahkan kami. Entah itu kau atau wanita lain. Kenapa?" Ploy bertanya pada Yuna dengan senyuman mengejek.

__ADS_1


Yuna yang tahu arah pembicaraan ini hanya bisa mematung dalam diam, bagaimana Ploy bisa tahu hubungannya dengan Zain? Tidak mungkin kan pria itu yang mengatakannya karena mereka bersahabat dekat?


"Kau bahkan tidak memiliki hak apa pun atas dirinya selain berkeliaran dan di panggil istri, kau suka itu?" Lagi, Ploy meledek Yuna dengan senyuman meremehkan.


"Jika kau bangga dengan itu semua, maka nikmati selagi kau bisa. Karena aku tidak bisa menjamin Zain akan bersama mu hingga akhir tahun." Cicit Ploy untuk kesekian kalinya.


Kali ini Yuna benar-benar geram, ia sangat marah pada Zain yang telah berani menceritakan hubungan rumah tangganya pada orang lain.


"Kita akan bicara di lain waktu. Untuk sekararang, aku ingin bertemu dengan suamiku." Setelah mengatakan apa yang ingin ia katakan, Yuna langsung meninggalkan Ploy sendirian. Mengabaikan wanita itu walau wanita itu berteriak memanggilnya untuk kembali.


Sementara itu di tepat parkir, Zain masih berdiri di dekat pintu mobil. Menantikan kedatangan Yuna, bahkan berkali-kali ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya namun Yuna tak kunjung datang juga.


Dua puluh menit! Iya, Yuna berpamitan padanya selama itu namun hingga detik ini wanita anggun itu belum juga kembali. Terbersit setitik kecemasan dalam diri Zain, ia berdoa di dalam hatinya agar wanitanya selalu baik-baik saja tanpa tergores sedikit pun.

__ADS_1


...***...


__ADS_2