
Zain mempercepat langkah kakinya, menyusuri anak tangga untuk menemui Yuna. Dia sangat merindukan wanitanya. Berharap untuk segera memeluknya, menyampaikan betapa besar cinta yang ia miliki untuk gadis Indonesia-nya itu. Hal pertama yang ingin Zain lakukan, ia ingin meminta maaf untuk setiap kekeliruan yang ia lakukan selama beberapa jam terakhir.
"Yuna, sayang. Kau di mana?" Zain mulai membuka suara di antara senyapnya udara, ia membuka pintu kamar Yuna yang sedikit terbuka. Kamar itu tampak gelap.
"Sayang, aku minta maaf. Aku mengaku salah, kau boleh menghukum ku. Dan aku tidak akan mengeluh untuk itu." Ujar Zain sembari menyalakan lampu. Tatapannya tertuju pada kamar mandi yang masih tertutup rapat. Zain merasa tidak ada yang aneh, ia duduk di ranjang, menanti Yuna di sana dengan sabar.
"Sayang, aku ingin bicara. Cepat, keluar." Lima menit berlalu namun Yuna tak kunjung keluar dari kamar mandi, dan hal itu membuat Zain mulai tak tenang.
Tok.Tok.Tok.
"Sayang, aku minta maaf. Ayo kita bicara, sebentar." Ucap Zain lagi, ia menempelkan telinganya di daun pintu dan menyadari tidak ada suara percikan air.
Waktu menunjukkan pukul 1.30 saat Zain memasuki kamar Yuna. Dan hal itu membuat Zain yakin Yuna-nya tidak ada di dalam kamar mandi. Tidak mungkin wanitanya mandi di tengah malam, tanpa berpikir panjang Zain langsung membuka pintu dan mendapati tidak ada siapa pun di dalamnya.
"Tidak ada siapa pun di sini, lalu di mana Yuna ku?" Zain mulai panik, ia merasa seolah jiwanya ke luar dari raganya. Zain meninggalkan kamar mandi, ia membuka lemari pakaian, semua baju milik Yuna masih ada di sana dan hal itu membuat Zain yakin Yuna masih ada di mansion Lucca.
__ADS_1
Dua menit Zain merasakan ketenangan sampai akhirnya ia menatap ke arah nakas, di sana terdapat segelas susu yang tersisa tinggal setengahnya, ada juga kertas dan sebuah pulpen, hal itu menarik perhatian Zain.
"Su-surat?" Kening Zain berkerut, tangannya mulai meraih kertas itu. Ia membacanya dengan perlahan. Air matanya mulai menetes, menandakan betapa besar takut yang menyelubungi hati dan pikirannya.
Zain De Lucca... Nama mu selalu bersemayam di hatiku, menandakan bahwa aku sangat mencintaimu. Untuk semua waktu yang kau habiskan di sampingku, dan untuk semua cinta yang aku temukan dalam dirimu, aku berterima kasih untuk itu.
Sebelumnya, kau ke kuatanku. Dan setelahnya, kau menjadi sosok yang aku pikir jauh darimu akan mendatangkan bahagia untukku.
Maafkan aku.
Zain tidak bisa menghentikan air matanya, hatinya terasa di tusuk jarum. Ia telah gagal menjadi suami yang baik. Ia sangat sedih mengetahui Yuna akan bahagia saat ia jauh dari wanita yang sangat ia cintai itu. Siapa yang harus di salahkan atas peristiwa ini? Zain mulai mengutuk dirinya.
Aku berpikir bagaimana aku melewati satu malam tanpa mu. Jika aku harus hidup tanpa mu, seperti apa kehidupan itu? Aku takut memikirkan semuanya, namun aku bahagia ada bagian dirimu di dalam diriku.
Zain terisak, ia duduk sembari memeluk lututnya, pertanyaannya pada Yuna tentang siapa ayah dari anak yang Yuna kandung membuatnya ingin menenggelamkan diri di dasar lautan. Ia malu, sangat malu karena telah melukai harga diri wanitanya.
__ADS_1
Terkadang, aku menangis saat berbaring di ranjang untuk menumpahkan isi hatiku yang tak bisa ku sampaikan. Aku selalu meyakinkan diriku bahwa Zain ku akan ada bersama ku dalam suka dan duka, karena aku di berkati oleh yang kuasa dengan cinta. Zain, cintamu pada ku merupan berkat untukku.
Zain memeluk kertas yang ada di tangannya, ia kembali meneskan air mata. Menyadari betapa bodohnya ia sampai berpikir sepicik itu.
Aku kecewa, dan malam ini aku sangat terluka. Ucapanmu dan ketidak percayaanmu terhadapku mengoyak jiwa dan ragaku. Walau setelah terluka sebesar itu, aku berusaha meyakinkan diriku kalau aku tidak bisa membencimu.
Maafkan aku, Zain. Aku tidak bisa menahan luka sebesar ini, aku pergi untuk menenangkan diri. Entah berapa lama waktu yang aku butuhkan, aku sendiri tidak tahu itu. Jaga dirimu. Dari ku gadis bodoh yang mencintaimu tanpa syarat.
Yuna Dinata.
Zain semakin terisak, ia kembali memeluk surat yang di tulis Yuna. Sungguh, dunia Zain berhenti saat itu juga. Akhirnya ucapan Ben menjadi kenyataan, Yuna meninggalkannya dan ia tidak tahu harus berbuat apa, Zain masih shock sampai tidak bisa menggerakkan tangan dan kakinya.
Huaaa!
Zain berteriak sekuat tenaga, dinding-dinding kokoh mansion Lucca terasa bergetar mewakili betapa besar duka yang menyelimuti raganya. Zain merasakan kepalanya sangat berat, dan penglihatannya mulai mengabur. Ia melihat Ben berlari kearahnya, dan di detik selanjutnya Zain mulai tak sadarkan diri.
__ADS_1
...***...