
"Dia istri ku!" Zain berucap dengan nada suara menggelegar. Giginya bergemeletuk, amarahnya telah sampai di ubun-ubun. Sorot matanya setajam belati, seolah ingin menguliti lawannya hidup-hidup.
Yuna bisa merasakan amarah Zain, amarah yang sanggup menghancurkan lawannya hanya dalam hitungan detik saja. Seandainya Yuna bisa menghilang, ia ingin menghilang saja agar tidak perlu terlibat dalam ke konyolan ini.
"Aku yang memberi mu makan. Berani sekali kau menunjuk istriku dengan tangan kotor mu. Apa kau ingin tiada, hah?" Zain kembali berteriak di depan wajah wanita itu. Tangannya terkepal, seandainya ia berhadapan dengan seorang pria, sudah di pastikan tinjunya akan melayang secepat kilat.
"Sudah. Hentikan."
"Semua orang sedang menatap kita." Dengan cepat Yuna memegang lengan Zain, menariknya mundur.
__ADS_1
"Untuk kalian semua, ingat wajah ini. Dia istriku. Dia istriku!" Tegas Zain dengan nada suara tinggi. Yuna yang ada di sisi kirinya terlihat gemetar. Maklum saja, untuk pertama kalinya ia melihat sisi segelap ini dari Zain De Lucca.
"Benz, usir wanita ini. Aku tidak ingin melihat wajahnya."
"Ma-maaf Tuan. Aku minta maaf. Aku yang bodoh. Aku yang gila. Aku yang tidak tahu malu. Aku minta maaf Nyonya. Aku minta maaf!" Celoteh Resepsionis itu sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada. Mata sipitnya tak bisa berhenti meneteskan air mata seolah hidupnya akan berakhir detik ini juga. Zain yang terlanjur kesal telah di butakan dalam amarahnya.
"Dan satu lagi, siapa pun yang berani mengganggu istriku, baik pria atau pun wanita, singkirkan mereka semua." Bentak Zain pada asistennya. Amarah telah memenuhi pori-pori tubuhnya. Sebaik apa pun nasihat yang di berikan, percuma saja karena itu tidak akan bisa menembus lubuk hati terdalamnya.
"Maaf!" Ucap Zain menyesal. Ia mendaratkan kecupannya di tangan Yuna kemudian beralih melayangkan kecupannya di kening mulus istrinya. Ingin hati meraup bibir selembut kapas milik Yuna. Sayang sekali, ia tetap saja tidak bisa melakukannya. Dan ini merupakan musibah terbesar dalam hidup seorang Zain De Lucca.
__ADS_1
"Untuk?" Tanya Yuna singkat.
Yuna dan Zain saling menatap dalam diam. Saling mengunci, melebur dalam perasaan cinta yang menenangkan jiwa. Bahkan senyapnya kantor Zain siang ini menandakan dua insan yang saling jatuh cinta ingin melebur menjadi satu. Akan kah itu terjadi? Yuna sendiri tidak tahu jawabannya. Yuna tidak pernah memaksakan keinginannya, biarkan semuanya berjalan apa adanya. Selama Zain mencintainya dan selalu bersikap baik padanya, ia akan menanti dengan sabar, menanti saat Zain siap menerima dirinya lahir dan batin.
"Kau tidak pernah melakukan kesalahan!"
"Lalu, untuk apa minta maaf?" Tanya Yuna lagi, ia menangkup wajah tampan Zain dengan kedua tangannya, mencoba mencari jawaban untuk rahasia tersembunyi di dalam netra biru milik Zain De Lucca. Sayang sekali, Ia tidak bisa menemukan apa pun, seolah semuanya akan selalu terkubur dalam diamnya Zain.
"Ini lah alasannya kenapa aku ingin membuat-Mu tetap berada di sisi ku agar semua orang tahu kau milik Zain De Lucca, sehingga tidak akan ada yang berani mengganggu Mu, apa lagi sampai berani menunjuk mu dengan tangan kotornya." Keluh Zain dengan wajah memelas, ia menarik Yuna dan membiarkan wanitanya duduk di atas pangkuannya, mencium aroma rambut Yuna yang tertutup kain penutup kepala menjadi candu baru baginya.
__ADS_1
"Tetap berada di sisi ku, dan jangan pernah jauh dari pandangan ku." Zain mengeratkan pelukannya, mengabarkan pada Dunia kalau bahagianya hanya bisa ia raih saat berada di sisi gadis Indonesia-nya, Yuna Dinata.
...***...