Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part 8


__ADS_3

"Bukankah kau berpikir aku pria aneh? Atau bisa saja, kau memikirkanku sebagai pria mesum?" Pria di depan Yuna bertanya menuntut jawaban cepat, kening mulusnya berkerut.


Bagai pencuri yang tertangkap sang empunya rumah, Yuna tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Karena sebenarnya, Ia berpikir pria yang ada di depannya hanya pria mesum yang mencoba mencari kesempatan.


"Ti-tidak. Aku tidak pernah berpikir seperti itu tentangmu. Lagi pula, mana ada pria tampan sekelas dirimu akan bersikap mesum pada wanita seperti diriku, kau pasti punya tipe sendiri, kan?" Ujar Yuna cepat, Ia berusaha membalik keadaan agar pria di depannya tidak tersinggung.


"Iya, kau benar."


"Pria sepertiku, memang punya kelas tersendiri." Celoteh pria itu sambil menatap Yuna dari atas kebawah. Bibir indahnya mengukir senyuman, entah Ia meledek atau sekedar guyonan, Yuna benar-benar tidak bisa menebaknya.


Huekkkk!


Rasanya Yuna ingin muntah mendengar ucapan pria aneh itu. Sayangnya, Ia tidak bisa melakukannya saat pria yang ada di depannya terus saja mengawasinya seperti mata elang.


"Haha! Kau benar." Ucap Yuna merendah.

__ADS_1


"Urusan kita sudah selesai. Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan. Aku akan pergi, sekarang." Sambung Yuna lagi. Ia merunduk memberi hormat, setelah itu Ia berjalan pelan dengan kaki yang masih terasa sakit.


"Hay, Tunggu dulu. Aku belum tahu namamu." Pria itu berteriak setelah Yuna lumayan jauh dari posisi berdirinya.


"Yuna. My name is Yuna Dinata!" Ujar Yuna sebelum Ia menghilang di balik dinding rumah sakit.


...***...


Dua jam berlalu sejak insiden rumah sakit, sekarang Yuna sudah ada di dalam apartemen sambil menenteng beberapa kebutuhan pokoknya. Wajah cantiknya terlihat lesu. Maklum saja, rencananya untuk mencari pekerjaan gagal total di sebabkan kecerobohan yang dia lakukan.


Tanpa berucap sepatah katapun, Zain langsung menggendong Yuna dan meletakkannya di sofa. Yuna tersenyum. Ia merasa di hargai. Tampak jelas kekhawatiran di wajah tampan Zain De Lucca saat melihat Istri cantiknya kesakitan. Namun, yang menjadi misteri, kenapa sikap Zain berubah seratus delapan puluh derajat sesaat setelah mereka tiba di Thailand? Rahasia apa yang di sembunyikan Zain? Dan hal itu benar-benar mengganggu pikiran Yuna.


"Bukankah aku sudah bilang agar kau tidak perlu keluar rumah!"


"Kenapa kau sangat keras kepala!"

__ADS_1


"Untuk apa mencari pekerjaan jika aku sendiri sanggup memberimu segalanya?"


"Kau benar-benar tidak mendengarkan!"


"Jika kau sakit, apa kau pikir aku juga tidak akan merasakan...." Ucapan Zain tertahan di tenggorokannya saat menyadari Yuna menatapnya sambil tersenyum.


Bagi Zain, dia sedang mengomeli kecerobohan istrinya. Tapi, bagi Yuna. Omelan Zain terdengar bagai ungkapan cinta yang memiliki makna berbeda. Apakah Yuna kehilangan akal sehatnya? Jawabannya tentu saja tidak, karena dalam cinta terkadang mata dan hati hanya ingin menerima yang indah-indah saja. Bukannya menghiraukan Zain dengan segala keluh kesahnya, Yuna malah mengalungkan kedua lengannya di pundak suaminya.


"A-apa yang kau lakukan?"


"Kau tahukan kau tidak boleh melakukan ini?"


"Lepaskan tanganmu!" Ujar Zain sambil berusaha melepaskan kedua lengan Yuna yang melingkar di pundak kekarnya, Zain sedikit kesulitan karena Yuna semakin mempererat kedua lengannya.


Apa yang kau ucapkan berbeda dengan apa yang kau pikirkan. Kau bicara ketus padaku, tapi kau lebih sakit saat melihatku terluka. Aku akan setia walau bagaimanapun keadaannya. Kau tahu Zain? Cinta berusaha membuat lebih bahagi, daripada menjadi sekedar bahagia. Gumam Yuna di dalam hatinya, Ia memeluk Zain dengan perasaan bahagia. Cinta yang bersemayam dalam hatinya murni karena Allah. Akan seperti apa kisah cinta ini selanjutnya? Yuna sendiri tidak tahu jawabannya, biarlah semuanya berjalan apa adanya tanpa perlu memaksa Zain melakukan hal yang tidak di inginkan hatinya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2