
Kesal!
Satu kata itu kini memenuhi rongga dada seorang Yuna Dinata. Bagaimana tidak, saat ia ingin bertahan dan berdiri di sisi seorang Zain De Lucca, suaminya itu entah ada dimana. Dan disaat ia menemukan prianya, langkah kakinya tertahan ketika ia melihat wanita dengan pakaian kurang bahan berdiri di samping suaminya. Sontak hal itu membuat Yuna kesal, dan saat ia ingin melarikan diri untuk pulang ke apartemen, lagi-lagi kesabarannya di uji dengan kehadiran seorang bocah gembul yang tiba-tiba menabraknya hingga membuat gaun yang ia kenakan terlihat kotor bagai terkena muntah.
"Aist! Salahku kenapa aku harus datang ketempat ini, aku bahkan tidak mengenal siapa pun. Haruskah aku marah? Pada siapa?" Gerutu Yuna sembari berjalan pelan mendekati mobil yang beberapa jam lalu mengantarnya hingga di depan pintu Hotel.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Yuna bisa melihat ada lima orang pengawal yang berdiri di dekat mobil, mereka mengenakan pakaian serba hitam. Dua wanita dan tiga pria. Entah apa yang mereka diskusikan sampai mereka tidak menyadari kehadiran Nonanya, Yuna Dinata.
"Apa kau tahu?" Salah seorang pengawal wanita mulai membuka suara sembari menatap dengan intens keempat rekannya.
"Aku terkejut saat melihat penampilan Nona. Mataku tidak bisa berkedip saat melihat kecantikannya, gadis muda dengan aura luar biasa. Aku yakin siapa pun yang menatapnya pasti akan kagum melihat kecantikannya.
Aku menghabiskan setengah hidupku di Thailand, dan anehnya, aku tidak pernah melihat kecantikan manapun yang bisa menandingi kecantikan Nona kita."
__ADS_1
Jauh di dalam hatinya, Yuna merasa tersanjung mendengar ucapan pengawal wanitanya. Ia merasa seperti sedang memakan permen, semuanya terasa manis
"Iya, kau benar." Sambung pengawal berjenis kelamin pria sambil menyodorkan roti kepada rekan pengawal lainnya.
"Walau Nona kita memakai pakaian kurung yang jarang di gunakan oleh orang Thailand, tapi pesonanya tidak kalah di banding si norak Ploy Nan yang selalu berusaha mendekati Tuan."
Glek!
Yuna menelan saliva, ia membuang nafas kasar dari bibir sembari menatap tajam kearah kelima pengawal yang masih belum menyadari kehadirannya.
Untuk sesaat, Yuna merunduk sembari menghadirkan wajah wanita cantik yang sempat ia lihat berdiri di dekat Zain sebelumnya. Wanita seksi dengan pakaian terbuka yang memperlihatkan belahan dadanya.
"Apakah dia orangnya? Wanita dengan sikap manja yang...." Ucapan Yuna menghilang di udara saat membayangkan wanita itu, ia merinding membayangkannya.
__ADS_1
"Kalian! Apa kalian sedang membicarakanku? Dan buruknya, di belakangku? Apa kalian tidak takut di pecat?" Yuna pura-pura tidak tahu, padahal ia mendengar semua yang di katakan pengawal yang bertugas menjaganya.
"Mam-maaf Nona. Kami hanya..."
"Sudah, lupakan. Berikan jas yang kau pakai itu!" Yuna menunjuk jas yang di gunakan pengawal wanita yang ada di depannya.
Tanpa berani membantah, pengawal wanita itu langsung melepaskan jas yang ia gunakan, dan di berikan pada Yuna.
"Apa Nona akan memakai itu?"
"Iya, memangnya kenapa? Apa ini terlihat aneh?" Yuna bertanya sambil berputar setelah jas hitam itu menutupi setengah tubuhnya, terutama bagian bekas tumpahan ice cream.
"Pakaianku terkena noda ice cream. Aku tidak mungkin masuk kedalam dengan pakaian kotor." Ucap Yuna dengan bibir mengerucut, ia tidak menyadari kelima pengawal yang berdiri di depannya ingin tersenyum melihat tingkah kekanak-kanakannya.
__ADS_1
Sejujurnya Yuna tidak ingin berada di pesta itu, namun mendengar pengawal mengatakan ada wanita seksi yang mencoba merayu prianya, nalurinya sebagai seorang istri timbul begitu saja untuk menjaga apa yang dia punya.
...***...