
Sepekan berlalu sejak Yuna meninggalkan rumah. Zain, pria pemilik iris biru itu masih gencar mencari istrinya. Namun hingga kini belum ada tanda-tanda di mana keberadaan wanitanya, dan hal itu membuat Zain berada dalam dilema. Sungguh, Zain sudah tidak sabar lagi.
Dan selama sepekan ini, ia menghabiskan waktunya untuk bekerja tanpa memperhatikan kondisinya. Iris biru yang biasanya terlihat berkilau kini tampak redup seperti tak ada lagi kehidupan untuk pemiliknya. Bulu-bulu halus mulai tumbuh di wajah tampan Zain. Mau bagaimana lagi, hati dan pikirannya hanya tertuju pada Yuna, ia bahkan tidak makan dengan benar.
"Tuan, ini informasi yang tuan minta." Setelah meletakkan dokumen di depan Zain. Ben mulai menatap tuannya dengan tatapan selidik.
Tuan, anda itu pintar. Bukan hanya pintar, tapi sangat pintar. Kenapa tuan bertindak bodoh? Batin Ben tanpa melepaskan tatapan anehnya pada Zain.
"Jangan menatap ku seperti itu, kau terlihat seperti berandalan yang ingin berontak."
Seperti pencuri yang tertangkap sang empunya rumah, Ben langsung menundukkan pandangannya. Kali ini ia tidak berani membuka mulutnya.
"Tanyakan apa pun yang kau ingin kan. Dan jangan menatap ku seperti itu lagi, aku tidak suka melihat mu." Ujar Zain sambil membuka amplop yang ada di tangannya.
__ADS_1
Belum sempat Zain mendengar pengakuan Ben, tubuhnya terlihat bergetar. Ia menatap tajam pada kertas yang ada di tangannya. Bagaimana Zain tidak terkejut, hal yang selama ini ia yakini ternyata hanya kebohongan belaka. Bahkan karena berita bohong itu ia selalu menjauhi Yuna.
"A-aku tidak menderi HIV? Apa semua ini benar?" Zain bertanya, ia tersenyum.
"Kenapa tuan bertanya seperti itu, bukankah tuan tahu kalau tuan tidak pernah menderita penyakit itu?" Ben membalas pertanyaan Zain dengan pertanyaan. Wajah tampannya terlihat terkejut.
"Haha!" Zain terkekeh untuk mengekspresikan bahagianya. Ia ingin berteriak untuk melepaskan duka yang selama ini memberatkan jiwanya. Melihat tuannya bertingkah seperti orang tidak waras membuat Ben mengerutkan keningnya.
Zain kembali membaca dokumen yang ada di tangannya, tawa renyahnya kini menghilang di gantikan kemarahan, ia sangat marah sampai wajah tampannya terlihat memerah.
"Aku memberimu waktu selama dua puluh empat jam, jika kau tidak bisa menemukan wanita itu, kau sendiri yang harus mengorbankan diri." Sentak Zain lagi, di saat seperti ini Ben selalu menjadi sasaran kemarahan tuannya. Mau bagaimana lagi, ia hanya asisten, ingin melawan pun percuma, tidak akan berguna.
"Tinggalkan aku sendiri. Jangan biarkan siapa pun masuk ke dalam ruangan ku selama kau tidak menemukan ja-lang itu." Celoteh Zain dengan mata menyala.
__ADS_1
Tanpa berucap sepatah kata, Ben langsung berjalan mundur, meninggalkan Zain sendirian dengan segala keruwetan pikirannya. Baru saja Ben keluar, di depan pintu ia bertemu dengan Ploy Nan, wanita itu datang dengan tampilan memukau.
Ben yakin, siapa pun pria yang menatap wajah cantik bak bidadari milik Ploy Nan, pasti akan tergoda. Kecuali tuannya, Zain De Lucca. Dan sekarang, pria pemilik iris biru itu tidak bisa di ganggu, ia seperti singa yang akan menerkam mangsanya hidup-hidup.
"Maaf nona. Anda tidak boleh masuk." Ben memegang tangan Ploy Nan yang sudah menempel di gagang pintu.
Ck! Ploy berdecak kesal. Melihat Ben membuatnya ingin menendang kaki asisten tidak tahu diri itu.
"Tuan tidak ingin di ganggu. Jika nona ingin bicara, anda bisa kembali besok saja." Ben mencoba memperingatkan. Tidak baik bagi Ploy jika dia sampai keras kepala.
"Jangan kurang ajar, Ben. Aku ini sahabat baik tuan mu. Dan kamu..." Ploy melepaskan tangannya dari genggaman Ben.
"Kau hanya pelayan rendahan. Beraninya sekali kau memegang tangan ku, kau bahkan tidak pantas menjadi kaus kakiku." Sentak Ploy sambil melipat kedua lengan di depan dada. Wanita itu telah di butakan oleh rasa rindunya pada Zain, ia bahkan mengabaikan Ben yang mencoba memperingatkannya.
__ADS_1
Akan seperti apa kejutan yang akan di peroleh Ploy dari balik daun pintu kantor Zain, tidak ada yang tahu. Semoga saja pertemanan yang terjalin sejak usia belia bisa menyelamatkannya dari pria rupawan pemilik iris biru itu, Zan De Lucca.
...***...