
Malam yang di nanti-nantikan oleh semua karyawan Lucca entertainment dan Maurer Group akhirnya tiba juga. Malam bertabur bintang dengan kemewahan tak terkalahkan. Sejak magrib tiba, para tamu mulai berdatangan. Selain datang untuk bertemu idola mereka, menikmati hidangan yang telah di siapkan menjadi hal yang paling di inginkan.
Pesta!
Satu kata yang selalu di minati oleh kalangan muda di tengah kesibukannya bekerja. Sama seperti malam ini, semua orang berkumpul di bawah atap yang sama untuk merayakan kebahagian Zain De Lucca, kebahagiaan karena perusahaan hiburan yang ia bangun dengan kerja kerasnya membuahkan hasil.
Bahkan saat ia memilih datang ke Indonesia dan meninggalkan perusahaannya di bawah pengawasan asistennya, ia masih yakin perusahaan hiburan yang ia bangun akan berkembang dengan cepat. Dan lihatlah sekarang, semua orang memujinya, dan semua bintang besar bernaung di bawah kendalinya. Bukan hanya dalam urusan bisnis, ia bahkan menemukan cinta sejatinya, wanita tercantik di dunia yang sanggup membuat jantungnya berdebar cepat saat ia menatapnya dari ke jauhan, Yuna Dinata. Gadis anggun yang pesonanya sanggup memabukkan Zain De Lucca.
"Amazing!" Seorang wanita dengan pakaian kurang bahan bersorak gembira. Tangan dan kakinya tidak bisa diam, tubuh kurusnya melenggok lihai mengikuti alunan musik yang di mainkan DJ bertato.
Kelap-kelip yang bersumber dari lampu yang terpasang di setiap area ballroom terasa sangat menyilaukan. Menyilaukan bagi Yuna yang sejatinya tidak terbiasa dengan pesta bergaya anak muda, bebas dan menakutkan.
__ADS_1
Ya Allah... Sepertinya aku datang ke tempat yang salah. Alkohol? Di tempat ini? Batin Yuna sembari menutup hidungnya, ia menutup hidungnya karena wanita yang berdiri di dekatnya tak bisa berhenti menenggak isi gelasnya hingga tandas.
Zain, kau membawa ku kemana? Seharusnya kau katakan konsep pesta yang kau inginkan seperti ini. Ku akui aku memang mendatangi tempat ini dan memeriksanya beberapa kali, tapi apa ini? Alkohol? Di tempat ini? Aku tidak suka! Yuna kembali bergumam di dalam hatinya, suara musik yang terlalu keras membuat jatungnya berdegup kencang. Lantai dansa yang sebelumnya ingin ia coba bersama Zain, kini tidak ada lagi keinginan untuk itu. Berada di tengah-tengah peminum atau penyuka alkohol membuat Yuna merinding, rasanya ia ingin berlari meninggalkan pesta ini kemudian tidur di kamarnya tanpa ada penyesalan.
"Kau tahu? Aku dengar istri tuan Zain wanita yang sangat arogan. Aku juga melihat vidionya. Vidio saat ia bertengkar dengan Ploy Nan." Ucap salah seorang wanita yang berdiri di depan Yuna. Yuna tersenyum kecut, mengekspresikan keterkejutannya.
Arogan! Bukankah itu terlalu berlebihan? Semua orang yang mengenalnya akan berpendapat kalau Yuna gadis dengan kepribadian sempurna, cantik, lembut, dan di tambah baik hati. Yuna tidak bisa menjambak rambut wanita di depannya karena telah berkomentar buruk tentang dirinya, yang bisa ia lakukan hanya mengabaikan, mengabaikan setiap komentar yang akan membuatnya terluka.
"Eee! Nona Ploy tidak akan bisa menjambak wanita itu, ia menggunakan keset di kepalanya."
Deg!
__ADS_1
Nafas Yuna seolah terhenti, ia yang tadinya bersikap biasa-biasa saja kini ingin menghajar sekumpulan wanita yang telah berani menghinanya.
Keset! Wanita menyebalkan itu mengatai hijabnya seperti keset? Ucapan apa lagi yang lebih menyakitkan dari ini? Tanpa berpikir panjang, Yuna langsung mendekati mereka. Niat awalnya, ia hanya ingin menasihati sekumpulan wanita yang menggunakan baju kurang bahan itu untuk tidak menghina keyakinan dan prinsif hidupnya. Sungguh, tantangan Yuna menjadi seorang muslimah di negara gajah putih itu jauh lebih besar ketimbang wanita muslimah yang tinggal di Indonesia.
"Hay girl, my name is Yuna. Zain wife." Ujar Yuna begitu ia berdiri di depan sekumpulan wanita yang sedang mangatainya. Beberapa wanita yang tadinya sibuk membicarakan Yuna kini tampak malu karena melihat pesona indah sosok yang menurut mereka datang dari planet asing.
"Aku seorang muslim, dan ini..." Yuna memegang ujung pasminanya sembari menatap satu per satu wanita berpakaian kurang bahan yang berdiri di depannya. Islam mengajarkan pemeluknya untuk selalu menebar kebaikan, dan tentunya bersikap lemah lembut dalam setiap keadaan.
"Sehelai kain yang ku pakai ini, aku menyebutnya jilbab, dan dengan sehelai kain ini pula aku menutupi aurat ku. Bagiku memakai kain penutup kepala jauh lebih berharga dari nyawaku, karena ini adalah identitasku.
Ini bukan keset seperti yang kalian katakan tanpa pemahaman. Ini juga bukan sekedar sehelai kain, beginilah caraku menjaga kehormatanku." Ungkap Yuna dengan tatapan tak terbaca. Tadinya ia ingin memberikan gadis-gadis itu pelajaran, namun sikap lemah lembut yang selalu Rasulullah contohkan berhasil menekan keinginannya untuk membalas mereka.
__ADS_1
...***...