
Sepekan yang di janjikan Ploy Nan hampir berakhir, gadis anggun itu baru saja keluar dari mobilnya. Kini ia berjalan pelan laksana model yang sedang melenggang di atas catwalk. Ia hanya berjalan melewati lobi namun semua mata seolah tertuju padanya, kecantikannya memang sanggup menarik seseorang untuk menatapnya berlama-lama. Senyuman yang terukir di wajahnya menjelaskan kalau ia sangat berterima kasih orang-orang memperhatikannya. Apa lagi yang lebih baik dari ini? Sesungguhnya, seorang aktris seperti dirinya tidak akan bisa hidup tanpa penggemar.
"Selamat siang nona Ploy." Seorang karyawan wanita di perusahaan Lucca Entertainment menyapa Ploy dengan ramah. Wanita itu bahkan sampai memperbaiki bajunya yang terlihat sedikit berkerut di bagian pergelangan tangan agar terlihat rapi di depan Ploy Nan.
Tidak ada balasan dari Ploy selain senyuman tipis di wajahnya, tentu saja itu hanya senyum paksaan. Tujuannya datang ke perusahaan Lucca Entertainment untuk menemui Zain, dan bukan menebar senyuman pada karyawan rendahan seperti wanita berkacamata yang ada di depannya.
Ada apa dengan badut ini? Aku lebih suka dia tidak menyapaku. Berada di dekatnya membuatku merinding. Batin Ploy sambil menatap asistennya yang saat ini berdiri tepat di sampingnya. Tatapan tajam Ploy menginstruksikan agar asisten payahnya segera menghalau wanita di depannya agar ia tidak perlu berpura-pura tersenyum.
"Maaf, nona Ploy sedang sibuk. Apa anda bisa pergi sekarang." Asisten Ploy mencoba bicara dengan tenang, ia mendorong wanita itu secara perlahan agar menjauh dari Ploy Nan.
"Saya ingin bicara dengan nona Ploy, sebentar saja. Ini tidak akan memakan waktu, saya janji." Ucap wanita itu memelas, ia bahkan sampai menangkupkan kedua tangan di depan dada. Ploy yang seorang aktris papan atas, tentu saja sangat mudah baginya untuk tersenyum paksa namun terlihat tulus.
"Nona, saya punya adik yang sangat mengidolakan nona. Adik saya menderita cancer, saat ini ia sedang berjuang untuk hidup dan matinya. Dan sebelum adik saya di rawat di rumah sakit, ia berharap saya bisa berfoto dengan nona. Apa saya boleh berfoto dengan nona? Tolong!" Ucap wanita itu lagi.
"Sekali saja!" Sambung wanita itu lagi.
__ADS_1
"Baiklah. Mari kita lakukan." Balas Ploy acuh. Walau ia tidak suka, ia terpaksa harus melakukannya.
Ploy dan wanita berkaca mata itu berdiri di depan lift. Sementara asisten Ploy sedang bersiap mengambil potret dua wanita yang kecantikannya terlihat berbeda seratus delapan puluh derajat.
Satu. Dua. Tiga.
Ceklek!
"Terima kasih, nona. Anda mungkin tidak tahu, tapi bagi saya dan adik saya apa yang ada lakukan hari ini bagai mentari yang menghangatkan." Celoteh wanita berkaca mata itu dengan senyuman lebar, ia pergi setelah merunduk untuk menghormati Ploy.
Kini ploy berada di lift yang akan membawanya bertemu Zain. Wajah cantiknya tampak kesal. Ia kesal karena tanpa seizinnya ada orang tidak berguna yang berani menghalangi jalannya.
"Aku tidak ingin kuman dari wanita itu menyebar di tubuhku. Dia meminta foto? Aku memberikannya. Berani sekali dia memegang tanganku. Dasar payah." Gerutu Ploy sambil mengolesi tangannya dengan Hand-sanitizer.
Lima menit kemudian, Ploy sudah berada di depan kantor Zain. Sebelum masuk ia memperbaiki riasannya agar terlihat bak bidadari. Ia tidak tahu, orang yang coba ia luluhkan tidak akan pernah menatapnya dengan tatapan cinta.
__ADS_1
"Hai Zain." Sapa Ploy begitu ia membuka pintu.
"Apa kau sibuk?"
"Ayo kita keluar, aunty ingin aku membantumu memeriksa acara pesta untuk besok malam." Celoteh Ploy untuk kesekian kalinya. Zain yang di ajak bicara terlihat tidak mendengarkan.
"Apa kau tahu, Zain? Hari ini aku bertemu dengan seorang wanita di lobi, wanita itu meminta foto padaku. Dia bilang adiknya yang sedang sakit menginginkan itu." Ploy berusaha membanggakan diri, ia berjalan kearah meja kerja Zain sambil menenteng kopi yang ia terima dari asistennya.
"Ploy, aku tidak ingin di ganggu. Apa kau bisa kembali di lain waktu." Zain mulai membuka suara di antara senyapnya udara. Ia tampak kelelahan padahal ia tidak melakukan apapun sejak pagi.
"Zain aku kesini untuk..." Ucapan Ploy tertahan di tenggorokannya karena Zain menatapnya dengan tatapan tajam. Tidak ada sikap ramah, yang ada hanya kekesalan.
"Cukup Ploy! Aku bilang aku ingin sendiri. Apa kau tidak mendengarku karena kita terlalu lama menjadi teman?" Sentak Zain dengan mata yang mulai memerah. Netra birunya yang biasanya bersinar kini tampak meredup bagai tidak ada kebahagian yang tersisa untuknya.
"Ini benar-benar menyebalkan." Ujar Zain kesal. Kerinduannya pada Yuna membuat akal sehatnya tak bekerja, bukan hanya Ploy yang mendapat semprotan amarahnya, asistennya juga telah menerima bagiannya.
__ADS_1
Aku tidak tahan lagi, aku harus menemuinya. Aku harus pergi kekantor Aroon dan melihat bagaimana keadaannya. Batin Zain sembari bangun dari kursi kebesarannya, ia melangkah dengan cepat, meninggalkan Ploy yang tampak terkejut mendengar sentakannya tadi.
...***...