
"Nona Yuna, jangan percaya padanya jika dia bilang dia datang ketempat ini hanya untuk menemuiku." Guyon Aroon sambil menunjuk Zain yang terlihat tegang.
"Aku bersumpah, selama Maurer Group berdiri, walau hanya sekali saja, bos besar ini tidak pernah mengunjungi ku. Dan lihatlah sekarang, dia muncul di kantorku seolah besok akan terjadi gempa bumi." Sambung Aroon lagi, ia terkekeh sambil menatap wajah bersemu memerah milik Yuna.
Gdebuk!
Zain yang marah karena mengetahui dirinya di jadikan lelucon melempar wajah Aroon dengan bantal kecil yang ada di pangkuannya. Aroon menghentikan tawanya, kini giliran Yuna yang tertawa melihat tingkah kekanak-kanakan dua pria rupawan yang ada di depannya.
Zain dan Aroon menatap Yuna yang masih tertawa lepas.
"Apa ini lucu?"
__ADS_1
"Aku senang melihat Yuna ku tertawa seperti itu. Jadi, tetaplah tertawa. Kau selalu cantik di mataku." Sanjung Zain tanpa melepas pandangannya. Saking bahagianya, dan tanpa di rencanakan air mata Zain menetes membasahi wajah tampannya kemudian mendarat tepat di atas punggung tangannya. Jika di ceritakan, semua ini akan terdengar bagai omong kosong belaka, namun itulah kebenarannya, seorang Zain De Lucca mencintai Yuna Dinata melebihi segala yang ada di semesta. Jauh dari Yuna membuat raganya seolah terpenjara, ia dilema, dan ia merasakan derita, hanya dekat bersama wanitanya hatinya merasakan bahagia tiada terkira, itulah cinta. Jika cinta bisa membuatmu bahagia, maka cinta juga bisa membuatmu menangis dalam derita.
Yuna ku!
Dada Aroon terasa sesak mendengar kata itu, ia merasa seperti piguran dalam cerita cinta milik Zain De Lucca. Untuk menyembunyikan hacurnya hatinya, Aroon pura-pura tersenyum. Siapa lagi yang lebih mengetahui rasa sakit ini selain Aroon?
"Baiklah, sekarang kita sudahi ungkapan cinta ini. Tuan Zain De Lucca, sekarang katakan, kenapa kau muncul di sini tanpa pemberi tahuan?" Aroon bertanya, ia terlihat serius.
"Dan nona Yuna, apa kau datang kemari karena melihat tuan ini datang?" Aroon beralih pada Yuna, ia menatap sepasang suami istri yang ada di depannya.
Pikiran Aroon tertuju pada acara pesta untuk besok malam, pesta perayaan yang ketiga tahun berdirinya Lucca Entertainment.
__ADS_1
"Iya, nona Yuna bisa pergi. Sekarang." Ujar Aroon menegaskan. Ia berucap untuk menggoda Zain. Aroon tahu dengan pasti, Zain datang hanya untuk menemui Yuna.
Aroon... Apa kau sedang menggodaku? Jika Yuna sampai pergi aku pasti akan mematahkan rahang mu! Gerutu Zain di dalam hatinya. Seandainya Yuna tidak ada bersama mereka, sudah di pastikan Zain akan menghajar sahabatnya itu.
"Zain, apa aku bisa pergi? Sekarang?" Yuna bertanya, ia menatap netra biru Zain tanpa mengedipkan mata.
Zain yang terlanjur terdesak, terpaksa menganggukkan kepala pelan. Sangat pelan hingga ketidak relaannya melihat Yuna pergi tergambar dengan jelas di wajah tampannya. Sontak, hal itu membuat Aroon ingin tertawa lepas. Namun sekuat tenaga ia menahan diri agar tidak memancing kemaran Zain.
Setelah Mendapat izin dari Zain, Yuna langsung pergi menuju tempat di adakannya acara besok malam. Di sebuah hotel yang terletak di pusat kota.
"Nona, bagaimana pendapat nona tentang tempat ini?" Bim bertanya, asisten yang sengaja Aroon siapkan khusus untuk membantu Yuna merancang gaun terbaiknya. Bim takjub melihat dekorasi sempurna yang terpampang di depan matanya. Walau tahu jawaban seperti apa yang akan di dengarnya, Bim tetap saja bertanya.
__ADS_1
"Amazing!" Cicit Yuna dengan netra membulat sempurna. Tatapan matanya tertuju pada lantai dansa. Entah kenapa ia memikirkan dirinya sedang menari di iringi lagu cinta di tempat itu bersama Zain De Lucca, pria tampan dengan segudang pesona yang sanggup memabukkan jiwa.
...***...