Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part (81)


__ADS_3

Setelah perdebatan singkatnya, Yuna memilih untuk pergi meninggalkan Zain sendirian. Saat ini ia berdiri di pantry perusahaan Maurer, mematung sambil memegang segelas air.


Sejak pagi Yuna tidak memakan apa pun, mendengar perutnya berbunyi ia segera berjalan menunju pantry, berharap akan menemukan sesuatu untuk mengganjal perutnya yang lapar. Sayang sekali, tidak ada apa pun di sana selain air mineral dan kopi.


Prang!


Yuna terkejut.


Gelas yang ada dalam genggamannya terlepas, kepalanya pening. Untungnya, tubuh kecilnya tidak terjatuh ke lantai. Karena di detik selanjutnya ada sosok kekar yang menangkap tubuhnya. Untuk sesaat mereka saling menatap, sama-sama terdiam. Entah kenapa ada ketakutan yang menyelimuti hati Yuna Dinata, ia merasa sesuatu yang besar telah menanti di depannya. Semoga saja itu bukan hal yang buruk.


"Maaf!" Ujar Yuna dengan suara pelan begitu ia kembali fokus. Ia berusaha berdiri lurus, tangan kirinya memijit ujung pelipis.


"Aku tidak tahu, tiba-tiba saja kepala ku terasa sangat sakit. Aku hilang kendali, di tambah..." Ucapan Yuna menggantung di udara. Jika ia meneruskannya, ia yakin sosok kekar yang berdiri di depannya akan memarahinya. Padahal ia tidak perlu menjelaskan apa pun, karena mereka tidak sedekat itu untuk saling berbagi rasa atau pun cerita. Namun mau bagaimana lagi, Yuna tidak ingin terjadi kesalah pahaman di masa mendatang.


Perut Yuna berbunyi, dengan cepat ia memegangi perutnya. Berharap suara aneh itu tidak akan keluar lagi.


Krukk!


Sungguh di luar prediksinya. Suara aneh itu kembali terdengar dari dalam perutnya. Membuat Yuna ingin sembunyi, ia ingin berlari dan menghindar namun kakinya tidak bisa di gerakkan.

__ADS_1


"Kenapa? Apa kau malu? Ck!" Sosok yang berdiri di samping Yuna bertanya dengan nada kesal.


"Apa si payah itu tidak memberimu makan sebelum berangkat bekerja? Aku tahu ini akan terjadi, baginya pekerjaan yang paling utama." Sambung sosok yang berdiri di depan Yuna, wajah tampannya terlihat garang. Sejujurnya, melihat ekspresi sosok rupawan itu membuat sudut bibir Yuna terangkat, gadis Indonesia itu tersenyum, ia merasa terhibur.


"Tuan Aroon bisa saja." Cicit Yuna sambil tersenyum tipis. Entah kapan terakhir kali ia tersenyum. Apa kemarin? Atau sebulan yang lalu? Ahh, entahlah. Yuna tidak bisa mengingatnya. Sebulan ini ia memang sangat tertekan, emosinya naik turun, terkadang ia menangis, dan tubuhnya mudah lelah.


Apakah ini tanda...? Pikiran Yuna membawanya pada hal yang mustahil. Ia menghela nafas kasar, seolah sikapnya mengabarkan pada Aroon kalau kondisinya sendang tidak baik-baik.


"Ayo kita ke kantin, nona Yuna harus makan. Setelah itu kita ke rumah sakit." Ujar Aroon dengan ke khawatiran tingkat tinggi. Bagaimana tidak khawatir, wajah Yuna terlihat pucat.


"Yang ku inginkan sekarang, aku ingin ke rumah sakit. Sekujur tubuh ku terasa remuk, padahal aku tidak pernah melakukan hal yang berat." Lapor Yuna dengan wajah bingung. Emosinya lah yang menggiringnya menuju kondisi ini. Yang ia ingat hanya kekesalannya pada Zain yang telah berani melupakan moment kebersamaan mereka.


"Apa? Menyebalkan? Aku?" Aroon menunjuk dirinya, jelas terlihat ketidak pahamannya terhadap kondisi ini.


"Maaf, maksudku bukan tuan Aroon yang menyebalkan. Tapi orang lain." Ucap Yuna cepat. Ia khawatir Aroon akan salah paham.


"Aku akan memanggil Zain, dan memintanya mengantar nona Yuna kerumah sakit."


"Itu tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri. Aku bisa melakukannya." Jawab Yuna pelan. Ia tidak ingin membuat Zain khawatir, terlebih lagi perdebatannya pagi ini membuatnya tidak nyaman.

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkan nona Yuna pergi sendiri, aku takut terjadi hal buruk. Wajah mu terlihat pucat." Timpal Aroon, ia bersikeras untuk mengantar Yuna.


Dua jam kemudian, Aroon dan Yuna sudah berada di rumah sakit. Setelah melakukan pemeriksaan ringan, Yuna di minta menemui dokter kandungan. Tiba-tiba saja perasaan bahagia menelusup masuk membelai lembut lubuk hati terdalam seorang Yuna Dinata. Tidak ada sepatah kata yang keluar dari bibirnya, senyuman manis menghiasi bibir tipisnya, menggambarkan betapa besar rasa syukurnya.


"Tuan, selamat. Anda akan menjadi seorang ayah. Saat ini usia kandungan istri anda memasuki minggu ketiga."


Glekk!


Aroon menelan saliva, ia terkejut. Sangat terkejut sampai tidak bisa mengedipkan mata. Berbeda dengan Yuna, gadis itu nampak bahagia. Hal yang ia nantikan akhirnya tiba juga. Ia berharap akan mendapatkan putra semanis Hasan anak dari kakak lelakinya, Shawn Praja Dinata.


"Pep-pregnant? Are you sure?" Aroon bertanya dengan mata membulat, antara percaya dan tidak.


Jauh di dalam hatinya, Aroon masih sangat mencintai Yuna. Ia bahagia melihat Yuna bahagia, namun ia tidak menyangka akan mendapatkan kejutan sebesar ini saat ia sedang berusaha menata hatinya.


"Saya yakin seratus persen kalau istri anda sedang mengandung. Anda harus menjaga agar kandungannya baik-baik saja, jangan biarkan dia setres."Ucap dokter itu lagi.


"Terima kasih, dokter. Dan maaf, beliau bukan suami ku, dia atasan ku di kantor. Beliau membantu ke rumah sakit karena aku merasa tidak enak badan." Ucap Yuna menjelaskan posisi Aroon pada wanita paruh baya yang ada di depannya, ia harus melakukannya karena ia tidak ingin ada yang salah paham dengan kondisinya.


Nak, terima kasih sudah datang di antara aku dan daddy mu. Mommy yakin, kehadiran mu akan mengingatkan Daddy tentang waktu yang sudah kami habiskan bersama. I love you. Batin Yuna sembari mengelus perutnya yang masih rata. Rasanya ia ingin segera pulang dan mengabarkan berita besarnya pada Zain De Lucca, pria tampan pemilik iris biru.

__ADS_1


...***...


__ADS_2