
Zain terlihat berjalan sempoyongan memasuki mansion Lucca, kepalanya sakit. Sangat sakit sampai ia tidak bisa membuka matanya. Tubuhnya pun terasa panas. Untuk pertama kali dalam hidup ini Zain merasakan sekujur tubuhnya tak bisa di kendalikan, seolah tubuhnya bukan miliknya lagi.
Di pesta, hampir saja ia lepas kontrol, namun untungnya, asistennya sangat sigap sehingga ia tidak melakukan kesalahan yang sama.
Jarum jam menunjukkan angka empat tepat saat Zain memasuki mansion Lucca. Zain terbawa suasana sampai ia tidak bisa meninggalkan pesta. Apa ia kembali menjadi Zain yang dulu? Zain yang selalu menghabiskan malamnya di luar, entah apa yang menahan langkahnya hingga ia menghabiskan waktu selama itu untuk jauh dari Yuna-nya.
Sekujur tubuhnya masih terasa panas, padahal di mansion Lucca terdapat banyak pendingin ruangan, sangat dingin sampai-sampai Yuna yang terlelap di sofa menutupi tubuhnya dengan dua selimut.
Iya, Yuna tertidur di sofa. Menunggu Zain menjadi hobi barunya. Sebenarnya, setiap malam Yuna selalu menunggu Zain di sofa yang sama, ia berlari ke kamar begitu mendengar suara mobil Zain memasuki bagasi.
Gdebuk!
Zain tersungkur, kakinya tersandung oleh kaki sofa. Netranya terasa berat. Ia bahkan berjalan sambil berpegangan pada setiap benda yang bisa di jangkau oleh tangannya.
__ADS_1
"Kenapa kau selalu pulang malam? Kau tidak tahu, kan?" Yuna bergumam di dalam tidurnya. Sontak, hal itu berhasil mengalihkan fokus Zain. Perlahan, netranya mulai terbuka.
Netra biru milik Zain yang biasanya terlihat bersinar, kini tampak memerah. Ia telah di butakan oleh kabut gairah. Seandainya Yuna tersadar dan melihat penampilan Zain, sudah di pastikan wanita itu akan kecewa melihat penampilan suaminya. Rambutnya acak-acakan. Jas yang tadinya terlihat sempurna di tubuh Zain De Lucca kini tampak berantakan. Sangat buruk hingga Yuna akan merasa kesal melihat kekoyolan yang tersaji di hadapannya.
"Aku selalu menunggu mu, di tempat ini. Dengan harapan, saat kau pulang kau akan tersenyum melihatku, kemudian kau melayangkan kecupan hangat di puncak kepalaku." Yuna masih bergumam di dalam tidurnya, ia tidak tahu kalau Zain sedang memperhatikannya. Cahaya temaram di ruang tengah mansion Lucca menambah keromantisan malam ini.
"Aku sangat mencintai mu. Kau alasan dari bahagiaku, kau juga alasan dari kesedihanku. Kenapa kita tinggal di kamar terpisah? Kenapa? Aku tidak suka. I hate you Zain, but I always love you." Yuna meneteskan air mata, entah sebesar apa luka yang ia simpan di hatinya sampai ia menangis di dalam tidurnya.
Zain yang menyaksikan air mata istrinya mulai terbawa perasaan. Tanpa berpikir panjang, Zain mulai meraup bibir tipis istrinya. Awalnya, ia melakukannya dengan perlahan, mengetahui ada yang aneh Yuna mulai membuka mata. Ia ingin melepaskan diri, namun Zain mulai mengunci tubuhnya hingga tidak ada pergerakan dari Yuna Dinata.
"Hentikan Zain. Hentikan." Yuna berontak, ia mendorong Zain cukup keras hingga pria itu terjatuh. Kepalanya membentur ujung meja. Sebenarnya, Yuna merasa kasihan. Aroma minuman beralkohol yang bersumber dari pakaian Zain membuat Yuna jijik. Hal itu memantik emosinya.
"Aku sudah bilang, aku benci minuman beralkohol. Apa kau menyesal menikahi ku? Apa kau sangat marah karena aku selalu melarangmu?" Yuna berucap dengan nada suara tinggi, ia membersihkan bibirnya dengan pasmina. Aroma minuman beralkohol yang bersumber dari pakaian yang Zain kenakan membuat Yuna mual.
__ADS_1
"Aku tidak minum." Ucap Zain setengah sadar.
"Jika kau tidak minum. Lalu, ini apa?" Yuna menunjuk baju Zain yang masih basah terkena tumpahan minuman laknat itu.
"Ini..." Zain berusaha untuk bangun, ia berpikir bagaimana ia bisa terlibat dengan minuman itu, minuman yang tidak pernah ia sentuh sejak ia memasuki ballroom hotel, sayangnya ia tidak bisa menemukan jawabannya.
"Aku bersumpah atas namamu, aku tidak meminum-minuman itu. Kau wanita yang paling ku cintai, aku tidak akan berbohong padamu." Zain berusaha menjelaskan, namun ia tidak bisa menahan berat badannya hingga ia kembali bersimpuh di lantai.
"Baiklah, untuk kali ini aku memaafkan mu. Jangan pernah ulangi lagi." Celetuk Yuna sembari mengulurkan kedua tangannya, ia berusaha membantu pria rupawan itu untuk berdiri.
Bukannya menerima uluran tangan Yuna, Zain malah menarik wanitanya. Yuna jatuh tepat di atas pangkun Zain, dan tanpa menunggu aba-aba, Zain kembali melahap bibir mungil istrinya, ciuman itu semakin dalam, entah kenapa Yuna mulai terbawa situasi, permainan tangan dan bibir Zain membuatnya seolah terbang ke awan. Otaknya tak bisa berpikir, Zain sendiri masih merasakan panas di tubuhnya. Ia ingin melepas sahwatnya, ia telah di butakan oleh nafsunya sampai tidak menyadari tangan nakalnya mulai melepaskan gamis yang Yuna kenakan.
Zain, aku mohon, hentikan. Kita tidak bisa melakukan semua ini. Sunggguh, aku siap memberikan semua yang ada dalam diriku hanya untuk mu. Namun aku takut!
__ADS_1
Aku takut kau tidak akan bisa menatap wajah mu di cermin saat kau mengetahui kalau kita telah melakukannya. Yuna ingin mengatakan itu, namun belaian lembut tangan Zain di tubuhnya menghentikan dirinya. Sejujurnya, Yuna juga menikmati apa yang mereka lakukan pagi ini. Iya, ini sudah pagi, karena satu jam kedepan azan subuh akan mulai berkumandang.
...***...