Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part (80)


__ADS_3

Yuna terlihat sinis, mendengar ucapan Zain memantik emosinya. Entah kenapa akhir-akhir ini ia mudah marah. Apa karena ia selalu menyembunyikan emosinya? Entahlah, Yuna sendiri tidak tahu. Yang ia tahu saat ini ia hanya ingin Zain meninggalkannya sendirian sehingga perdebatan bisa di hindari.


Yuna mulai berdiri, ia memilih untuk pergi. Tidak jauh-jaiuh. Hanya di balkon untuk meredam emosinya.


"Aku belum selesai bicara, kau mau kemana?" Sentak Zain sembari memegang pergelangan tangan Yuna, ia memegangnya cukup keras hingga Yuna merasakan nyeri.


"Lepaskan aku, Zain."


"Aku tidak ingin bicara."


"Kita akan bicara jika kau sudah ingat segalanya." Ujar Yuna sembari menghempaskan tangan Zain dari pergelangan tangannya. Bagai bom molotov yang siap meledak, sorot mata Zain sangat tajam. Jujur, Yuna mulai merinding.


"Apa aku hanya lelucon bagimu?"


"Apa ucapanku tidak berarti untuk mu?"

__ADS_1


"Atau kau punya pria lain dalam hidup mu karena aku menderita..." Ucapan Zain tertahan di tenggorokannya, ia masih belum sanggup menyampaikan beritanya. Amarahnya kali ini cukup besar hingga ia sanggup meluluh lantakkan semua hal yang mengganggu jalannya untuk bahagia.


Bagai di sambar petir di siang bolong, sekujur tubuh Yuna tak bisa di gerakkan. Ucapan Zain terlalu menyakitkan. Bagaimana tidak menyakitkan, secara sadar pria itu memberikan tuduhan palsu terhadapnya. Pria lain? Yuna bahkan tidak pernah membayangkan itu walau hanya di dalam mimpi sekalipun.


Plakk!


Satu tamparan mendarat tepat di pipi kanan Zain. Rasanya itu masih tidak cukup untuk melampiaskan amarahnya, dengan terburu-buru Yuna meraih tasnya. Ia ingin meninggalkan rumah secepatnya untuk menghindari perdebatan semakin membesar.


"Aku belum selesai." Zain kembali meraih pergelangan tangan Yuna, cengkraman cukup kuat membuat Yuna berusaha menahan sakit. Entah apa yang di pikirkan pria itu hingga membuat Yunanya merasakan sakit seperti itu. Apakah cintanya hanya kebohongan? Apa pun namanya, yang jelas saat ini Yuna merasakan sakit, di hatinya.


"Jika kau belum selesai, lalu apa yang akan kau lakukan?" Yuna berucap dengan satu tarikan nafas, air matanya mulai menetes. Sungguh, dada Zain berdebar sangat cepat, rasanya seperti jantungnya di tusuk oleh ribuan jarum. Ia kesakitan, ia juga merasakan kesedihan mendalam melihat Yuna-nya meneteskan air mata. Ia merasa gagal menjadi manusia. Rasanya ia ingin memeluk Yuna, namun egonya menghentikannya untuk melakukan semua itu.


"Aku sudah menyiapkan sarapan mu di atas meja, kau bisa sarapan jika kau mau. Aku sudah terlambat." Yuna mengambil tas di atas ranjang, ia meninggalkan Zain yang masih berdiri mematung sendirian.


Zain ingin mencegah Yuna agar tidak pergi, namun pikirannya berkelana. Ia berusaha mencari alasan di balik kemarahan Yuna, namun buruknya, ia tidak bisa memikirkan alasan apa pun. Memorinya kosong.

__ADS_1


"Haist! Dasar payah. Sebenarnya kejadian besar apa yang ku lupakan?" Gerutu Zain pada dirinya sendiri, ia mengusap wajahnya dengan kasar.


...***...


Waktu menunjukkan pukul 14.50 namun tidak ada tanda-tanda Zain akan beranjak dari kursi kebesarannya. Sejujurnya, ia masih memikirkan alasan di balik berubahnya sikap Yuna selama sebulan terakhir. Lagi-lagi ia tidak bisa menemukan jawabannya. Dari awal, seharusnya Yuna berterus-terang saja, jika ia berterus terang, kebingungan ini tidak akan pernah terjadi.


"Memang dasar wanita, dia benar-benar makhluk yang rumit." Celoteh Zain dengan tatapan tajam pada layar laptopnya yang masih menyala.


"Tuan, wanita itu bukan makhluk yang rumit. Mereka sangat anggun. Dan di antar semua wanita, hanya nyonya wanita yang paling sempurna di mataku." Ucap Ben berterus terang, asisten Zain.


Bukannya merasa senang wanitanya di puji, Zain malah melempar dada Ben dengan pulpen yang ada di tangannya.


"Apa kau bosan hidup? Apa kau ingin tiada sekarang?" Zain menatap Ben dengan tatapan membunuh.


"Dia itu wanita ku, dan yang berhak menyanjungnya hanya diriku. Ini peringatan pertama dan terakhir untukmu." Ucap Zain singkat. Ben yang mendengar tuannya hanya bisa mengangguk pasrah.

__ADS_1


Tuan, anda terlalu bodoh untuk bisa memahami keadaan ini. Masalahnya ada pada nona Ploy Nan, semoga saja tuan tidak terlambat untuk menyadarinya. Batin Ben sembari berjalan pelan kearah meja kerja Zain, ia meletakkan pulpen itu tepat di samping tangan tuannya.


...***...


__ADS_2