Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part (86)


__ADS_3

Perdebatan dalam rumah tangga bisa saja terjadi, dan seburuk-buruknya perdebatan terkadang harus berakhir dengan satu kata yakni 'perpisahan' siapa pun yang berada dalam posisi Yuna pastinya sangat ketakutan dengan satu kata itu. Bagaimana lagi, semuanya telah terjadi. Dan saat ini Yuna telah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk dalam hubungannya dan Zain.


Prakk!


Zain membanting pintu kamar Yuna, membuat gadis itu terkejut kemudian bangun dari ranjangnya. Wajah cantik itu terlihat kusut, tidak ada kebahagiaan yang nampak. Yang membuat Zain semakin sedih, mata Yuna seolah mengiris jantungnya. Tatapan wanitanya menjelaskan, bersama dirinya Yuna tidak pernah bahagia. Zain yang terlanjur terbakar dalam kemarahan tidak lagi menghiraukan kesedihan Yuna, ia hanya berpikir semua masalah harus di tuntaskan hari ini tanpa perlu menunda esok atau lusa.


"Aku belum selesai, kita harus bicara." Zain memegang kedua lengan wanitanya, membantu Yuna untuk berdiri.


"Sekarang katakan, siapa ayah dari anak yang kau kandung?" Sambung Zain lagi.


Pertanyaan Zain sangat singkat, namun bagi Yuna, itu terdengar bagai kutukan. Yuna yang terlanjur kecewa memilih mengabaikan Zain, ia ingin pergi namun lagi-lagi Zain menahannya dengan mencengkram kuat kedua lengannya.


"Aku bertanya padamu, anak siapa yang kau kandung? Asal kau tahu saja, aku tidak akan melepaskan bajingan itu." Zain berteriak, menghancurkan seluruh kepercayaan dan cinta yang ada dalam diri Yuna untuk dirinya.

__ADS_1


"Cukup Zain. Cukup." Yuna berucap dengan sisa tenaga yang ia punya. Ia tidak ingin berdebat lagi.


"Kau melupakan segalanya, aku bisa mengerti itu. Sekarang, aku hanya punya sedikit keyakinan yang masih tersisa. Aku mohon, jangan hancurkan apa yang masih tersisa di dalam diriku." Ucap Yuna dengan derai air mata.


"Aku tidak perduli, aku hanya ingin kebenaran." Zain kembali berteriak, dan hal itu membuat Yuna sangat terkejut.


"Kebenaran apa yang kau inginkan? Kau ingin tahu pria kurang ajar mana yang menghabiskan malam dengan ku? Aku tidak punya jawabannya jika kau sendiri tidak percaya padaku." Yuna balas meneriaki Zain. Bukan hanya berteriak, Yuna juga mendorong dada Zain dengan kedua tangannya, cukup kuat sampai Zain mundur beberapa langkah.


"Kebenaran apa yang kau inginkan? Kebenaran tentang dirimu yang tidak mengidap HIV? Atau kau ingin mendengar kebenaran tentang betapa bodohnya aku?" Yuna menyeka air matanya, ia menatap Zain dengan kesedihan luar biasa.


"Haha!" Seperti orang tidak waras, Zain terkekeh, ia menepuk tangan merayakan betapa bodohnya ia karena tidak menyadari rahasia yang ia sembunyikan terkuak di saat yang tidak tepat.


"Jadi, selama ini kau hanya berpura-pura baik padaku? Kau mengasihani ku, Yuna Dinata? Kau tahu aku menderita HIV, dan seperti orang bodoh aku menerima setiap perlakuan manis mu.

__ADS_1


Aku membenci mu karena berbohong dan tidak berterus terang di depan ku. Aku sangat membencimu. Aku tidak ingin melihat wajah mu." Zain berteriak untuk kesekian kalinya. Setelah memuntahkan amarahnya, Zain keluar dari kamar Yuna dengan kemarahan yang memenuhi seluruh pori-pori tubuhnya. Meninggalkan Yuna yang masih duduk di lantai dengan derai air mata yang tidak bisa berhenti menetes.


Sepuluh menit berlalu sejak kepergian Zain, Yuna masih duduk di lantai sambil mengusap perut ratanya. Ia masih menangis, ia sangat sedih sampai berpikir dunianya telah berakhir. Dengan sisa tenaga yang masih tersisa, Yuna beranjak dari tempat duduknya, ia meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas, menulis pesan singkat untuk seseorang yang bisa ia percaya untuk membantunya terbangun dari lukanya.


"Nak, apa kau merasakan kesedihan Umma? Maafkan Baba mu, sayang." Yuna berusaha menahan air matanya agar tidak keluar, namun tetap saja ia gagal. Air sebening kristal itu kembali tumpah, dada Yuna terasa sesak, ia tidak pernah membayangkan hari di mana Zain akan meragukannya datang juga.


"Maafkan Umma, nak." Berkali-kali Yuna meminta maaf, ia mematikan lampu, berharap sakit hatinya akan menghilang bersama dengan gelapnya malam.


Bukan cinta namanya kalau hanya berdiam diri seperti padang pasir, atau menjelajahi dunia seperti angin. Bukan pula cinta namanya kalau hanya memandang segala sesuatu dari kejauhan. Yuna bergumam di dalam hatinya sembari berusaha memejamkan mata.


"Aku datang ke tempat ini hanya untuk mu, Zain. Jika kau tidak menginginkan ku lagi, bagaimana caraku bertahan?"


Yuna, gadis itu larut dalam kesedihan panjangnya, entah berapa lama ia menangis sampai akhirnya ia bisa terlelap dan melupakan masalahnya walau hanya untuk sekejab saja.

__ADS_1


...***...


__ADS_2