
"Bagaimana kabar Zain?"
"Apa dia bersikap baik padamu?"
"Jika dia mengganggumu, kau bisa mengadukannya padaku. Aku janji akan lebih memihakmu dari pada dirinya." Ucap Aroon dengan wajah di penuhi harapan. Walau ia tidak yakin akan ada jalan, namun di lubuk hati terdalamnya masih terdapat setitik harapan. Harapan untuk selalu bersama wanita idamannya.
Aku memang sahabat yang buruk, maafkan aku Zain. Walau hatiku menginginkan Yuna, aku akan selalu berdoa semoga kau tidak akan melakukan kesalahan sekecil apapun, kesalahan yang akan membuatmu kehilangan dirinya. Batin Aroon sambil berjalan pelan menuju sofa, ia duduk di sana walau Yuna tidak memintanya. Ia memang pemilik Maurer Group, namun bukan berarti ia bisa masuk kekantor bawahannya untuk membahas masalah pribadi.
"Pak Aroon jangan khawatir, Zain tidak akan berani menggangguku. Bukankah anda tahu kalau dia sangat mencintaiku?" Kali ini giliran Yuna yang balik bertanya, pertanyaan sederhana namun sangat mengena di hati seorang Aroon.
Untuk sesaat, Aroon berusaha menguasai hatinya. Ia berharap, Yuna tidak akan pernah mengetahui betapa ia mencintai gadis Indonesia itu. Memang sulit mengendalikan hati yang terlanjur tergoda, walau sudah tahu kenyataannya masih saja ia mengharapkan cinta. Cinta yang sebenarnya tidak akan pernah terjadi, bukankah menyerah jauh lebih baik? Sayangnya, Aroon lebih memilih menyembunyikan perasaan kagum dan cintanya dalam diamnya.
__ADS_1
"Walau sulit, aku mengakui itu. Aku mengakui Zain sangat mencintai nona Yuna. Jika dia tidak mencintai nona Yuna, dia tidak akan pernah membawa nona Yuna menuju pelaminan." Aku Aroon dengan senyum yang di paksakan.
"Baiklah kalau begitu, lanjutkan pekerjaanmu." Ucap Aroon sambil bangun dari sofa, ia berjalan mendekati Yuna kemudian mengulurkan tangannya.
Satu detik, dua detik, hingga detik kelima, tidak ada tanda-tanda Yuna akan menerima uluran tangan Aroon, dan hal itu membuat Aroon merasa malu. Aroon hanya menatap tangannya, namun ia tidak melihat kalau Yuna sudah menangkupkan kedua tangan di depan dada sejak tadi.
Sementara itu di tempat berbeda, duduk Zain di kursi kebesarannya sambil merenung menatap jendela. Hatinya tidak tenang, ia merasa bersalah, ia juga kesal pada dirinya sendiri.
"Tuan, apa ada masalah?" Asisten Zain bertanya setelah melihat tuannya tampak kacau.
"Tidak ada!" Balas Zain singkat.
__ADS_1
"O iya, apa anak buahmu masih menjaga istriku secara diam-diam? Apa pagi ini istriku tiba di kantor Aroon dengan selamat? Bagaimana keadaannya saat turun dari mobil? Apa dia terlihat sedih? Atau dia terlihat marah?" Zain menghujani asistennya dengan pertanyaan panjangnya.
"Jika tuan penasaran, kenapa tuan tidak menghubungi nyonya? Saya yakin nyonya pasti bahagia mendapatkan panggilan dari tuan. Sedih karena di tinggal okeh kakaknya pasti akan terobati setelah mendengar suara tuan." Saran asisten Zain tanpa beban.
Zain merasa bahagia mendengar saran dari asistennya, ia bahkan sampai tersenyum. Namun di detik selanjutnya, senyumnya seolah menguap keangkasa mengingat ucapannya yang terlontar semalam.
Semalam Zain sangat percaya diri meminta Yuna pergi dari kekamarnya, memikirkan ucapannya membuatnya merasa malu. Ia bahkan kembali meletakkan ponselnya di atas meja.
Yuna Dinata, hanya aku yang tahu betapa aku sangat merindukanmu saat ini. Walau aku merindukanmu sampai hampir tiada, aku tidak akan pernah berlari kedalam pelukanmu, aku akan menahan diri untuk itu. Biarlah aku tiada dalam cinta, aku tidak akan pernah menularkan penyakit laknat ini kepadamu. Batin Zain sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
...***...
__ADS_1