
Suasana di kantin Lucca Entertainment siang ini terlihat ramai, beberapa wanita berkumpul di satu meja sembari menikmati makan siangnya. Namun ada juga yang sedang sibuk bermain ponsel setelah menyeruput kopi panasnya.
"Aku patah hati!" Ucap salah seorang karyawan wanita. Wajahnya di tekuk seolah hari ini hari terakhirnya di dunia.
"Patah hati? Apa pacar Mu selingkuh lagi? Dengan siapa? Katakan padaku, aku akan menghajarnya untuk Mu!" Celoteh wanita bertubuh ramping, ia sangat kesal, karena itu lah ia mencoba menghibur rekan kerjanya agar tidak perlu memikirkan masalahnya hingga terbawa sampai ke kantor.
"Bukan pacar ku yang selingkuh. Tapi calon suami masa depanku yang sudah menikah." Aku wanita tadi dengan raut wajah cemberut.
"Siapa? Ck. Jangan bilang kau sedang membicarakan Pak Zain. Iya kan?" Tanya wanita bertubuh ramping itu lagi, yang kemudian di balas dengan anggukan kepala oleh rekannya.
"Dasar payah, aku pikir kau sedang membicarakan siapa. Tentu saja Tuan Zain lebih memilih wanita muda itu di banding dirimu. Wanita itu cantik, dia juga percaya diri. Aku suka gayanya, bahkan Nona Ploy Nan yang selalu terlihat modis tidak ada apa-apanya di banding istri Tuan Zain. Dia sangat cantik dengan pakaian kurung itu!" Sanjung wanita bertubuh ramping itu sembari tersenyum tipis.
Sementara itu di tempat berbeda, atau tepatnya di lantai lima puluh tempat kantor Zain berada. Duduk Zain dan Aroon sembari menikmati makan siangnya.
__ADS_1
"Kau sangat lahap, memangnya berapa hari kau tidak makan?" Ledek Zain di tengah-tengan kunyahannya. Ia menatap Aroon yang terlihat fokus menikmati makan siangnya.
"Sumpah. Ini sangat enak, ini pertama kalinya aku memakan makanan seperti ini. Aku bahkan tidak pernah berpikir makanan seperti ini ada di dunia. Di mana kau menemukan koki sehebat ini? Katakan padaku, aku juga butuh satu." Aroon bahkan sampai menjilat tangannya saking menikmati makan siangnya.
Zain menanggapi ucapan Aroon hanya dengan senyuman. Senyuman menawan.
"Aku serius Zain!"
"Sepertimu, aku juga bisa bosan dengan masakan koki." Aroon terus bicara namun tidak ada tanggapan dari Zain karena ia masih menikmati makan siangnya.
"Jika kau ingin menikmati makanan seenak ini setiap hari, jawabannya kau harus menikah!"
"What? Are you kidding me?" Aroon terlihat jengkel. Bukannya bersikap serius, Zain malah terkekeh sambil memegang perutnya. Untuk pertama kalinya Zain merasa menjadi pemenangnya, ia memang mengakui makan siang ini terasa luar biasa karena bumbu utama makan siang ini adalah cinta.
__ADS_1
"Haha! Baiklah. Aku akan serius." Ujar Zain setelah ia bisa mengontrol dirinya untuk tidak tertawa lagi.
"Itu makanan Indonesia. Aku juga tidak tahu namanya, karena aku tidak pernah bertanya. Dan satu lagi, makanan itu buatan istriku. Jadi..." Lagi-lagi Zain tersenyum sambil menatap Aroon dengan tatapan meledek.
"Jadi, apa?" Aroon bertanya karena ia memang sangat-sangat penasaran.
"Jadi.... Kau harus menikah. Bodoh!" Jawab Zain dengan tawa yang masih menghiasi wajah tampannya. Akhirnya, Zain keluar sebagai pemenangnya. Biasanya Aroon yang selalu meledek, kini ia mendapat giliran untuk membalas maka ia pergunakan kesempatan ini sebaik mungkin.
"Haha! Apa kau merasa kesal?"
"Begitulah perasaan ku saat kau meledekku. Dan buruknya, aku tidak punya kata-kata yang tepat untuk membalasmu." Celoteh Zain sambil meraih air mineral yang ada di atas meja. Aroon yang mendengar ucapan Zain hanya bisa menghela nafas kasar.
...***...
__ADS_1