Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part (53)


__ADS_3

Karena tidak mendapati Yuna di setiap sudut Mansion megahnya, Zain langsung berlari menuju kamar Yuna, tempat satu-satunya yang belum sempat ia periksa. Bagai di sambar petir di siang bolong, ia sangat terkejut saat mendapati lemari pakaian Yuna kosong tanpa meninggalkan sehelai benangpun. Zain terduduk lemas di dalam kamar Yuna dengan derai air mata, ia memeluk lututnya. Dalam hati, ia memaki dirinya sendiri kenapa semua ini harus terjadi.


Sementara itu di Bandara, Yuna sedang menantikan kedatangan Kakak dan Kakak Iparnya dengan perasaaan bahagia luar biasa. Lama tidak bertemu membuatnya merasakan lega.


Lima belas menit berlalu akhirnya sosok yang Yuna rindukan tiba juga. Kakak Tampan dan Kakak Ipar cantiknya berjalan mendekati Yuna sambil melambaikan tangan. Wajah sempurna mereka mengukir senyuman.


"Assalamu'alaikum, Tante cantik...!" Sapa Raina begitu ia berdiri di depan Yuna.


"Tante cantik apa kabar?" Kali ini Raina bertanya sembari melambaikan tangan putra kecil nan menggemaskannya.


"Baik cayang." Balas Yuna dengan perasaan bahagia. Ia mencubit pipi gembul keponakannya kemudian mencium wajah manis keponakan kecilnya bertubi-tubi. Tak lupa, ia juga memeluk Kakak dan Kakak Iparnya secara bergantian.


"Di mana suami Mu?" Shawn bertanya sembari mengedarkan padangannya. Ia berharap, Zain pria pemilik netra biru itu selalu menjaga adik berharganya.


"Prof. Zain masih tidur saat aku meninggalkan rumah. Dia bahagia mendengar kabar kedatangan Kakak. Sama seperti aku yang tidak tahu Kakak akan datang hari ini, dia juga tidak tahu." Jawab Yuna menyakinkan.


"Ya sudah, ayo kita pulang." Tawar Yuna dengan perasaan lega, ia menggenggam tangan Raina sambil tersenyum.

__ADS_1


"Apa kamu masih memanggil suami Mu dengan sebutan Profesor?" Shawn mulai mengurai tanyanya. Ia tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya.


"Kalian sudah menikah. Dia juga bukan seorang Dosen lagi. Terdengar aneh jika kau masih memanggilnya dengan sebutan Profesor seperti yang barusan kau lakukan." Ucap Shawn memperingatkan.


"Sesekali aku memanggilnya seperti itu. Percayalah, Zain bukan seorang pemarah yang akan memaki ku lantaran aku meledeknya. Kakak kan tahu aku seperti apa, dia tidak akan menang melawan ku!" Celoteh Yuna berusaha mencairkan suasana.


"Iya, kau benar. Dan aku tahu itu. Adik ku memang sangat nakal." Balas Shawn sembari mencubit hidung bangir Yuna, adik satu-satunya yang terkesan garang namun sangat baik hatinya.


Taksi yang Yuna naiki berjalan membelah jalanan padat, ia tidak menyangka perjalanan pulang dari Bandara akan separah ini. Sesekali terdengar Raina menghel nafas kasar, Baby Hasan sempat menangis di dalam pesawat dan hal itu membuatnya ketakutan.


"Kak Raina kelelahan ya? Sabar ya Kak. Sebentar lagi kita sampai."


"Tidak apa-apa, Dek. Lagi pula kau ada di sini, itu sudah cukup untuk kami. Iya kan, Bi?" Tanya Rina pada suaminya. Shawn mengangguk pelan mengiyakan ucapan istri cantiknya, Raina Salsadila.


"Bagaimana kabar Mama dan Papa?"


"Kenapa Kakak tidak mengajak mereka? Jujur, aku sangat merindukan mereka." Sambung Yuna lagi. Ia rindu pelukan hangat Mamanya, ia juga rindu ingin di manja Papanya. Berpisah setelah menikah, kemudian tinggal jauh dari kedua orang tua yang sangat di sayanginya membuat Yuna merasakan kesedihan setiap malam. Namun mau bagaimana lagi. Seperti ucapan Mamanya, sebagai istri yang baik, ia harus mengikuti suaminya kemanapun suaminya membawanya.

__ADS_1


"Mama dan Papa baik-baik saja. Mereka juga sangat merindukan Mu. Karena kesibukan Papa mengurus bisnisnya, beliau tidak bisa mengunjungi Mu. Tapi, Mama dan Papa janji akan segera mengunjungi Mu jika mereka punya waktu luang." Jawab Shawn dengan santai. Sungguh, mendengar ucapan Kakaknya membuat Yuna merasa lega.


"Kita sudah sampai." Ujar Yuna begitu taksi yang ia tumpangi berhenti tepat di depan Mansion Lucca, dua orang yang berjaga dengan cepat membuka gerbang sehingga taksi yang di tumpangi Nyonya-nya bisa segera masuk ke dalam.


"Kakak dan Kakak Ipar adalah tamu istimewa Ku, aku janji akan melakukan yang terbaik untuk melayani kalian. Termasuk melayani keponakan tampan Ku." Celoteh Yuna sambil tersenyum. Shawn melirik istrinya, kemudian ia menganggukkan kepala pelan setelah mendengar ucapan adik manjanya.


Sementara itu di dalam rumah, Zain masih merasakan kesedihan mendalam. membayangkan Yuna meninggalkannya membuat hidupnya terasa bagai di neraka.


"Bagaimana aku akan hidup tanpa Mu?" Zain mengusap wajahnya dengan kasar, sorot matanya kosong. Sedetik kemudian, netranya menangkap sebuah kertas yang tergeletak di atas nakas, surat yang ia yakini sebagai surat perpisahan dari istri berharganya, Yuna Dinata.


Prof. Zain maaf. Aku keluar rumah tanpa memberi tahu Mu. Sebenarnya, Kak Shawn dan Kak Raina tiba pagi ini. Aku tidak enak membangunkan Mu karena kau terlihat pulas, jadi aku pergi ke Bandara untuk menjemput mereka dengan taksi.


Selama sepekan, Kak Shawn dan Kak Raina akan menginap di rumah kita. Aku berharap kau tidak keberatan. Itu artinya, selama sepekan kita harus tinggal di kamar yang sama. Apa kau keberatan? Aku hanya tidak ingin Kak Raina dan Kak Shawn mengetahui kebenarannya, kebenaran kalau selama ini kita tinggal di kamar berbeda, karena itulah aku memindahkan semua barang-barang ku kedalam kamar Mu.


Akhirnya Zain kembali merasakan lega. Netranya yang tadinya menampakkan kesedihan kembali berbinar, ia menatap koper milik Yuna di dekat lemarinya dengan perasaan bahagia luar biasa.


"Terima kasih karena kau masih setia berada di sisi ku. Jangankan satu minggu, aku akan menahan Mu di sisi ku selamanya. Apakah aku boleh melakukan itu?" Ujar Zain sambil meraih kunci mobil di atas nakas, ia berencana untuk menyusul istrinya menuju Bandara, ia berharap tidak terlambat.

__ADS_1


...***...


__ADS_2