
"Aroon, bagaimana keadaan perusahaan Mu?Apa semuanya baik-baik saja?" Zain bertanya sambil meletakkan gelas jus yang ada di tangan kanannya. Iya, Zain hanya meminum jus bukan alkohol. Zain tidak ingin terlibat masalah dengan Yuna, karena jika Yuna tahu dirinya meminum-minuman beralkohol maka habislah dia, semalaman wanita itu akan mengomelinya, dan Zain benci harus mendengar omelan dari siapa pun, entah itu Yuna, Mommy atau pun Daddy-nya.
"Jika kau butuh suntikan modal, kau bisa bicara dengan ku secara langsung." Sambung Zain lagi, ia menatap Aroon sambil melipat kedua lengan di depan dada.
"Iya, aku akan mengatakannya jika aku membutuhkannya. Sayangnya, kau tahu aku kan?" Aroon balik bertanya sambil menatap Zain, mereka berteman sejak Zain memutuskan terjun dalam dunia bisnis.
"Kekayaan keluarga ku tidak akan habis walau di makan lima belas keturunan!" Seloroh Aroon menyombongkan diri.
Ploy nan yang duduk satu meja dengan kedua pria tampan itu hanya bisa tersenyum bangga karena memiliki kenalan sehebat, setampan, sekaya, sesempurna, dan masih banyak lagi ucapan sanjungan untuk keduanya. Sayangnya, Ploy Nan kehabisan kata-kata untuk menggambarkan sosok indah Zain dan Aroon.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, di mana istri-Mu?" Aroon bertanya sambil mengancingkan jasnya.
"Aku ada disini hanya untuk menunggunya. Aku ingin bertemu dengannya, aku ingin menyapanya, dan aku ingin tahu wanita secantik apa yang bisa melumpuhkan akal sehat-Mu selain Angel Sasmita."
Wajah Ploy Nan yang tadinya di penuhi senyuman kini berubah masam. Sejujurnya, ia sangat penasaran pada sosok yang telah berani mengalahkannya dalam urusan mengambil hati Zain.
"Kau tahu sendiri, wanita membutuhkan waktu lebih banyak dari pria hanya untuk berdandan. Aku rasa istriku sedang memperbaiki riasannya di suatu tempat." Ujar Zain tanpa menghiraukan Ploy Nan yang terlihat mulai bosan.
"Baiklah, Tuan Zain. Aku rasa aku tidak berjodoh untuk bertemu dengan istrimu. Tapi lain kali, aku pastikan akan minum kopi dengannya." Celoteh Aroon sembari bangun dari kursi, bersalaman dengan Zain, memeluk Ploy Nan kemudian berlalu dari hadapan kedua makhluk indah itu.
__ADS_1
Sementara itu, di luar pintu Ballroom Hotel, berdiri Yuna sembari meminta izin dari keempat penjaga yang ada di depan pintu. Berkali-kali meminta izin berkali-kali pula ia mendapat penolakan. Maklum saja, jika Yuna sampai di izinkan masuk, maka dia akan menjadi satu-satunya orang yang berpenampilan aneh.
"Dengar Nona, aku tidak ingin bertindak kasar padamu. Tapi, jika kau terus mengganggu pekerjaan kami, kami terpaksa harus mengusirmu." Ucap salah seorang pengawal bertubuh jangkung itu dengan ketus.
Sudah dua pekan Yuna tinggal di Thailand, untuk pertama kalinya ia muncul secara perdana di hadapan semua orang. Dan buruknya ia muncul dengan gamis kotor yang ia sembunyikan di balik jas hitam milik pengawal wanitanya.
"Berani sekali kamu bicara seperti itu pada menantuku! Apa kamu sudah bosan dengan pekerjaanmu? Atau kamu sudah bosan hidup? Katakan padaku agar aku bisa mengurangi bebanmu!" Sentak wanita paruh baya yang Yuna tahu adalah Ibu mertuanya.
...***...
__ADS_1