Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part 20


__ADS_3

"Kenapa kau sangat marah?"


"Bukankah setiap wanita suka kemewahan?"


"Lalu apa masalahnya dengan tinggal di Mansion ini?"


"Aku tidak berharap kau akan memarahiku, karena aku sudah menyiapkan semua ini untukmu. Hanya untukmu." Ucap Zain dengan nada suara kesal. Setelah mengungkapkan isi hatinya, ia beranjak menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


Pisah kamar!


Itu masih berlaku untuk mereka berdua, Yuna yang di tinggal hanya bisa menghela nafas kasar sembari menatap punggung Zain yang semakin menjauh darinya.


"Apa semalam aku keterlaluan?" Yuna berucap sembari memasukkan alpukat kedalam blender yang akan ia buat menjadi jus. Mengingat perdebatan singkatnya dengan Zain semalam membuatnya merasa bersalah.


"Iya, aku akan minta maaf. Aku memang harus melakukannya." Ucap Yuna lagi, pagi ini ia bangun lebih awal karena itulah ia menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Roti isi daging dan segelas jus alpukat sudah cukup untuk menu sarapan pagi ini.

__ADS_1


"Good morning!"


Wajah Yuna mulai mengukir senyuman, akhirnya sosok yang ia nantikan sejak tadi datang juga. Yang membuat Yuna sedih, wajah tampan itu terlihat kusut. Ia bahkan tidak memakai dasinya dengan benar.


"Good morning!" Balas Yuna singkat, bibir tipisnya menyunggingkan senyuman menawan.


"Aku menyiapkan sarapan sederhana untuk kita berdua. Roti isi. Semoga kau menyukainya." Yuna duduk di bangku yang menghadap Zain. Ia bahkan tidak ragu-ragu lagi untuk menatap wajah kusut suaminya.


Zain yang sejak tadi duduk masih tidak membuka suara, ia hanya menatap roti isi buatan Yuna dengan tatapan tak terbaca.


"Aku akan buatkan yang lain." Ujar Yuna serius, ia bangun dari posisi duduknya sembari melepas jus yang ada di tangannya.


"Tidak. Kau tidak perlu mengganti menunya. Aku suka semua yang kau buat untukku." Zain merentangkan tangan, memberi isyarat agar Yuna tidak perlu meninggalkan sarapannya.


"Aku minta maaf."

__ADS_1


"Dan aku mengaku salah." Yuna berucap sembari merunduk.


Mendengar ucapan Yuna, Zain sampai mengurungkan niatnya memasukkan roti isi kedalam mulutnya. Wanitanya menyesali perbuatannya? Itu hal yang besar untuk Zain, mengingat dirinya juga bersalah karena tidak pernah mengatakan apa pun tentang semua rencananya.


"Semalaman ini, aku terus berpikir. Cara apa yang harus ku lakukan untuk mendapatkan maaf darimu. Aku juga bingung dari mana harus memulai pembicaraan ini. Tapi, setelah melihat kondisimu pagi ini, aku yakin aku memang bersalah. Maaffffff!" Kali ini bukan dengan kepala tertunduk, Yuna menatap Zain dengan tatapan mengiba.


Bukannya membalas ucapan Yuna, Zain malah mendekati wanitanya. Memegang erat jemarinya dan memeluk wanitanya dengan kerinduan yang menggebu-gebu. Sejujurnya, hal yang paling Zain takutkan, jauh dari seorang Yuna Dinata. Namun, setiap hal yang ia tunjukkan, ia sendirilah yang memilih menjauh dari wanitanya. Bukan tanpa alasan, ada rahasia besar yang ia sembunyikan di balik sikapnya yang terlihat sok kuat.


"Yuna ku tidak perlu meminta maaf. Karena sampai kapan pun, ia tidak pernah bersalah." Bisik Zain di telinga Yuna.


Yuna tersenyum, ia merasa bahagia karena permintaan maafnya telah di terima.


"Aku yang seharusnya minta maaf karena memintamu selalu pindah rumah. Bukan untuk mengerjaimu apa lagi sampai membuatmu seperti orang bodoh karena tidak di libatkan dalam urusan ini. Hanya saja, semuanya terlalu mendadak.


Aku membeli Mansion ini tepat setelah kita menikah, kemudian aku tahu Yuna ku tipe wanita yang lincah, aku meminta asistenku mencarikan seseorang yang bisa mengubah tempat ini seperti kepribadian Yunaku, dan jadilah tempatnya seperti ini." Zain menjelaskan panjang kali lebar agar Yuna tidak lagi merasa bersalah, dan wanitanya itu tidak perlu meminta maaf untuk masalah apa pun.

__ADS_1


...***...


__ADS_2