
"Kenapa kau diam?" Yuna kembali membuka suara setelah mengetahui tidak ada tanggapan dari Zain De Lucca. Pria itu tertunduk dalam diam, ia tidak sanggup mengangkat kepala apa lagi untuk menjawab pertanyaan singkat wanitanya.
Zain merasa bersalah. Zain merasa hina. Ia merasa tak pantas bersama Yunanya, namun mau bagaimana lagi, cintanya sebesar semesta hingga ia tak sanggup merelakan cintanya.
"Katakan Zain, jika kau mencintaiku, lalu kenapa kau menjauhiku? Kau bahkan tidak mau mendengar penjelasanku. Apakah cintamu sungguh serapuh itu?" Yuna kembali mengulangi pertanyaan yang sama.
Zain kembali tercekat, ia tidak bisa membuka bibirnya. Seolah ucapan Yuna menampar wajahnya, mereka menikah namun mereka selalu terpisah untuk alasan yang lemah. Sekarang katakan, bagaimana Zain akan menjawab Yuna-nya? Akankah Zain mengatakan ia bodoh karena itu ia bisa di bodohi oleh sebuah berita bohong? Bukankah itu jawaban yang konyol?
Perlahan Zain mulai mengangkat kepalanya, ia juga mensejajarkan tingginya dengan Yuna Dinata, netra biru milik Zain De Lucca yang biasanya bersinar kini tampak memerah, redup dalam kesedihan mendalam.
"Aku tidak punya jawaban untuk pertanyaan Yuna ku. Sungguh, aku pria terbodoh di dunia." Ucap Zain dengan suara serak. Air matanya kembali menetes, ia terlalu larut dalam kesedihan.
"Berikan aku hukuman, atau cabut nyawaku sekalian. Tapi, aku mohon padamu. Jangan bilang kau tidak mencintaiku, dan jangan bilang kau ingin berpisah dariku. Aku akan tiada tanpa Yuna ku. Sungguh, aku akan tiada. Hiks.Hiks." Zain terisak, ia kembali berlutut. Kali ini ia memeluk kaki Yuna, dan kabar baiknya Yuna tidak memundurkan kakinya seperti sebelumnya.
Satu menit.
Dua menit, hingga menit keempat Zain masih juga menangis. Meratapi kebodohannya selalu saja membuat hatinya seperti tercabik. Dan tepat di menit kelima, Yuna merunduk, ia duduk, mensejajarkan tingginya dengan Zain yang saat ini masih meneteskan air mata.
Yuna menangkup wajah Zain dengan jemari lentiknya, menatap pria itu dengan tatapan kerinduan. Tidak ada yang tahu kalau Yuna juga merindukan Zain-nya.
__ADS_1
"Tatap aku, Zain." Yuna berucap sembari mengusap wajah tampan Zain yang basah oleh air mata. Tampak jelas kesedihan di mata itu.
"Aku masih marah padamu."
"Aku ingin menghukum mu. Tapi aku..." Ucapan Yuna tertahan di tenggorokannya, sementara Zain, ia menunggu kalimat apa yang akan di ucapkan Yuna selanjutnya.
"Tapi aku tidak bisa menghukum mu, menghukum Zain ku sama saja dengan menghukum diriku sendiri." Aku Yuna, ia juga meneteskan air mata. Ikut larut dalam kesedihan.
"Bersamamu aku merasa terluka."
"Bersamamu aku merasa kesepian."
"Bersamamu aku merasa seperti di anak tirikan. Namun bersamamu, aku merasa bahagia." Ujar Yuna dengan suara pelan, ia menempelkan keningnya di kening Zain.
"Aku tidak bisa menghukum mu walau aku menginginkannya. Kau tahu kenapa?" Yuna bertanya yang kemudian di balas dengan gelengan kepala dari Zain.
"Karena aku, Yuna Dinata sangat mencintai Zain De Lucca. Besarnya cintaku padamu tak bisa di ukur dengan kata-kata." Ucap Yuna dengan berbisik. Zain kembali tersenyum, kesedihan yang ia alami sepekan ini seolah hilang di telan malam. Tak ada lagi kesedihan yang tersisa, yang ada hanya kebahagiaan tanpa batas.
Tanpa berpikir panjang Zain mulai menempelkan bibirnya di bibir Yuna, bibir yang sangat ia rindukan, bibir yang ingin ia raup sejak malam pernikahan. Awalnya Zain hanya menempelkan bibirnya, namun di detik selanjutnya ia mulai bertingkah agresif. Kenakalan Zain muncul juga, tangannya bergerak di tempat berbeda dan bibirnya tak bisa berhenti mengecupi bibir hingga leher wanitanya. Mau bagaimana lagi, hasrat yang selama ini terpenjara akhirnya bebas juga. Zain telah di butakan oleh hasratnya, ia mengangkat tubuh ramping Yuna menuju tempat tidur yang berjarak sepuluh langkah darinya.
__ADS_1
Baru saja meletakkan Yuna di tempat tidur, tangan Zain mulai bergerak cepat membuka kain penutup kepala Yuna. Ia mencium kening Yuna dengan lelehan air mata. Bisa bersama wanitanya di ranjang yang sama seperti ini masih terasa bagai mimpi.
Kali ini tangan Zain bergerak cepat, ia membuka kancing baju Yuna. Namun dengan cepat Yuna menahan gerakan tangan Zain. Jangan tanya lagi sebesar apa kecewa yang di rasakan Zain De Lucca. Pria itu langsung menghentikan gerakannya, ia yang awalnya terlentang langsung bangun dan duduk. Yuna yang ada di bawah kungkungan Zain juga ikut bangun.
Yuna menangkup wajah sedih Zain, jika di pikir-pikir ini malam pertama mereka karena di malam sebelumnya Zain mengacaukan semuannya dengan melupakan segalanya.
"Kau tahukan aku sangat mencintaimu?"
Zain menjawab pertanyaan Yuna dengan anggukan kepala pelan, ia tidak sedih lagi.
"Semua yang ada dalam diriku adalah milikmu. Aku tidak akan pernah mencegahmu melakukan apa pun pada tubuh ini karena kau berhak untuk itu, tapi sekarang..." Ucapan Yuna menggantung di udara membuat Zain penasaran luar biasa.
"Sekarang apa?" Zain bertanya karena ia merasa tidak sabar untuk mendengar ucapan Yuna selanjutnya. Ia menatap bibir Yuna yang terlihat sedikit bengkak karena ulah nakalnya.
"Sebelum kita melakukannya, mari kita shalat terlebih dahulu. Semoga rahmat Allah selalu tercurah untuk kita." Ujar Yuna dengan wajah memerah.
Inilah yang membuat Zain semakin mencintai wanitanya, bahkan di saat ia di butakan oleh gairahnya wanitanya sanggup mengingatkannya untuk kembali ke akal sehatnya.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar-rahman ayat 13)
__ADS_1
Sungguh, mengingat surah Ar-rahman ayat 13 membuat Zain kembali meneteskan air mata. Ia terlalu bahagia, ia juga sangat beruntung, tak ada yang kurang dalam hidupnya, kini sudah waktunya ia berubah menjadi sosok yang selalu taat dan tunduk pada perintah Tuhannya, Allah.
...***...