Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part 47


__ADS_3

Seperti yang sudah di rencanakan, setelah sarapan Zain langsung berangkat menuju kantor dan di antar oleh Yuna hinga pintu depan. Begitu mobil Zain menghilang dari pandangan Yuna, gadis cantik itu langsung mengunci pintu dan berlari menuju lantai dua tempat kamar Zain berada.


"Maafkan aku Prof.Zain, aku tidak bermaksud melakukan ini namun tidak ada pilihan lain untuk ku selain melakukannya.


Wanita itu telah menghancurkan kepercayaan ku pada mu. Seharusnya aku tetap percaya dan menunggu sampai kau siap membuka segalanya. Tapi sayangnya, aku tidak sesabar Kak Raina sampai harus bertahan dengan sikap penasaran ini." Gumam Yuna sembari memegang handle pintu dan masuk ke dalam kamar Zain.


Kamar yang Zain tempati sangat luas, dua kali lipat lebih luas dari kamar yang Yuna tempati. Kamar ini sangat bersih, Zain memang selalu seperti itu, selalu menempatkan barang-barangnya di tempat semula setelah selesai menggunakannya.


Perlahan, Yuna mulai menatap ke segala arah. Mencoba mencari hal yang menurutnya mencurigakan. Tidak ada apa pun di kamar Zain kecuali satu hal yang membuatnya menepuk dada.

__ADS_1


"Di-dia..." Yuna menghentikan langkah kakinya, menatap tajam kearah potret seukuran pintu yang terpampang lima langkah dari tempat tidur Zain.


Iya, wanita itu lagi. Wanita itu tidak asing bagi Yuna. Karena setahunya, wanita itu adalah mantan terindah suaminya.


"Jadi ini alasan kenapa kau selalu membatasi dirimu dariku? Wanita ini?" Yuna bertanya pada potret Zain yang terletak di atas nakas. Air matanya mulai menetes. Ia sedih, sangat sedih sampai tidak bisa mengendalikan air matanya.


"Aku bisa mengerti jika aku bersaing dengan orang yang masih ada di dunia ini. Tapi dia..." Yuna menunjuk potret gadis anggun yang ada di depannya dengan perasaan campur-aduk.


"Angel Sasmita. Kenapa kau menjadi duri dalam hubungan ku? Saat hidup kau sangat jahat, bahkan saat kau tiada pun kau lebih jahat. Aku membenci Mu. Aku benar-benar membemci Mu." Gerutu Yuna dengan amarah membuncah. Rasanya ia ingin menghancurkan potret Angel dari kamar Zain kemudian menggantinya dengan potretnya sendiri. Mungkinkah itu terjadi? Akan kah Yuna berani melakukan hal itu? Ia sendiri tidak bisa memikirkan jalan lain selain menghilangkan Angel dari pikiran suami yang sangat ia cintai, Zain De Lucca.

__ADS_1


Sementara itu di Lucca Entertainment, duduk Zain di ruang rapat bersama beberapa orang yang memiliki peran penting untuk kemajuan perusahaan hiburan yang di pimpinnya. Zain tampak serius mendengarkan rencana besar yang di sampaikan asistennya, tanpa sadar ia sampai bertepuk tangan.


"It's a great idea!" (Itu ide yang sangat bagus) Ujar Zain tanpa melepas senyuman dari bibir tipisnya. Zain berdiri dari kursi yang di dudukinya sejak lima belas menit yang lalu dengan perasaan lega.


"Rapat kali ini kita sudahi sampai di sini. Aku suka dengan semua ide yang kalian paparkan. Mari kita bekerja lebih keras agar perusahaan ini semakin berkembang." Ujar Zain singkat kemudian keluar dari ruang rapat di ikuti oleh asistennya di belakangnya.


"Apa kau melakukan semua yang ku minta?" Zain menghentikan langkahnya, ia menatap asistennya dengan intens.


"Iya, Tuan."

__ADS_1


"Bagus." Jawab Zain sambil tersenyum tipis. Ia tidak sabar menanti malam ini, melihat Yuna memakai gaun yang di pilihnya kemudian berlanjut makan malam romantis. Melihat wajah kesal Yuna pagi ini membuatnya menyusun rencana untuk menghibur wanita itu. Semoga saja ia tidak bersedih lagi, sangat menakutkan bagi Zain saat menatap wajah cantik Yuna-nya tanpa senyuman.


...***...


__ADS_2