
"Berani sekali kalian membentak dan mengusir menantuku! Aku tidak mau melihat wajah kalian lagi. Pergi dari sini!"
Yuna terlihat kaget mendengar bentakan ibu mertuanya, wajah yang biasanya memamerkan senyuman berubah menakutkan. Jika di pikir-pikir, Yuna tidak marah dengan pengawal yang berdiri di depan pintu, mereka hanya menjalankan tugas saja. Lalu kenapa Ibu mertuanya itu sangat marah sampai-sampai ia memerintahkan pengawal pribadinya melaporkan segalanya pada putranya, Zain De Lucca.
"Mom, relax. I'm okay." Yuna berusaha menenangkan ibu mertuanya sembari memegang lengannya.
Yuna menjentikkan jarinya, mengisyaratkan agar penjaga itu meninggalkannya karena ia tidak mau ibu mertuanya kembali memanas.
"Kenapa kau diam saja saat orang tidak berguna itu mengatakan omong-kosong. Kau bagian dari keluarga Lucca, dan kita adalah keluarga terpandang di Negara ini. Jika ada yang berani mengganggu keluarga Mommy, Mommy tidak akan tinggal diam."
__ADS_1
Yuna tersenyum penuh kemenangan, melihat kemarahan Ibu mertuanya, ia yakin Ibu mertuanya itu sangat menyayanginya. Bukankah ini hal yang patut di syukuri? Dan tanpa berpikir panjang Yuna langsung memeluk ibu mertuanya dengan perasaan bahagia luar biasa.
"Sayang, kenapa dengan baju-Mu? Mommy rasa mereka tidak mengizinkanmu masuk karena bajumu yang terlihat..." Ucapan Mommy menghilang di udara, ia menatap Yuna dari atas ke bawah dengan tatapan aneh.
"Iya, Mommy benar. Pakaianku terlihat aneh. Tadi, aku masuk kedalam. Hanya saja, seorang anak menumpahkah ice cream di bajuku, nodanya tidak bisa hilang dan terpaksa aku harus memakai ini untuk menutupinya." Aku Yuna sembari merunduk, ia tidak berani menatap Ibu mertuanya karena takut di salahkan.
Yuna tersenyum sambil mengangguk setelah mendengar ucapan Ibu mertuanya yang baik hati.
"Maaf sayang, Mommy tidak bisa kembali kedalam. Mommy harus pulang, ada hal penting yang harus Mommy selesaikan ketimbang Mommy ada disini!"
__ADS_1
Yuna hanya bisa mengangguk setelah mendengar ucapan Ibu mertuanya, sedetik kemudian wanita paruh baya yang menjadi kesayangan barunya itu berlalu dari hadapan seorang Yuna Dinata. Yuna bahkan tidak mengalihkan tatapannya dari Ibu mertuanya hingga tubuh itu menghilang di balik kokohnya dinding Hotel tempat mereka berada saat ini.
Sementara itu di dalam Ballroom Hotel, duduk Ploy Nan sambil membusungkan dada, ia sengaja melakukan itu, berharap Zain akan menatapnya hingga pria tampan itu menoleh padanya kemudian tanpa bisa di elakkan lagi Zain akan menatap aset berharganya berupa gundukan kenyal yang di tutupi bahan sekedarnya. Ploy kesal, jangankan menatapnya, Zain malah ingin meninggalkannya sendirian. Dengan cepat Ploy meraih pergelangan tangan Zain hingga Zain kembali duduk.
"Ada apa dengan mu? Apa kau tidak tertarik dengan kecantikan ini?" Ploy bertanya sembari menggenggam jemari Zain dengan sangat erat, seolah wanita itu mengabarkan hanya dirinyalah yang berhak atas seorang Zain De Lucca, pria tampan dengan segudang kelebihan.
"Maaf, aku tidak tertarik. Dan tidak akan pernah tertarik. Jika istriku yang ada di rumah lebih cantik dan lebih menarik dari wanita yang ada di luaran, apa kau pikir aku akan tergoda? Tidak akan!" Balas Zain sambil menepis lengan Ploy dengan kasar. Bahkan beberapa orang yang melihat mereka bicara sambil berbisik hanya bisa menatap dengan tatapan penasaran.
...***...
__ADS_1