
Dalam hidup ini ada banyak rencana yang telah kita susun dengan sangat matang, dan dalam setiap rangkaian rencana itu hanya satu tujuan yang ingin kita capai, yakni meraih bahagia tanpa perlu takut derita datang menyapa. Sematang apa pun rencana itu dan sebaik apa pun usaha yang telah kita lakukan, tujuan akhirnya tetap sama, yakni meraih ridho Tuhan. Jika Tuhan tidak meridhoi setiap rencana itu, maka semuanya tidak akan pernah terlaksana sebesar apa pun tangisan kita.
Sama halnya seperti Zain De Lucca, ia merencanakan banyak hal untuk masa depan rumah tangganya, namun semua rencana itu kandas hanya gara-gara satu kertas yang melaporkan kalau dirinya mengidap HIV. Baginya yang selalu ingin menghabiskan setiap detik waktunya bersama wanita yang sangat di cintainya, laporan itu bagai badai yang menjungkir balikkan dunia bahagianya. Ia terluka namun tidak berdarah, dan inilah kenyataan yang paling menyakitkan sepanjang hidupnya.
"Tuhan, kenapa kau menguji ku melebihi batas kesanggupan ku?" Protes Zain dengan putus asa.
"Jika kau tahu aku tidak bisa membuat Yuna bahagia, lalu kenapa kau takdirkan aku bersamanya? Bagiku, ini seperti berkah tak terkira. Namun bagi Yuna, ini adalah kutukan untuknya!" Ujar Zain tanpa bisa menahan derai air matanya. Dadanya terasa sesak, pada siapa ia akan mengadukan sakitnya? Ia bahkan tidak sedekat itu dengan Tuhannnya, Allah.
Tanpa berpikir panjang, Zain merobek laporan yang ada di tangannya hingga satu kertas itu berubah menjadi potongan-potongan kecil. Ia membuang kertas yang memenuhi tangannya itu di dalam keranjang sampah, berharap penyakit yang saat ini melumpuhkan kekebalan tubuhnya itu akan menghilang sama seperti ia menyingkirkan kertas itu kedalam tempat semestinya.
__ADS_1
Sementara itu di kamarnya, Yuna sedang berpikir keras bagaimana cara membuat Zain selalu bahagia agar ia melupakan semua hal yang meresahkan jiwanya. Sungguh, semua ini tidak mudah bagi seorang Yuna mengingat Zain selalu berusaha menghindarinya. Yuna tahu, semua yang di lakukan Zain agar dirinya selalu baik-baik saja.
"Ya Allah, aku tidak tahu bagaimana cara membuat Zain bahagia. Aku tahu ia memisahkan dirinya dari ku hanya karena penyakitnya."
"Aku marah padanya!"
"Aku kesal padanya!"
"Aku sudah bertanya padanya apa dia pernah melakukan hubungan itu dengan wanita lain, dengan bangganya dia mengatakan tidak. Lalu apa ini?" Gerutu Yuna dengan wajah memelas.
__ADS_1
"Baiklah, aku tidak bisa mundur. Zain Juga tidak bisa. Kita menikah atas dasar cinta, maka mari kita lakukan semuanya dengan benar." Ucap Yuna menguatkan dirinya, ia menepuk wajahnya untuk menyemangati diri. Berharap semuanya akan membaik seperti sedia kala.
Malam berlalu dengan tangisan kedua sosok indah itu. Kini pagi datang menyapa dengan segala kisah barunya. Zain bangun tepat saat jarum jam menunjukkan angka delapan. Setelah menyikat gigi dan membasuh wajahnya, dengan santai ia berjalan meninggalkan kamarnya, ia berniat menemui Yuna dan menceritakan segalanya.
"Yuna pasti di ruang tengah." Ujar Zain dengan bahagia, bibirnya mengukir senyuman, ia yakin tebakannya benar.
"Tidak ada!"
"Lalu di mana, Yuna?" Kening Zain berkerut. Ia sangat ketakutan kalau-kalau Yuna meninggalkannya. Makan malam romantisnya telah hancur, dan Zain tidak mengatakan apa pun setelahnya, ia meninggalkan Yuna dengan segala kebingungannya.
__ADS_1
"Oh my God, apa Yuna kecewa padaku gara-gara masalah semalam? Apa dia meninggalkan ku?" Zain terduduk di lantai dengan perasaan kacau. Tatapan matanya kosong, jika hari pertama saja Yuna tidak ada bersamanya hidupnya terasa kacau, lalu akan seperti apa hidupnya tanpa wanita itu di masa mendatang? Wanita yang sangat ia cintai melebihi nyawanya sendiri, Yuna Dinata.
...***...