Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part (58)


__ADS_3

"Aku tidak perduli. Kau harus memisahkan mereka. Aku akan memberimu waktu selama dua pekan. Jika dalam jangka waktu itu mereka masih bersama, aku pasti akan membunuhmu. Apa kau paham?"


Yuna yang mendengar ucapan wanita yang berdiri di depannya mulai merinding, ia berpikir sedang berhadapan dengan iblis menakutkan yang siap membakar semua hal yang tidak sesuai dengan keinginnnya.


"Huahhh."


Wanita itu mengakhiri panggilannya kemudian berteriak seperti orang kesurupan. Sontak, hal itu membuat Yuna semakin tidak menyukainya. Entah kenapa Yuna merasa bingung sendiri, ia merasa bingung kenapa Zain dan Aroon bisa berteman dengan sosok angkuh yang saat ini masih berdiri di depannya dan tidak menyadari kehadirannya. Seandainya wanita itu menatap kearah cermin, sudah pasti ia akan melihat pantulan wajah Yuna dari dalamnya, namun amarah telah membutakan lubuk hati terdalamnya sampai-sampai ia tidak menyadari kalau sosok yang sangat ia benci sedang berdiri di belakangnya.


"Yuna.Yuna. Aku sangat membencimu. Mendengar nama mu membuatku ingin menghabisimu. Berani sekali kau mengambil Zain ku." Ujar Wanita itu lagi sambil mengepalkan tangannya.


"Aku pasti akan menghabisimu..." Ucap Wanita itu dengan amarah membuncah. Ia terbelalak. Ia menatap tajam kearah cermin yang ada di depannya. Bukannya merasa meyesal setelah mengucapkan kata-kata tidak bergunanya, ia malah tersenyum seolah ingin menyembunyikan aura dendam yang sedang bergejolak di hatinya.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu berpura-pura tersenyum di depanku. Aku tahu di balik senyuman itu tersimpan racun yang sangat mematikan." Cela Yuna sambil berjalan kearah wanita itu, ia berdiri di samping wanita itu sembari mencuci tangannya seolah tidak terjadi apa-apa.


"Ploy, bukan kah itu namamu?"


"Aku tidak tahu kalau kau sangat membenciku! Apa semua ini tentang Zain?"


"Aku yakin alasanmu membenciku pasti karena Zain lebih memilihku. Tapi maafkan aku, aku tidak punya keinginan untuk meninggalkannya. Jadi, saranku untukmu." Yuna menatap Ploy dengan tatapan tajam, Yuna tahu wanita di depannya tidak akan mengerti bahasa manusia, karena itulah ia bersikap keras.


"Haha! Aku tidak pernah bertemu dengan wanita sebodoh dirimu." Balas Ploy sangar. Wanita itu melipat kedua lengan di depan dada. Nampak jelas keangkuhan di wajah cantiknya.


Rasanya Yuna tidak ingin meladeninya lagi, percuma saja mereka bicara jika wanita itu hanya akan memuntahkan nasihat berharganya.

__ADS_1


"Aku tidak pernah membiarkan siapapun mengambil apa yang sudah menjadi milikku. Kau adalah pencuri, dan aku tidak sebaik itu untuk membiarkanmu hidup dengan tenang. Jadi..." Ploy menggantung kalimatnya, ia menatap Yuna dari kepala sampai kaki. Wanita itu tersenyum licik, seolah mengabarkan pada lawan bicaranya untuk selalu berhati-hati.


"Jadi apa?" Sarkas Yuna sambil meremas lengan Ploy cukup keras.


"Haha! Kau tidak perlu terburu-buru, lagi pula kau masih punya waktu dua pekan." Ploy memperingatkan Yuna sambil menghempaskan lengan Yuna tak kalah kasarnya. Ia bahkan mendorong Yuna hingga tubuh ramping itu membentur dinding.


Sikapi apa pun dengan tenang, tetaplah rendah hati dan jadilah diri sendiri. Mereka yang merendahkanmu adalah mereka yang ada di bawahmu. Dan mereka yang membicarakanmu di belakangmu adalah mereka yang tak mampu melampauimu. Ucapan Mama Hanum seolah bergema di indra pendengaran Yuna.


Jujur, Yuna marah. Sangat marah sampai ia ingin menjambak rambut Ploy Nan yang bersikap kurang ajar karena telah berani mendorongnya. Namun sekuat tenaga ia menahan amarah itu sambil berbisik 'Sabar' pada dirinya sendiri, satu kata itu bagai mantra ajaib yang sanggup menenangkannya. Perdebatan wanita muda biasanya terjadi lantaran cinta, dan Yuna tidak ingin memperpanjang masalah ini walau ia sanggup mematahkan lengan Ploy nan.


...***...

__ADS_1


__ADS_2