Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part 40


__ADS_3

Dua bulan berlalu sejak Yuna meminta izin untuk bekerja di perusahaan Maurer Group. Seperti hari-hari biasa, hari ini suasana di ruang kerja Yuna pun tampak semrawut. Maklum saja, ia sedang sibuk memilih kain untuk di sulap dan di padu-padankan dengan kain yang memiliki gradasi warna berbeda, kain terbaik untuk di jadikan gaun dengan harga pantastis.


Untuk sesaat, Yuna tampak menghela nafas kasar. Permintaan aneh dari Ploy Nan selalu saja membuatnya jengkel. Jangan begini, jangan begitu, tidak boleh seperti ini, dan tidak boleh seperti itu. Beberapa baris ucapan singkat itu selalu saja keluar dari lisan Ploy Nan, dan ucapan itu selalu berhasil memancing kekesalan Yuna. Pantas saja beberapa desainer memilih mengundurkan diri karena tidak sanggup menghadapi temperamen seorang Ploy Nan, aktris cantik dengan berjuta-juta pesona indah namun tidak memiliki hati.


Tok.Tok.Tok.


Yuna menoleh ke arah sumber suara. Netranya membulat, keningnya berkerut. Namun sedetik kemudian wajah cantiknya langsung mengukir senyuman, senyuman seindah purnama di malam penuh cinta.


"Pak Aroon, anda di sini? Mari, silahkan masuk." Yuna melepaskan gunting yang ada di tangan kanannya kemudian berjalan ke arah sofa.


"Apa kau butuh bantuan? Jika, iya, aku akan memanggil beberapa orang untuk kau jadikan sebagai asisten pribadi Mu." Aroon mulai membuka suara, ia berharap Ploy tidak merepotkan karyawan terbaiknya.


"Apa Ploy membuat Mu jengkel?"

__ADS_1


"Apa dia meminta hal yang aneh?"


"Katakan pada ku! Jika dia sampai mengganggu Mu, aku sendiri yang akan memutuskan kontrak dengannya." Cicit Aroon tanpa melepas tatapannya dari netra teduh Yuna Dinata, gadis anggun yang berhasil membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Sayang-nya, ia harus mengalah sebelum berperang saat mengetahui wanita di depannya telah menikah dengan pria yang di cintainya.


"Terima kasih, aku bisa menghadapi si rubah itu!" Ucap Yuna serius.


"Rubah?" Aroon menatap Yuna dengan tatapan heran, mendengar sahabatnya di sebut Rubah oleh Yuna membuatnya merasa aneh.


Haha!


"Kenapa?"


"Apa kau merasa marah?

__ADS_1


"Iya, aku bisa memahami itu. Kalian satu paket. Kalian sangat dekat." Ujar Yuna dengan wajah menyesal.


"Tidak. Itu tidak benar. Rasanya lucu saja saat kau mengatakan itu di depan ku."


"Iya, aku tahu Ploy memang agak kasar. Dan Rubah itu pantas mendapatkannya." Celoteh Aroon dengan wajah berbinar. Tanpa Aroon sadari, sosok yang sedang ia bicarakan sedang berdiri di balik daun pintu yang sedikit terbuka.


Ploy kesal, ia menghentakkan kakinya kemudian berlalu begitu saja. Dalam hati ia teramat membenci Yuna. Bagaimana tidak, dua pria yang dekat dengannya telah di rampas darinya. Zain yang dia cintai, dan Aroon sahabat yang ia kagumi.


Tunggu saja, kau akan dapat gilirannya. Apa yang kurasakan hari ini akan ku pastikan akan kau rasakan setiap hari. Cemburu, amarah dan luka akan menjadi bagian dalam hidupmu. Selamanya. Gerutu Ploy masih dalam keadaan berjalan meninggalkan Maurer Group yang selama ini menjadi tempat ternyamannya.


"Bagaimana pekerjaan Mu? Apa kau menikmatinya? Aku berharap kau selalu betah berada di sini. Ini sudah dua bulan, dan aku khawatir tanpa alasan, hal yang paling ku takutkan, kau meminta berhenti kemudian aku akan kesepian." Aroon menunjukkan wajah tak rela jika Yuna berada jauh darinya. Ia sadar tidak bisa mendapatkan Yuna Dinata, namun ia tidak sanggup jika tidak bisa melihat wajah cantik Bidadari yang menghuni hatinya itu.


Bodoh! Satu kata itu yang pantas di sematkan untuk Aroon. Mau bagaimana lagi, cinta selalu saja tidak perduli kemana ia akan melepaskan panahnya. Namun semuanya tergantung pada kita, akan kah kita memilih menjadi pribadi gila karena cinta? Atau sebaliknya, mengembalikan cinta itu pada yang maha cinta, Allah. Sehingga kita tidak akan terluka karenanya, pilihan ada di tangan Mu wahai pemilik hati yang yang terkadang lemah jiwa dan raganya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2