Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part (48)


__ADS_3

Yuna yang sedari tadi duduk mematung di sebuah Restoran yang ada di pusat kota hanya bisa meneteskan air mata.


Sedih!


Satu kata itu masih memenuhi rongga dadanya, ia ingin berteriak dan menangis sekencang-kencangnya. Sayangnya, ia tidak bisa melakukan itu, sebab tiga pelayan wanita dan dua pelayan pria yang berdiri tak jauh darinya sedang menatap dirinya dengan tatapan takjub.


Iya. Kelima pelayan itu sedang menatap Yuna. Mereka takjub dengan kecantikan sempurna yang di miliki wanita yang ada di depannya. Berhijab sama sekali tidak mengurangi kecantikan seorang Yuna Dinata dan itu memang kebenarannya. Yuna yang menyadari dirinya sedang si awasi hanya bisa merunduk.


Kepala Yuna masih tertunduk sempurna, ia hanya ingin menyembunyikan kesedihannya dari semua orang, bahkan dari dunia sekali pun jika ia bisa.


Hiks.Hiks.Hiks.


Huaaaaaaa.


Yuna berteriak di dalam hatinya, ia benar-benar tidak tahu bagaimana cara menghilangkan dukanya. Semua ini terlalu berat untuk hati dan pikirannya.


"Zain, kau di mana?"

__ADS_1


"Aku tidak tahan!" Ujar Yuna sembari menghapus sudut mata dengan punggung tangannya.


"Datanglah. Segera!"


"Jika kau tidak datang dalam hitungan ke sepuluh, aku berjanji tidak akan bicara dengan mu."


"Aku tidak akan bicara dengan mu selama sehari.


"Tidak. Tidak." Ralat Yuna masih dengan wajah yang di penuhi kesedihan.


"Aku tidak akan bicara dengan Mu selama seminggu. Titik." Celoteh Yuna dengan suara pelan, kali ini masih dengan wajah menahan tangis.


"K-kau datang?" Akhirnya, air mata yang coba Yuna tahan luruh juga. Ia berhambur ke dalam pelukan pria-nya dengan derai air mata.


Tangis Yuna pecah, membuat Zain mematung, ia merasa terkejut dengan reaksi Yuna yang tiba-tiba menangis.


Apa aku melakukan kesalahan? Tapi, kesalahan apa? Tidak mungkin Yuna ku menangis tanpa sebab! Batin Zain sembari mengelus kepala Yuna yang tertutup kain penutup kepala berwana putih.

__ADS_1


"Sayang, apa aku melakukan kesal..." Ucapan Zain tertahan di tenggorokannya saat ia menyadari Yuna membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman. Bibir mereka hanya bertabrakan sebentar.


"Zain ku tidak pernah melakukan kesalahan. Terima kasih!" Ucap Yuna sambil menghapus sudut mata dengan punggung tangannya. Sontak, ucapan Yuna membuat Zain mengerutkan keningnya.


"Terima kasih? Untuk apa?" Tanya Zain sambil melingkarkan kedua lengannya di tubuh ramping Yuna-nya. Ia bertanya namun bibirnya megukir senyuman.


"Terima kasih karena kau memilih ku menjadi bagian dari hidup Mu. Apa kau tahu?" Yuna bertanya, tangannya menangkup wajah Zain, bukan hanya itu, ia bahkan menempelkan keningnya di kening Zain. Hidung bangir mereka saling beradu.


"Aku sangat bahagia."


"Aku lebih bahagia di bandingkan dengan hari pernikahan kita. Aku tidak pernah tahu kalau kau mencintai ku melebihi dari apa pun yang ada di semesta, dan saat ini aku tahu itu."


"Sungguh, cinta ku pada mu berkali-kali lipat lebih besar di bandingkan dengan hari-hari yang telah kita lalui bersama." Aku Yuna dengan ketulusan. Ia tidak berbohong, karena itulah kebenarannya. Hati Zain menghangat, mendengar pengakuan cinta Yuna untuk kesekian kali membuatnya hilang kendali, tanpa di rencanakan ia mulai meraup bibir selembut kapas milik istri cantiknya.


Sedetik. Dua detik. Tiga detik. Bahkan hingga detik kesepuluh, kedua makhluk indah itu masih saling mencecap manisnya bibir masing-masing. Zain bahkan masih menutup kedua matanya menikmati kecupan di bibir istri cantiknya ketika Yuna menarik diri dan memundurkan kepalanya.


"Aku tidak ingin kau menyesali apa yang kita lakukan saat ini. Percayalah padaku, aku tidak akan menuntut apa pun darimu, kau cukup berada di sisi ku seumur hidup mu maka itu sudah lebih dari cukup untuk ku!" Ujar Yuna dengan lelehan air mata. Ia menangkup wajah tampan Zain dengan kedua jemarinya, melayangkan kecupan di puncak kepala Zain kemudian mengakhiri pembicaraan ini dengan pelukan hangat.

__ADS_1


Memiliki mu dan bisa menghabiskan waktu seperti ini adalah hadiah terbaik yang Allah berikan untuk ku. Terima kasih Tuhan. Terima kasih. Batin Yuna tanpa bisa menghentikan air matanya, mengingat apa yang ia temukan di kamar Zain tiga jam yang lalu membuatnya semakin mencintai pria itu sekaligus takut kehilangan Zain-nya.


...***...


__ADS_2