Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part (105)


__ADS_3

"Kenapa lama sekali!" Zain memukul dinding rumah sakit, lima puluh menit berlalu namun tak ada tanda-tanda tim dokter akan keluar dari ruang oprasi.


Iya, oprasi! Menurut perkiraan dokter kandungan yang biasa Yuna dan Zain datangi, Yuna akan melahirkan anak pertama mereka dua minggu lagi, namun rencana terkadang tak sesuai dengan kenyataan. Yuna terpaksa harus di larikan ke rumah sakit agar kondisinya tidak memburuk setelah ia mengalami peristiwa buruk satu jam yang lalu, tepatnya ia terjatuh di kamar mandi rumahnya.


Walau sudah berhati-hati, musibah tetap saja menimpa anak manusia. Karena sesungguhnya hidup itu adalah bentuk pengabdian diri pada yang Kuasa, sebesar apapun ujian yang datang harus tetap bersyukur padanya. Jika itu rasa sakit maka bersabarlah, dan jika itu kesenangan maka bersyukurlah, karena sesungguhnya semuanya hanya bentuk kasih sayang Tuhan untuk hambanya yang bernama manusia.


"Zain, bagaimana konsidi Yuna? Apa oprasinya masih lama?" Mommy yang baru saja tiba bersama Daddy terlihat khawatir, sepasang suami istri itu rencananya akan melakukan perjalanan menuju Singapura, namun semua rencana ia batalkan hanya untuk menemani Yuna. Zain yang panik saat memberikan kabar pada orang tuanya menambah ketakutan Mommy dan Daddy. Untungnya tidak ada hal yang perlu di khawatirkan lagi.


Satu jam kemudian, tim dokter mulai keluar dari ruang oprasi. Wajahnya terlihat menahan senyuman, sepertinya wanita paruh baya yang menjadi dokter favorit Yuna akan membawakan kabar bahagia.


"Dokter, bagaimana keadaan putri kami?"

__ADS_1


"Apa dia baik-baik saja? Bagaimana dengan janinnya?" Mommy mulai bertanya, ia menatap dokter paruh baya di depannya. Sungguh, Mommy terlihat ketakutan, maklum saja, ia sangat menantikan cucu pertamanya, jika terjadi hal buruk pada Yuna, itu sama saja dengan Mommy sendiri yang akan merasakan kesakitannya.


"Selamat Tuan Zain, anda mendapatkan anak perempuan." Ucap Dokter itu mengabarkan beritanya.


"Alhamdulillah." Ucap Mommy, Daddy, dan Zain bersamaan. Ben yang merupakan asisten Zain pun terlihat bahagia, entah apa yang di ucapkan pemuda itu dalam doanya, hanya dia yang berbeda ke yakinannya di tengah-tengah keluarga Lucca.


Anak perempuan yang selalu Zain harapkan akhirnya datang juga, percaya atau tidak, selama ini, walau Yuna melakukan pemeriksaan secara rutin di rumah sakit, Zain sama sekali tidak ingin dokter memberitahukan jenis kelamin anak mereka. Tahu kenapa? Karena Zain dan Yuna menantikan kehadiran anak mereka apa pun jenis kelaminnya.


"Dokter, bukankah menantu kami baik-baik saja sebelumnya? Dia bilang dia ingin melahirkan secara normal." Mommy bertanya, ia melipat kedua lengan di depan dada.


"Penyebab ibu harus melahirkan secara Caesar, sebenarnya ada banyak faktor dan salah satunya adalah masalah pada plasenta. Placenta previa terjadi ketika plasenta berada rendah di dalam rahim dan sebagian atau seluruhnya menutupi serviks. Satu dari setiap 200 wanita hamil akan mengalami plasenta previa selama trimester ketiga." Ucap dokter paruh baya itu menjelaskan.

__ADS_1


"Memasuki usia kehamilan trimester ketiga berarti waktu persalinan ibu hamil semakin dekat. Melansir WebMD, trimester ketiga merupakan akhir dari masa kehamilan. Kehamilan trimester ketiga terhitung sejak memasuki bulan ketujuh sampai bulan kesembilan atau minggu ke-28 hingga minggu ke-40." Sambung dokter paruh baya itu, Mommy yang mendengar penjelasan hanya bisa menganggukkan kepala pelan.


"Nyonya bisa menemui nona Yuna di kamar perawatannya, beliau dan bayinya juga baik-baik saja."


"Thank you, docter." Zain menangkupkan kedua tangan di depan dada, tidak ada lagi percakapan di antara mereka, setelah itu dokter itu meninggalkan Zain dan keluarganya.


"Mom, aku akan mengabari keluarga yang ada di Indonesia. Aku akan memberitahukan Mama mertua agar mereka tahu kondisi Yuna." Zain meraih hand-phone di sakunya, setelah memberi tahukan Mommy, ia langsung berjalan menuju kamar inap Yuna.


Buah hati kembang mata, cahaya nan menyejukkan berasal dari cahaya Surga, karunia terindah dari yang Kuasa sebagai bentuk karunia terbesarnya.


Cinta dalam naungan Islam, cahayanya memancar menyejukkan. Hari ini cahaya cinta itu memancar bagai sinar rembulan, bersinar terang tak terhalang awan hitam. Terima kasih pada yang Kuasa atas karunia anak manis penyejuk mata, Fatimah Az-zahra Alkea Nisa, itulah namanya, ia hadir layaknya mentari yang menghangatkan dalam kehidupanku yang di penuhi dengan rangkaian mengejutkan. Zain bersenandung di dalam hatinya, ia mempercepat langkah kakinya, berjalan menuju kamar Yuna, matanya meneteskan air mata namun bibirnya tak bisa berhenti menyunggingkan senyuman menawan, ia sangat bahagia sampai tak bisa berkata-kata lagi.

__ADS_1


...***...


__ADS_2